MENILAI ALAT PERJUANGAN MAHASISWA: AKSI DEMONSTRASI” (#mykultwitt)

Gambar

Mahasiswa sangat diandalkan sebagai garda terdepan pembela kepentingan rakyat, itu karena kekuatan mereka adalah pada nuraninya.

Kelebihan lain yang dimiliki oleh mahasiswa adalah kekritisan dan daya nalar serta kepekaannya.

Mahasiswa dianggap harus selalu menggunakan akal sehat ketika memperjuangkan kepentingan rakyat.

Salah satu sarana perjuangan mahasiswa adalah aksi demonstrasi. Aksi terkini menyikapi polemik kenaikan harga BBM dianggap telah nodai perjuangan.

Hal ini dinilai dari pendekatan-pendekatan “kekerasan” yang diperlihatkan mahasiswa dalam aksinya. Yang diwartakan secara besar-besaran oleh media.

Mari melihatnya sebisa mungkin dari posisi netral. Dan menyodorkan pertanyaan mengapa mahasiswa menempuh pendekatan kekerasan dalam aksinya?

Dalam hal substansinya, aksi demonstrasi (ex: aksi protes) sebenarnya sudah ada sejak dulu ketika masa kerajaan masih subur di Indonesia.

Di Keraton, rakyat jika sedang tidak senang dengan rajanya akan berjemur diri tanpa baju di pendopo kerajaan. Berdiam diri tanpa sepatah katapun.

Raja yang peka, akan segera menangkap maksud rakyatya tersebut. Bahwa ada yang tak beres dalam wilayah kerajaannya. Namun Sang Raja tidak akan mengusirnya.

Raja akan segera mengumpulkan para hulubalangnya. Untuk segera menyikapi pesan rakyatnya tersebut.Tak peduli hulubalangnya sedang melakukan apa.

Aksi Si Rakyat pun direspon secara bijak dan tepat oleh Sang Raja. Dengan sendirinya si rakyat pulang ke tempat tinggalnya.

Dalam masa orde baru, aksi penyikapan dalam bentuk apapun akan dianggap aksi protes dan perlawanan pada pemerintah. Segera disikapi pemerintah dengan todongan senjata dan ancaman melalui agen-agen intelijen.

Hingga fenomena keterpenjaraan aspirasi tersebut diruntuhkan oleh gerakan perlawanan jalanan yang dibangun begitu massif dan efektif (aksi 98).

Sistem pun merajut alam demokrasi. Memberikan ruang penyampaian aspirasi seluas-luasnya kepada segenap elemen masyarakat.

Penyebaran selebaran, Diskusi publik, mimbar bebas, hingga aksi unjuk rasa di jalanan, semua terakomodir.

Mengerucut pada aksi-aksi unjuk rasa jalanan dalam alam demokrasi terkini Indonesia, seberapa cepat respon Sang Raja (Presiden) dan para hulubalangnya (menteri, dkk) menyikapi?

Respon tercepat yngg didapatkn adalah pesan: “Silahkan aksi.Wajar saja. Asal lakukan dengan damai, tertib, tidak merugikan, patuhi aturan yngg berlaku, (de el el)”

Wajar. Ya…Wajar aksi jalanan tumbuh menjamur dimana-mana karena memang banyak hal yng “wajar” untuk dikritisi terhadap pemerintah.

Sayangnya, respon yang benar terhadap substansi “pesan” yang disampaikan para demonstran sangat sulit didapatkan. Sehingga demonstran terkadang “genit” dalam aksinya.

Sulit sekali mendpt respon yang sesuai, sekalipun aksi telah dilakukan dengan aksi unik atau mungkin dengan jumlah massa yang begitu besar.

Sungguh malang nasib demokrasi Indonesia. Mari tengok negara Eropa, 1-2 orang saja berdiri aksi memajang kardus berisi tulisan tuntutan atau seruan atau ajakan di tepi jalan, Anda akan segera direspon besar.

Iklim respon yang terbangun di Indonesia begitu berbeda. Pemerintah senantiasa menunggu gejolak besar (bahkan korban) untuk menyikapi pesan rakyat.

Inilah yang direspon balik oleh para demonstran. Dengan aksi unik, massa besar, tak jg direspon, maka menimbulkan gejolak pun ditempuh (dengan hati sedih).

Gayung bersambut, media sebagai sarana informasi tercepat dan efektif pun justru memburu aksi dengan kategori demikian (unik, massa, chaos).

Yang kita sayangkan, apa yang dibesarkan oleh media hanyalah kemasan aksinya saja, jarang menyentuh jauh substansi pesan yang hendak disampaikan

Aksi damai, tak dibesarkn media, tak direspon pemerintah.

Aksi unik, tak dibesarkn media, tak direspon pemerintah.

Orasi jalanan, dianggap angin lalu.

Kesabaran hilang, emosi telah tak tertahankan, pengendalian lapangan longgar > gejolak pun timbul. Bukan untuk numpang keren di media. Tapi gejolak agar diperhatikan oleh pemerintah.

Begitu sulitnya pemerintah memberikan perhatian, demonstran pun bergejolak. Gejolak yang juga menimbulkan kerugian. Semuanya agar diperhatikan pemerintah. Bukan untuk numpang keren di media.

Terhadap ini, saya harus akui secara jujur belum bisa benar-benar berposisi netral. Saya adalah mahasiswa. Mahasiswa aktivis. Penggerak demo.

Saya dan mahasiswa (aktivis) lainnya, bukan anggota DPR/D. Bukan Gubernur/Bupati/Walikota. Bukan Menteri Negara. Kami setia pada konsekuensi logis status mahasiswa.

Setia pada konsekuensi Akademis, Organisatoris, dan Sosial Politik. Semua itu bisa dibina dan dioptimalkan dengan terus bergerak.

Pergerakan tidak selalu menjanjikan perubahan, tapi tak ada perubahan tanpa diawali pergerakan. Dengan bergerak, ada proses menuju perubahan.

Bertahanlah dalam gerakmu mahasiswa (aktivis). HIDUP MAHASISWA!

#Untukmu para penerus muda, kader-kader hebat pergerakan.

Ditulis pada Opini, Uncategorized | Tinggalkan Komentar

“Ini Tentang Proses, Bukan Tujuan Akhir”

Sahabat, pernah ada seorang dekatku yang dengan penuh bijak berkata :
“Bepergian lebih baik daripada tiba di tujuan”
Lalu saya berkata, “Apa?”
Dia menambahkan :
“Proses itu terkadang lebih nikmat dibanding hasil akhir. Karena saat kita telah mencapai hasil akhir, maka yang kita kenang adalah pahit manisnya perjuangan untuk menggapai hasil yang sudah kita genggam”.
Saya pernah mengira kalau hanya ada satu jalan untuk membawamu sukses hidup di dunia.  Cukup fokus menempuh jalan itu dan abaikan jalan yang lain.
Tapi saya salah.
Bukan sukses yang kita butuhkan.
Tapi kebahagiaan yang kita butuhkan.
Dan memilih satu jalan, bukan berarti kita harus mengabaikan jalan yang lainnya.
Saya kemudian tersadar bahwa apa yang terjadi dalam hidup ini…
rintangan…
tantangan…
keterpurukan…
persahabatan…
persaudaraan…
pertikaian…
cinta…
apapun lainnya…
adalah sebuah perjalanan bukan sebuah tujuan akhir.
Saya rasa kita hanya harus percaya bahwa masa depan akan berjalan lancar selama kita punya keyakinan yang kuat dan usaha maksimal terhadap masa depan itu sendiri. Selebihnya…serahkan pada Dia Yang Maha Kuasa. Karena ada hal-hal dalam kehidupan ini yang berada di luar jangkauan kapasitas dan kuasa kita sebagai manusia.
Semua ini tentang proses.
#Adaptasi dari sepotong kalimat mutiara dalam film “Step Up 3”#
Ditulis pada Opini | Tinggalkan Komentar

Semangat Lagi Untuk Menulis…

Assalamu’alikum wr. wb….

Alhamdulillah, setelah beberapa lama merantau, akhirnya kembali lagi ke area blog. Setelah melihat isinya, haduh..ternyata sepi banget. Insya Allah momentum September 2011 kali ini menjadi titik awal kembali memupuk ketertarikan untuk menulis “iseng-iseng” di blog.

Teringat pesan salah satu dosen pengajar saya, bahwa salah satu pemegang corong opini publik adalah media. “Sarana teknologi informasi yang semakin berkembang era kini sangat berpengaruh pada wajah media. Dengan media web, blog, maupun media jejaring sosial di dunia maya, kamu bisa membuat media dunia mayamu sendiri. Entah apapun isi kontent yang ingin kamu muat (tapi dengan tetap memperhatikan norma pastinya donk..:). Dengan begitu, kamu punya “alat” untuk memuat, menampung, menampilkan segala hal yang ingin kamu keluarkan dari isi pikiran di kepalamu.
Dengan cara ini pula, kamu dapat berbagi informasi dan ilmu serta pengetahuan kepada orang lain.”

Pesan dosen saya itu kembali melecut saya untuk turut serta memanfaatkan segala fasilitas yang ada sebagai sarana penampung dan “pelampiasan” isi kepala saya. Saya terlecut untuk menulis. Banyak hal yang ingin saya ungkapkan dengan tulisan. Saya melihat, segala hal yang tabu harus diangkat ke permukaan seterang-terangnya. Salah satu cara untuk membuat sesuatu itu mendapat sorotan lebih dari publik adalah dengan memuatnya melalui tulisan.

Dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim,…
Semoga semangat menulis dapat kembali terpelihara.
Semangat mengirim tulisan ke media-media kembali bergulir dan tak meredup.
Semangat menulis di buku harian kembali teragendakan.
Semoga blog ini tak lagi menganggur.
Semangat menabung selembar demi selembar catatan untuk bahan penyusunan sebuah buku bisa terwujud…Amin…

Senin, 27 September 2011
Pukul 00.15 Wite
Sekretariat Bem Unmul, Lt 2 Ged. Student Center Unmul.

Ditulis pada Opini | 1 Komentar

“Cerita Lain dari Banjir Kota Tepian, Samarinda”

Saya ingin berbagi cerita sedikit tentang kota Samarinda. Sampai saat ini, kota Samarinda masih berstatus ibukota provinsi Kalimantan Timur. Kota ini identik dengan cuaca panas. Itulah kesan awal yang saya tangkap saat kali pertama menginjakkan kaki di kota ini tiga tahun yang lalu. Tidak heran karena letaknya yang tak begitu jauh dari garis khatulistiwa jika dilihat dalam peta.

Kota ini juga berjuluk Kota Tepian. Saya belum mendapat filosofi dasar dari para “ahlinya” hingga kota ini mendapat julukan keren itu. Tapi kesimpulan saya saat ini, mungkin karena kota ini letaknya yang berada di tepian Sungai Mahakam. Sungai yang tercatat sebagai sungai terlebar di Indonesia. Bagi masyarakat sekitar, sungai ini juga menyisakan cerita tersendiri : cerita misteri nan angker. Ingin tahu mengapa dan seperti apa ? Silahkan berkunjung ke Samarinda.

Kesan Samarinda kota yang panas tak bertahan begitu lama. Setahun di kota ini saya mendapat kesan baru. Kota ini identik dengan cuaca yang tidak jelas. Cuaca ekstrem. Itulah sebutan saya untuk cuaca Samarinda. Terkadang di tengah terik matahari, tanpa permisi tiba-tiba turun hujan deras. Warga pendatang yang belum beradaptasi total dengan cuaca itu, harus siap-siap mendatangi apotek terdekat untuk membeli obat demam atau flu.

Fenomena alam ini jadi momok bagi warga Samarinda. Aktifitas rutin warga jadi terganggu, acara yang sudah terjadwal harus batal karena hujan, dan dampak paling tak disukai dari hujan ketika mengguyur adalah banjir!

Itulah gejala alam yang menggoroti Samarinda bertahun-tahun terakhir. Paling mengherankan bagi saya di masa awal, hujan yang turun terkadang tak berlangsung lama. Hujan deras hanya butuh waktu kurang dari dua jam dan binggooo….banjir hampir terjadi di seluruh wilayah Samarinda. Penyebabnya beragam. Mulai dari tata ruang kota yang semrawut, sistem drainase yang tak berfungsi optimal, pendangkalan Sungai Mahakam dan Sungai Karang Mumus yang berfungsi sebagai aliran pembuangan genangan air banjir, kesadaran warga untuk menjaga kebersihan sangat rendah, pelaksanaan perda yang tak tegas, dan terparah karena kota ini telah dikelilingi oleh aktifitas tambang!

Terkadang di beberapa kasus banjir, wilayah yang berdekatan dengan lokasi tambang mendapat jatah ekstra yaitu banjir lumpur. Topik banjir menjadi salah satu topik pembicaraan teratas dalam deretan “tangga” problem kota Samarinda. Pada moment tertentu, topik banjir menjadi objek jualan andalan para politikus untuk menarik simpati dan dukungan warga.

Tapi di sini saya tak hendak bercerita tentang peliknya penanganan banjir di kota ini. Saya ingin berbagi kesan lain saat banjir menggenangi Samarinda. Lewat jepretan kamera saku yang belakangan sering terbawa olehku, beragam pemandangan banjir berhasil kutangkap.

Seperti banjir yang terjadi pada hari Minggu sore yang lalu. Tepatnya tanggal 10 Juli 2011. Sama dengan banjir-banjir sebelumnya, kali ini juga diakibatkan hujan deras yang mengguyur Samarinda hanya sekitar satu jam setengah. Hujan yang turun bersamaan dengan kumandang adzan sholat Ashar sore itu memang terkesan “angker”. Bagaimana tidak, selain deras, turunnya juga disertai petir dan guntur bersahutan serta angin kencang.

Saat hujan terjadi, saya dan teman kelompok KKN lainnya sedang sholat berjamaah bersama warga di Masjid Daarul Falihin, Kompleks Perumahan Batu Alam Permai, Juanda. Kebetulan lokasi posko KKN kami berada di kompleks perumahan elit ini. Selesai sholat ashar, hujan semakin mengamuk. Karuan saja kami tetap berteduh di masjid. Singkat cerita, semua pada ketiduran…lelah!


(Gambar 1 : Mesjid Daarul Falihin, nampak dari sisi kanan masjid)

Sekitar pukul lima lewat tiga puluh menit, hujan mulai reda. Kami kembali ke posko. Seorang teman usul langsung balik saja ke kampus. Sebut saja namanya Arief. Tapi oleh teman yang lain, Iwan, menyarankan agar ditunda dulu.

“Pulang yuk…udah gak ada kerjaan juga,” ajak si Arif.
“Entar habis magrib saja, jam segini biasanya jalan macet, belum lagi habis hujan deras, pasti banjir.” timpal Iwan. Kayaknya si Iwan ini sudah hafal dengan keadaan Samarinda.

Tapi si Arif tetap ngotot untuk pulang. Karena Arif tak membawa motor, dia dibonceng Iwan, Iwan akhirnya mengiyakan. Aneh mereka ini. Siapa yang ngikut dibonceng, siapa yang ngotot mengatur. Alhasil mereka pulang duluan. Tinggallah saya di posko KKN bersama seorang teman, Adit, kebetulan dia tuan rumah posko. Karena cewek-ceweknya juga sudah ikut pulang duluan.

Menjelang jam enam saya putuskan untuk ikut pulang lebih awal. Menyusuri Jalan Juanda 7, wow…benar saja, separuh jalan sudah tergenang banjir. Tingginya mencapai lutut orang dewasa. Kali ini saya beranikan diri untuk menerobos banjir. Alhamdulillah sampai di ujung jalan motor saya selamat tanpa mogok. Tapi, ketegangan baru saja dimulai. Kemacetan panjang terjadi di sepanjang Juanda 8. Meskipun ketinggian air di jalan ini tak setinggi banjir di Juanda 7.

Sudah terlanjur ikut arus, pantang untuk kembali. Terpaksa saya ikut antrian yang bergerak merangkat pelan itu. Pengendara motor harus ekstra hati-hati. Salah sedikit mengendalikan arah motor, bisa langsung nyemplung ke got di kiri-kanan jalan. 15 menit berjalan, tak ada tanda-tanda kemacetan itu akan berkurang. Malah semakin menjadi-jadi. Dari titik awal saya hanya berpindah tak lebih dari 20 meter. Saya putuskan untuk berhenti memarkir motor bersama beberapa pengendara motor lainnya di sebuah pekarangan rumah warga. Kebetulan, pekarangan rumah warga itu agak lebih tinggi dari badan jalan.

Tak berselang lama, saya menerima sms dari Iwan.
“Akh…jalanan banjirr,” isi sms Iwan.
“Tauu…nie juga lagi terperangkap akh,” balasku. “Dimana? motor mogok?” tanya dia lagi.
“Hehe…Alhamdulillah belum mogok, di Juanda 8,” balasku.
“Syukurlah, jangan sampe mogok ya. Tadi motor teman ada yg mogok di lampu merah Juanda,” balasan Iwan.

Pengendara lain yang nampak mulai frustasi mencoba mencari jalur alternatif lain. Tapi hasilnya nihil. Mereka kembali lagi ke posisi awal. Nampaknya di jalur lain keadaannya juga sama. Dari lokasi itu saya sempatkan untuk mengambil gambar kemacetan di tengah banjir Juanda 8.


(Gambar 2 : Banjir dan kemacetan di sepanjang Jalan Juanda 8)

Tak lama kemudian adzan magrib berkumandang. Saya perkirakan jika ikut antrian panjang kendaraan ini, saya mungkin belum sampai ke rumah hingga masuk waktu sholat isya. Belum lagi ancaman motor mogok di tengah jalan. Sedangkan mesjid terdekat dari posisi itu adanya di Juanda 7. Saya putuskan untuk memutar balik arah ke Juanda 7. Sebelumnya kan sudah berhasil lolos tanpa mogok. Hehe.

Selesai sholat magrib berjama’ah dengan warga, saya istirahat sekitar setengah jam. Hitung-hitung menunggu banjir surut dan kemacetan berkurang. Kembali ke Juanda 8, ups…perhitungan saya salah, jumlah kendaraan malah semakin memenuhi ruas jalan. Saya putuskan untuk tetap mengikuti antrian itu. Target lokasi terdekat saya adalah Kompleks Juanda Plaza. Itu lokasi aman bebas banjir.

Setelah bersabar “merangkak” bersama pengendara lain, akhirnya sampai juga di titik tujuan, Juanda Plaza. Di lokasi itu saya putuskan untuk beristirahat lebih lama. Kompleks Junda Plaza terhubung langsung ke Jalan Juanda utama yang juga dilanda banjir. Nampak begitu jelas antrian yang lebih parah panjangnya.

Setelah memarkir motor di lokasi teraman, saya lalu bergerilya untuk memotret berbagai moment di lokasi itu.


(Gambar 4 : Banjir menggenangi Jalan Juanda, depan Kompleks Juanda Plaza)

Jalan Juanda adalah salah satu titik langganan banjir hujan. Titik lainnya yaitu Jalan Sutomo, Simpang Vorvoo (Simpang Mall Lembuswana), Jalan P. Antasari, Jalan Banggeris, Simpang Empat Sempaja, Jalan Bengkuring, Jalan Kusuma Bangsa, . . . .

Saat itu jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Tapi kemacetan belum menunjukkan tanda-tanda akan berkurang.
“Kendaraan sebanyak ini darimana datangnya? Tak kusangka kendaraan di Samarinda sudah bisa membuat kemacetan seperti ini,” celetuk seorang warga di samping saya yang ikut menyaksikan kemacetan itu.
“Datang dari dealernya masing-masinglah…masa dari langit…haha,” timpal seorang warga disebelahnya. Timpalan yang membuat saya ikut tertawa.

Di lokasi itu terdapat simpang jalan yang menghubungkan jalan Juanda utama dengan Juanda 7. Seperti nampak pada Gambar 5 dan 6, titik itu menjadi salah satu biang kemacetan. Itu sebab tak ada polisi lalu lintas yang mengatur jalannya kendaraan. (Ya iyalah tak ada, mereka juga kan terjebak macet, atau mungkin sudah mogok motornya di tengah jalan). Tak satu pun juga warga yang berinisiatif untuk menggantikan peran polisi lalu lintas saat itu. Termasuk saya sendiri. (Sebenarnya pengen sih, tapi kalau saya yang turun tangan, yang jeprat-jepret siapa donk? hehe…)

(Gambar 5 : Kemacetan di simpang jalan Juanda - Juanda 8).
(Gambar 5 : Kemacetan di simpang jalan Juanda – Juanda 8).

(Gambar 6 : Kemacetan di simpang jalan Juanda utama – Juanda 8).

Penasaran dengan kendaraan yang gagal lolos menerjang banjir? Jangan kuatir, saya berhasil menangkap beberapa gambar pengendara yang terpaksa mendorong motornya yang mogok di tengah jalan. Seperti pada Gambar 7, 8, dan 9 di bawah ini.

(Gambar 7 : Seorang pengedara motor terpaksa mendorong motornya yang mogok di tengah banjir)

(Gambar 7 : Seorang pengedara motor terpaksa mendorong motornya yang mogok di tengah banjir).

(Gambar 8 : Bapak ini akhirnya sampai juga di tempat yang airnya lebih dangkal)

Gambar 8 : Bapak ini akhirnya sampai juga di tempat yang airnya lebih dangkal).

(Gambar 9 : Pengendara satu ini pun turut jadi korban banjir)

(Gambar 9 : Pengendara satu ini pun turut jadi korban banjir).

Motor para pengendara ini mogok tidak hanya karena mesin motornya terendam air, tetapi ada juga yang mogok karena kehabisan bahan bakar di tengah jalan. Itu karena panjangnya antrian kemacetan. Musibah bagi pengendara jalan itu menjadi berkah bagi para penjual bensin eceran yang berjejer rapi di sepanjang jalan. Beruntung harga jual ecerannya masih normal.


(Gambar 10 : Beberapa pengendara motor memilih untuk beristirahat sejenak. Entah karena kelelahan, takut mogok, atau mengatur strategi menembus banjir dan kemacetan. hehe)

Bagi banyak orang, banjir adalah musibah yang menjadi kendala untuk beraktifitas. Tapi tidak bagi para penjual makanan di Kompleks Juanda Plaza. Meskipun banjir melanda, usaha mencari nafkah hidup tetap mereka jalankan. Meskipun harus berjualan di atas air (Seperti nampak pada Gambar 11). Saya pun sempat mewawancarai salah satu dari mereka. Nama penjual gorengan itu adalah Sugeng.

“Permisi Pak, biar banjir gini jualannya tetap buka ya?” tanyaku.
“Iya, Mas. Airnya kan belum terlalu tinggi. Mau beli?” ucap beliau.
“Salut Pak. Boleh. Pisang goreng sama tahu isinya tiga ribu Pak yah. Gak takut gerobak Bapak terbalik diterjang gelombang air kalau mobil besar lewat?” saya kembali bertanya.
“Kaki-kakinya udah dipasang pengaman di bawahnya. Kalau banjirnya sampe lewat lutut, nah…baru kami gak berani buka gerobak, Mas. Ini gorengannya.” jawab beliau sambil menyodorkan pesanan saya.
“Oh begitu. Siip…moga jualan Bapak laris. Ini duitnya. Makasih Pak ya.” ucapku.

Luar biasa perjuangan Anda Pak.


(Gambar 11 : Banjir melanda, jualan tetap buka, demi nafkah anak istri di rumah)

(Gambar 12 : Salah satu gerobak penjual makanan tetap beroperasi di tepi jalan Juanda yang sedang dilanda banjir).


(Gambar 13 : Nampak barisan PKL berjejer rapi di pinggiran depan Kompleks Juanda Plaza. Mereka tetap diizinkan beroperasi oleh pengelola setempat karena mereka mampu menjaga kebersihan lingkungan tempat mereka berjualan. Dan pastinya patuh nyetor iuran tempat).

Sudah hampir satu jam saya berada di kompleks itu. Tapi kemacetan belum juga berkurang. Perut saya mulai meminta jatah lagi. Padahal tadi baru saja diisi dengan gorengan Pak Sugeng. Saya memang cepat merasa lapar. Tapi heran…gak gemuk-gemuk juga. Hehe…Saya putuskan kembali membeli makanan jajanan. Pilihan saya jatuh ke kue terang bulan rasa cokelat susu. (Maaf jika membuat Anda terpaksa menelan rasa).

(Gambar 14 : Sekotak kue terang bulan rasa cokelat susu menjadi pengsisi perut saya malam itu)

Pukul 20.30 saya putuskan untuk bergerak ke Simpang Vorvoo depan Mall Lembuswana. Di sana biasanya menjadi salah satu titik antrian panjang jika banjir terjadi. Menyusuri Jalan Juanda, saya memilih berada di jalur kanan badan jalan. Airnya lumayan lebih dangkal di banding sisi kiri.

Tak berselang lama, sampai juga di daerah Vorvoo. Saya memarkir motor di pos pangkalan ojek Vorvoo. Terlihat sangat sepi, hanya tersisa satu motor terparkir tanpa pemiliknya. Maklum, pos itu sudah terbenam air setinggi betis orang dewasa. Ternyata para Ojekers Vorvoo tak libur malam itu. Hanya berpindah pangkalan untuk sementara waktu. Mereka memilih nongkrong di atas trotoar tak jauh dari Pos Polisi Simpang Vorvoo. Seperti nampak pada Gambar 15.

(Gambar 15 : Pengendara ini bukan korban motor mogok akibat banjir. Mereka Ojekers Vorvoo yang tetap narik sekalipun banjir melanda jalanan). Tariiikk Maangg….!!

Banjir itu tak pandang bulu kelas atau pekerjaan warga. Motor Pak Pulisi pun turut jadi korban banjir. Hehe…

(Gambar 16 : Salah satu petugas polisi nampak sedang berusaha menyalakan mesin motornya yang mogok akibat banjir)

Suasana Simpang Vorvoo depan Mall Lembuswana memang menjadi salah satu pusat pertemuan kepadatan arus lalu lintas. Alhasil jika banjir, titik ini menjadi pusat keramaian antrian. Seperti nampak pada Gambar 17. Namun banjir kali ini belum sedalam banjir pada 2007 silam. (Kok tahu? Hasil penelusuran di koran lokal…)

(Gambar 17 : Nampak warga mencoba melintasi jalan yang sedang tergenang banjir di Simpang Mall Lembuswana).

Untuk mengambil gambar ini saya bela-belain memanjat pot bunga raksasa di taman tepat di tepi jalan loh..Sebenarnya sempat terbersit keinginan untuk mengambil gambar dari atas menara Masjid Al Ma’ruf di seberang jalan. Tapi nyali saya Alhamdulillah segera menciut. Kalau ada insiden jatuh, kan gak lucu. Masak saya yang harus jadi headline media. Beritanya buruk pula.

Cerita lain dari banjir, tak selalu menghadirkan derita. Buktinya, ada saja warga yang mendapat berkah lebih dengan datangnya banjir. Seperti nampak pada Gambar 18. Warga ini memanfaatkan kelebihan debit air di Volder Vorvoo untuk menangkap ikan. Caranya pun cukup unik bagi saya. Bukan dengan pancing biasa. Tapi dengan pancing pukat. Sekali angkat, bisa langsung dapat ikan lebih dari satu ekor. Sekali angkat pula, kadang tak dapat satu ekor pun. Hehe…keren.

(Gambar 18 : Beberapa warga yang memanfaatkan luapan banjir volder Vorvoo untuk menangkap ikan dengan pancing pukat)

Volder Vorvoo adalah salah satu proyek penanganan banjir wilayah Vorvoo. Kolam volder ini dibuat untuk difungsikan sebagai kolam penampungan air jika hujan mengguyur Samarinda khususnya daerah Vorvoo. Namun bukannya menjadi kolam penanganan banjir, malah menjadi kolam sumber banjir. Mengapa tidak? Kolam ini tak terawat sama sekali. Kolam ini sudah mengalami pendangkalan parah hingga tak mampu lagi menampung debit air dalam jumlah besar.

Menurut Kepala Dinas Marga & Pengairan Kota Samarinda, Dadang Airlangga, pihaknya telah menyiapkan desain program penanganan banjir, seperti di Simpang Vorvoo sejak tahun 2010 namun tak bisa terealisasi akibat APBD kota Samarinda sedang defisit. Desain program itu salah satunya berupa pengerukan Volder Vorvoo, seperti diberitakan di koran Tribun Kaltim, edisi Kamis, 14 Juli 2011, halaman Tribun Samarinda. Semoga saja di APBD 2011 dapat terealisasi. Amin. (Gambar 19 : Hasil ikan tangkapan warga dengan pancing pukat di Volder Vorvoo).

Setelah puas mengambil gambar di sekitar Vorvoo, saya putuskan untuk berpindah lokasi. Pilihan selanjutnya adalah Jalan Pramuka. Salah satu titik langganan banjir jika hujan deras terjadi. Kebetulan saya tinggal di area Pramuka juga, jadi sekalian pulang. Saya memilih untuk masuk ke jalan Pramuka dari arah jalan M. Yamin. Ternyata pilihan yang salah. Banjirnya gede . Tak berani menorobos ah. Saya terpaksa memutar jalur masuk lewat pintu Gerbang Utama kampus Universitas Mulawarman (Unmul). Jalan Pramuka terhubung langsung dengan pintu Gerbang Belakang kampus Unmul dan Jalan Perjuangan. Malam itu kampus nampak sepi sekali. Dinginnya cuaca menghadirkan aura angker. Hehe.

Tiba di pintu belakang kampus Unmul, benar saja, banjir menggenangi simpang tiga Gerbang Belakang Unmul – Jalan Pramuka – Jalan Perjuangan. Seperti nampak pada Gambar 20.

(Gambar 20 : Banjir menggenangi simpang tiga Pintu Gerbang Belakang Unmul – Jalan Pramuka – Jalan Perjuangan. Pada gambar : ke arah kiri menuju Jalan Pramuka. Lurus ke depan menuju Jalan Perjuangan. Ke arah belakang (arah depan mobil) menuju kampus Unmul).

(Gambar 21 : Jalan Pramuka yang sudah menjadi lautan banjir (lebay mode on). Nampak seorang pengendara wanita sedang berhenti di tengah jalan. Kayaknya bimbang tuh. “Ayo Mbak, berani gak menerobos? Hehe…”

(Gambar 22 : Nampak pintu akses gerbang belakang kampus Unmul juga ikut tergenang banjir)

Setelah mengambil beberapa gambar, saya pikir waktunya untuk pulang. Ups…mesin motor saya tak bisa dinyalakan. Saya kaget bukan main. Ini bukan waktu yang tepat untuk mogok. Setelah periksa lebih teliti, ternyata bensinnya habis. Alhamdulillah, tak jauh dari situ ada warung yang juga menjual bensin eceran. Terbebaslah saya dari adegan mendorong motor.

Saya pun pulang ke rumah lewat jalur belakang pramuka 6 yang biasanya masih bisa dilewati motor. Tapi malam ini saya bernasib sial. Jalan Pramuka 6 keburu dibokir oleh warga. Bukan karena keegoisan warga, tapi demi keselamatan pengendara jalan. Karena menurut warga, di beberapa titik banjirnya cukup dalam. Riskan jika dipaksakan untuk dilewati motor. Benar saja, jalan pramuka 6 di beberapa titik memang agak rendah.

(Gambar 23 : Demi keselamatan pengendara itu sendiri, warga menutup Jalan Pramuka 6 dengan kursi dan besi sehingga tidak dapat dilewati kecuali dengan berjalan kaki).

Apes dah nasib. Padahal jarak kost saya tinggal dua blok saja dari lokasi itu. Tiba-tiba hape saya berdering. Ardan, teman KKN menelpon.

“Asslamu’alaikum,” salam di seberang telpon.
“Wa’alaikum salam,” jawabku. “Antum dimana akh?” tanya dia.
“Di area Pramuka, aya naon?” tanyaku balik.
“Este emje-an yuk…di Juanda 6, disini ikhwan KKN kita lengkap nih,” jawabnya. “Hee…Emang gak banjir disitu?” tanyaku keheranan.
“Nggak, Juanda udah mulai surut. Kesini ya, ditunggu.” ucapnya.
“Baeklah…tapi awas loh ya kalau sampe motor saya mogok, ta jotos memang!” jawabku. “Hehe…siip…kabari kalau mogok, Assalamu’alaikum” ucapnya.

(Gambar 24 : Sekumpulan anak muda menikmati aneka minuman hangat di lapak PKL Juanda 6). Uniform Atasan sih keren, almamater kebanggaan terpasang dengan rapi. Bawahan? Haduh…korban nyeker kebanjiran. Hehe..

(Gambar 24 : Sekumpulan anak muda menikmati aneka minuman hangat di lapak PKL Juanda 6). Tetap kompak di dalam dan di luar jam kerja KKN. “Tim 135, Solid!”

(Gambar 25 : Sekolompok peserta KKN membantu warga mengangkat motor yang terjebak banjir). Proker dadakan. Jangan lupa dicantumkan dalam laporan kerja ke pihak LPPM. Haha…nilai A menanti Anda.

(Gambar 26 : Peserta KKN 135, memanfaatkan genangan banjir sebagai tempat cuci motor gratis). Cerdik memanfaatkan situasi.

(Gambar 27 : Jika ada sekumpulan anak muda yang berwisata di tengah banjir kota, salah satunya adalah mereka. Termasuk penulis)

Penasaran seperti apa awan tebal yang menyelimuti langit kota Samarinda sebelum hujan turun? Senin sore (11/07/2011), saya sempat mengambil gambar langit kota Samarinda yang sedang dipenuhi awan hitam tebal. Pertanda akan turun hujan sangat deras. Seperti nampak pada Gambar 28.

(Gambar 28 : Awan hitam tebal menyelimuti langit kota Samarinda. Pertanda hujan deras akan turun).

Gambar ini saya ambil dari jalan Pramuka. Saat itu saya sedang menikmati hidangan lezat Nasi Soto di sebuah warung makan. Sekitar pukul 17.00, langit tiba-tiba saja ditutupi awan hitam disertai angin kencang. Masih trauma dengan banjir besar pada hari Minggu sebelumnya, warga pun nampak panik kocar kacir mengamankan barang-barang rumah yang terancam genangan air. Seorang ibu dari sebelah warung berkomentar. “Waduh…belum selesai bersih-bersih rumah mau hujan deras lagi. Tanda-tanda banjir nih,” tuturnya agak sedikit kesal.

Saya hanya bisa menghela nafas mendengar tuturan ibu itu. Menurut kalian awan itu akan menghadirkan banjir lebih besar dari hari sebelumnya? Jawabannya : Tidak! Padahal banjir sebelumnya tak diawali dengan awan hitam tebal seperti pada gambar. Tapi langit yang cerah sanggup menurunkan air lebih banyak. Saya pun keheranan dengan fenomena itu. Bisa jadi itu adalah efek pemanasan global yang semakin parah. Tapi kesimpulan tertinggi lainnya, itulah Kebesaran dan Kekuasaan Tuhan. Allahu Akbar…!

Itulah cerita dari sisi lain banjir Kota Tepian, Samarinda. Bagi Anda yang belum pernah berkunjung ke Samarinda, jangan ragu untuk berkunjung ke kota ini. Bagi Anda yang sudah berencana akan berkunjung ke kota ini, jangan pernah berpikir untuk menunda atau membatalkan kunjungan Anda. Tidak hanya banjir, banyak cerita lain yang dapat Anda rasakan dari kota ini. Setiap daerah memberikan kesan tersendiri bukan? Itulah yang membedakan kota atau daerah yang satu dengan yang lainnya.

Bagi kalian para pelajar yang hendak melanjutkan jenjang studi di Samarinda, jangan ragu atau bimbang. Banjir tak kan jadi kendala kalian untuk menuntut ilmu. Banjir di kota ini akan menghadirkan kisah unik tersendiri bagi kalian.

So, welcome to Samarinda. Ini pengalamanku. Selamat merangkai cerita dan pengalamanmu sendiri. Janga lupa berbagi ya.
“Semangat Berbagi & Menginspirasi”

(Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca catatan ini)

Penulis : Surahman
Tukang Poto-Poto : Chiko
Kamera : Camera Pocket, Canon PowerShot A4BO, 10.0 Megapixels.
Model : Ardan, Adit, Arif, Iwan.
Lokasi : Jalan Juanda, Simpang Mall Lembuswana, Jalan Pramuka.

Ditulis pada My Story | 3 Komentar

“Temukanlah Pengorbanan Jujur Itu dalam Tidur Mereka”

Sahabat, Pernahkah Engkau Menatap Orang-Orang Terdekatmu  Saat Ia Sedang Tidur ?

Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur.

Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang. Seorang bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur  tak akan tampak wajah bengisnya.

Perhatikanlah ibumu saat beliau sedang tidur. Hmm…kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai- belai tubuh bayi kita itu kini kasar karena tempaan hidup yang keras. Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita. Orang inilah yang rela menahan rasa lapar di perutnya demi kita dapat memakan jatah makanannya agar kita berhenti menangis karena kelaparan. Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomeli kita semata-mata karena rasa kasih dan sayang. Sayang sekali, sayangnya itu sering kita salah artikan.

Di kesempatan lain, perhatikanlah ayahmu saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah, rela mengenakan pakaian lusuh, demi kita mengenakan pakaian terbaik hasil jerih payahnya.

Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu… Ayah, Ibu, Kakak, Adik, Sahabat, Semuanya…

Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya. Rasakanlah energi cinta yang mengalir secara perlahan saat menatap wajah lugu yang terlelap itu.

Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda.

Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalahpahaman kecil yang entah kenapa selalu saja nampak besar. Secara ajaib Allah mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur.

Ingatlah, ketika saudaramu, entah itu kakak atau adikmu, yang dengan kebesaran hatinya ia rela tidak dipenuhi kebutuhannya, agar biaya kuliahmu dapat terpenuhi (yang ini jarang-jarang nih…hehe).

Ingatlah, ketika sahabatmu dengan sabar mendengarkan keluh kesahmu. Ataukah ketika dengan tulus ia membagi sepiring indomie terakhirnya untuk kalian santap bersama, demi menyambung hidup di pagi hari kalian (sahabat, ini pengalaman nyata!).

Subhanallah….Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkap segalanya. Tanpa kata, tanpa suara dia berkata “betapa lelahnya aku hari ini”. Dan penyebab lelah itu? Untuk siapa dia berlelah-lelah? Tak lain adalah kita sahabatku.

Suami yang bekerja keras mencari nafkah, istri yang bekerja keras mengurus dan mendidik anak, juga seisi rumah. Kakak, adik, dan sahabat yang telah melewatkan hari-hari suka dan duka bersama kita.

Resapilah segala kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka. Rasakanlah betapa kebahagiaan dan keharuan seketika membuncah jika mengingat itu semua.

Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok hari mereka “orang-orang terkasih itu” tak lagi membuka matanya, selamanya sahabat…

Mari ingat kembali, kapan terakhir kali kita teringat untuk memperhatikan mereka. Untuk sekedar menanyakan kabar mereka. Yaitu orang-orang terdekat, tercinta dan yang terpenting adalah, yang telah berjasa besar sekali membesarkan dan berkorban demi kita, sejak kita masih bayi hingga kini kita telah beranjak dewasa.

++++++++++++

Ditulis pada My Story | Tinggalkan Komentar

Catatan Tahun ke – 21

Sungguh, waktu terasa begitu cepat berlalu. Saya sekarang sudah berusia kepala dua. Padahal rasanya belum lama saya melewatkan masa kanak-kanak di kampung. Saya masih teringat dengan jelas, ketika saya dan sohib-sohib kecil asyik mandi beramai-ramai di sungai dekat rumah. Bertengkar dan berkelahi ketika ribut bermain bola di lapangan dekat SD kami. Di beberapa kesempatan mewakili sekolah untuk lomba cedas cermat. Sekolah dasar saya saat itu masih bernama SDN 451 Kuau. Teringat juga, ketika mewakili forum remaja mesjid dekat rumah untuk lomba keagamaan. Berkeliling kampung membangunkan penduduk untuk santap sahur di bulan ramadhan. Berlarian ketika melewati area kuburan pun jadi memori ingatan yang tak kan terlupakan.

 

Masa SMP juga merekam cerita tersendiri. Ketika harus rela berangkat sekolah dengan bergelantungan di mobil truk demi menghemat uang jajan. Ribut di perpustakaan sekolah memperebutkan sebuah buku yang stoknya sangat terbatas. Memainkan komputer di laboratorium komputer sekolah hingga rusak (maaf Pak Guru). Memanjat pagar belakang sekolah saat pintu gerbang sudah tertutup. Dilanjutkan aksi “kucing-kucingan” dengan satpam sekolah agar tak “disidang” di ruang BK atau dijemur di lapangan basket sekolah. Hanya bisa terseyum ketika mengingat semua itu. Terakhir kali berkunjung ke sekolah itu, SMPN 1 Masamba, secara fisik telah banyak mengalami perkembangan dan kemajuan. Yang saya dengar mantan sekolah saya itu menjadi salah satu sekolah yang berstatus RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional).

 

Saya masih teringat, saat itu saya  tergolong siswa yang pendiam, kutu buku, jago ilmu eksakta (pernah jadi juara olimpiade daerah juga soalnya..hehe), tapi begitu hobi  “mengakali” peraturan sekolah. Teringat juga, saat membuat gempar dan berang warga se-antero sekolah (bahkan se-kota saat itu) ketika membuat kehebohan di masa akhir sekolah. Hingga tragedi pengeroyokan oleh sekolompok siswa saat itu. Lalu ditutup dengan kisah tertangkap oleh polisi akibat aksi ugal-ugalan dan corat-coret usai ujian akhir SMP di jalanan kota. Itu pengalaman perdana diangkut dengan mobil truk Brimob (buat adik-adik, jangan ditiru yah). Haduh…mengakhiri masa SMP dengan catatan kelabu yang mengesankan (hingga tak kan bisa terlupakan).

 

Mejalani masa SMA, kecenderungan aktivitas saya selama tiga tahun periode “putih abu-abu” itu sedikit banyak mengalami pergeseran. Ketika SD hingga SMP menjadi siswa study oriented only, semasa SMA kegandrungan akan organisasi dan kegiatan ekstrkurikuler mulai mengisi keseharian. Dengan tantangan tetap mempertahankan prestasi akademik.

 

Berangkat pagi pulang sore bahkan malam hari menjadi keseharian selama masa itu. Beruntung orang tua mendukung penuh aktivitas saya tanpa meniadakan pengawasan dan kontrol mereka. Pernah saya mengecewakan mereka dengan menolak tawaran seleksi masuk ke Kelas (Sekolah) Unggulan Pemerintah Daerah. Padahal jika tergabung dalam kelas itu, akan menjadi sebuah kebanggaan besar. Kelas itu diisi oleh siswa terpilih dari seluruh SMA di kabupaten daerah saya. Fasilitas ruang belajar lebih komplit dari kelas reguler lainnya. Biaya sekolah ditanggung oleh pemerintah daerah setempat. Para siswanya digodok untuk mendalami disiplin ilmu yang diajarkan. Sebuah peluang menjanjikan untuk mendalami ilmu astronomi yang cukup saya gandrungi saat itu.

 

Mereka bertambah kecewa ketika seorang guru datang ke rumah untuk meminta saya mengikuti seleksi itu. Tapi saya tetap menolaknya dengan halus. Sungguh menghadirkan banyak pertanyaan saat itu. Di saat mayoritas siswa lain berlomba untuk mendapatkan kesempatan ikut seleksi, saya justru menolak untuk mengikutiya (padahal belum tentu lulus juga..hehe).

 

Salah satu alasan mendasar saya menolak bergabung ke kelas itu karena keterbatasan waktu untuk menempa diri di bidang keorganisasian dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Kelas itu adalah kelas khusus dengan jadwal belajar dari pagi hingga sore hari. Sungguh begitu padat. Saya tak melihat peluang untuk mengembangkan kemampuan saya di bidang lain. Faktor lainnya, saat itu visi dan misi saya menjalani sekolah telah mengalami pergeseran signifikan. Saat itu saya berfikir bahwa nilai di atas raport sekolah bukanlah satu-satunya penentu utama bekal untuk menjalani hidup. Terlebih ketika kita berbicara tentang kesuksesan hidup masa depan. Pemahaman itulah yang saya pegang saat itu. Buat kawan-kawan saya yang terpilih menjadi siswa kelas  unggulan saat itu, dengan penuh rasa hormat, saya tetap angkat topi buat kalian.

 

Saya berjanji kepada bapak dan ibu serta guru di sekolah bahwa saya tidak akan mengecewakan mereka. Aktif di organisasi dengan tetap menyandang prestasi akademik yang memuaskan menjadi visi saya saat itu. Alhasil, sepanjang masa SMA mengaktifkan diri di OSIS SMAN 1 Masamba menjabat Ketua Umum selama satu periode, ROHIS SMA dan kegiatan kepemudaan lintas daerah. Sekolah menjadi rumah kedua mendampingi penjaga sekolah..hehe, suka duka aktivis pun melekat.

 

Beriringan dengan segala kesibukan itu pula prestasi saya tidak pernah terlempar dari lima besar dari tahun pertama hingga tahun terakhir. Di acara perpisahan kelas tiga pun terpilih menjadi siswa teladan tahun itu. Sertifikat dan tropi siswa teladan saya terima langsung di dampingi orang tua saya tercinta. Ibu meneteskan air mata. Bapak yang berkarakter tegar pun kedua matanya nampak berkaca-kaca. Mereka memeluk saya. Saat itu Ibu berbisik, “Kamu membuktikan janjimu, Nak. Kami bangga padamu”. “Semua ini berkat doa dan dukungan Ibu sama Bapak,” jawab saya ketika itu.

 

Masa SMA penuh kisah dan cerita tak terlupakan. Tidak salah jika mereka yang baru saja selesai menempuh masa SMA mengatakan masa putih abu-abu itu masa paling indah. Saya rasa itu wajar. Begitu banyak kisah dan cerita yang berkesan terekam di memori. Suka, duka, pahit, manis, banyak terjadi di masa itu. Persahabatan, permusuhan, pertengkaran, percintaan….ohh. Tak heran jika banyak buku tebal isinya berkisah cerita masa SMA. (Sahabat-sahabatku putih abu-abu, diri ini rindu juga dengan kalian semua).

 

Kini tak terasa semua itu terlewati. Sekarang saya duduk di semester enam sebuah perguruan tinggi. Universitas Mulawarman, satu-satunya perguruan tinggi negeri dan terbesar di salah satu provinsi kaya sumber daya alam di Indonesia, Kalimantan Timur. Letaknya di ibukota provinsi Kalimantan Timur, Samarinda. Julukannya Kota Tepian. Tapi saya memberinya gelar tersendiri, Kota Tambang. Di kampus ini saya menempuh studi ilmu hukum. Dengan kondisi jauh dari keluarga di Sulawesi Selatan, kisah dan ceritanya pun kini berbeda dan semakin berwarna bin kompleks.

“Med Milad Chiko Cerewet!!”
kali ini saya tak punya alasan untung cemberut dengan kosakata dalam ucapan-ucapan itu yg bertebaran di dinding sekret Ujur tercinta..^_^
Thank U So Much.

Tepat hari Kamis tanggal 07 April 2011 saya berusia dua puluh satu tahun (masih muda loh). Banyak yang telah berubah dari diri saya sekarang. Tapi, satu yang pasti, masih tetap kurus..hehe. Kegandrungan akan organisasi dan kegiatan ekstrakurikuler pun masih tetap berlanjut. Malahan semakin menjadi.

 

Perjalanan kelembagaan saya dimulai di tahun pertama kuliah sebagai staf Departemen Riset dan Edukasi Lembaga Kajian Ilmiah & Studi Hukum (LKISH) FH Unmul. Di tahun yang sama pula menjadi Kepala Departemen Kajian dan Syiar Islam Lembaga Dakwah Al Mizan FH Unmul. Periode itu juga direkrut menjadi staf di Departemen Syiar Islam Pusat Studi Islam Mahasiswa (PUSDIMA) Unmul. Setahun kemudian menjabat Kepala Divisi Litbang UKM Jurnalistik Unmul, setelah setahun sebelumnya magang sebagai anggota di sana. Sekarang, hingga tulisan ini saya buat, masih mengemban amanah sebagai Kepala Departemen Aksi & Propaganda BEM Unmul untuk masa Kabinet Dimas-Baqi.

Prestasi akademik juga tetap menjadi prioritas. Nilai IPK terakhir saya tiga koma enam empat satu. Lumayanlah jika disandingkan dengan kepadatan aktivitas di kampus. Satu target yang belum (dan sepertinya sulit) tercapai, kuliah sambil bekerja untuk membiayai kebutuhan diri. Alhasil, hingga sekarang biaya hidup masih numpang dari orang tua dan beasiswa pendidikan.

 

Di usia sekarang, saya banyak melakukan evaluasi diri terhadap perjalanan hidup selama ini. Terkhusus perjalanan hidup saya selama kuliah hingga detik ini. Jujur saya katakan, rasa memiliki tanggung jawab moral sebagai mahasiswa telah mendarah daging dalam diri saya. Tetapi selama tiga tahun berstatus mahasiswa, saya merasa belum memberikan sumbangsih maksimal. Bahkan tak jarang, untuk beberapa aspek tertentu, saya merasa gagal memanfaatkan masa yang ada. Saya berupaya memegang teguh pesan Rasulullah Saw, bahwa sebaik-baik manusia adalah ia yang bermanfaat bagi orang lain. Maka dari itu, saya sangat terpanggil untuk memanfaatkan kesempatan sebagai mahasiswa untuk memberikan manfaat dan kebaikan sebaik mungkin. Karena saya meyakini bahwa hidup ini hanya sementara. Kita akan menemui akhir perjalanan hidup di dunia fana ini. Saya (begitu pun manusia lain) tidak pernah tahu kapan kita akan menghembuskan nafas terakhir. Bisa saja malaikat pencabut nyawa itu menemui saya ketika sedang kuliah di kelas, ketika rapat di organisasi, ketika audiensi dengan birokrasi kampus atau daerah, atau mungkin ketika saya berteriak di jalanan di tengah-tengah peserta aksi damai mengangkat pengeras suara ataupun bendera kebesaran mahasiswa atau rakyat. Entahlah…

 

Belum lagi jika berbicara tanggung jawab sebagai seorang hamba Allah Swt, sebagai umat Rasulullah Saw, sebagai umat muslim, sebagai pemuda Islam yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga kehormatan dan menegakkan kalimat tauhid agama suci ini (astagfirullah…ampuni hamba-Mu ini ya Allah), tak banyak peran yang sudah saya lakukan. Tiga tahun masa kuliah yang telah saya jalani berlalu tanpa peran maksimal sebagai seorang pemuda Islam. (Saya harus menarik nafas dalam-dalam dan tak hentinya ber-istighfar ketika menulis bagian ini).

Seiring perjalanan waktu, amanah dan tanggung jawab pun semakin bertambah. Tepat 07 April 2011, tepat usia saya yang ke-21, saya mendapat kado yang berbeda dari biasanya, mengemban amanah baru sebagai Pemimpin Redaksi UKM Jurnalistik Unmul satu tahun periode kepengurusan ke depan. Di hari yang sama pula, namun di tempat, waktu, dan memontum yang berbeda, mendapatkan amanah sebagai Koordinator Forum Lembaga Mahasiswa Universitas Mulawaman (For-Unmul). For-Unmul akan berperan sebagai wadah pemersatu gerakan mahasiswa Unmul untuk mengawal dan menyikapi isue-isue dan/atau kebijakan birokrasi kampus dalam menjalankan roda pendidikan di kampus Unmul.

 

Iya, memasuki usia yang baru ini menjadi titik evaluasi menyeluruh terhadap perjalanan hidup selama ini. Harapan saya tak mencolok. Saya hanya berharap dan berdoa agar dapat menjalankan segala amanah yang dibebankan di pundak ini secara optimal. Baik itu amanah sebagai seorang anak kepada orang tua, amanah sebagai seorang mahasiswa, amanah sebagai seorang pemuda Islam, dan amanah sebagai seorang hamba Allah Swt. Amin…

. . . . .

  • Syukur tak ternilai kepada Allah Swt atas nikmat usia, kesehatan, iman, dan Islam.
  • Shalawat serta salam keselamatan kepada Rasulullah Saw,
  • Doa dan terimakasih tak terkira kepada kedua orang tua saya tercinta, H. Abd. Malik dan Hj. Satimang. Atas segala dukungan, panutan, dan kebaikan yang tidak akan pernah bisa saya balas. Hanya Allah Swt yang dapat membalas kebaikan kalian. Demikian juga buat nenek saya yang sudah tua renta (terakhir kali ketemu hanya mengenali saya berkat gigi taring depan saya..hehe), kakak saya Drg. Ahmad Jaiz (kakak jadi salah satu panutan saya menjalani masa kuliah, sukses selalu buat karir profesimu kak), kakak saya Asma Ida, S.Ag (semoga dapat menjadi guru yang disayangi muridnya), adik saya Moh. Tayyib (kamu juga kebanggaan keluarga adikku, kejar dan raihlah cita-citamu), kakak ipar saya Ir. Ratna Arief Budi, MM (saya sangat menyayangimu kak), dan ponakan saya yang usil, Si Kembar, Ahmad Al Farizi Ramadhan Ra’aj Raihan & Ahmad Al Faqih Ramadhan Ra’aj Raihan (duhai…nama kalian kok panjang amat, jadi anak jangan suka usil sama mama papa).
  • Buat sahabat-sahabat tua saya, sohib kecil, sohib SMP,sohib  SMA, meskipun sekarang kita terpisah jauh di berbagai pulau di Indonesia, suatu saat kita harus berkumpul kembali. Menceritakan perjalanan kita masing-masing. Sampai ketemu kawan!

Ini dia pose awal di masa awal kuliah hukum 08 Reguler C.
Lokasi di “Ruang Bersejarah” gedung kuliah lama…^^

  • Sahabat-sahabatku di kampus. Bagaimana kabar tugas kuliah kalian? ”Tugas dosen datang beruntun, hidup teratur bin tertuntun”. Hehe…
  • Genk 6, apa kabar kalian? (Sandy, Suwardi, Perwira, Abdan, Chiko, dan satu makhluk kesasar Mega Si Nona Sizuka).

crew Al Mizan

  • Saudara-saudariku aktivis LDF Al Mizan FH Unmul, (Akh Iqbal, Perwira, Sandy, Yusuf, Abdan, Tobri, adik-adik saya, Kalen, Yudha, Rahmat, Zainuddin. Ukhti Uray, Irma, beserta adik-adik di Keputrian Al Mizan), kalian LUAR BIASA! I LOVE U ALL. “Pengabdian Ikhlas Tanpa Batas”
  • Saudara-saudara saya pengurus LDF se Unmul dan PUSDIMA Unmul, sebuah keberuntungan-kebahagiaan bisa belajar dan bergerak bersama kalian.
  • Saudara-saudariku aktivis KAMMI, semoga gencar melahirkan pribadi Muslim Negarawan.
  • Kawan-kawan LKISH, dua  jempol buat terbitan buletin kalian. Kapan kita diskusi atau kajian?

unforgetable memory

  • Saudara-saudariku HMI FH Unmul (Yunda Amah, Wahyuni, Fera, Lilis, Hesti, Musbah,Nazrul, dan lainnya), saya menyayangi kalian. Di tengah perbedaan bendera yang kita usung, saya melihat kedewasaan untuk tidak menjadikannya penghalang berbagi suka duka, berdiskusi riang gembira, dan tetap mengedepankan persaudaraan.
  • Kawan-kawan GMNI (Natalis, Refly, kabari kalau kalian ada diskusi bro).

Bergabung di bawah aliansi “Geram”

  • Kawan-Kawan PEMBEBASAN, bagaimana kabar agenda pendampingan rakyat kawanku ? Obrolan santai bersama kalian di warung-warung kopi tepi jalan tak jarang melahirkan ide-ide brilian bagi upaya pembelaan rakyat, terima kasih bayak kawan.

^The Last Five^

  • Keluarga Kecil saya di UKM Jurnalistik Unmul. Semangat, motivasi, kredibilitas, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, pengabdian tak ternilai, saling menutupi kekurangan satu sama lain, ikatan persahabatan dan persaudaraan, semua itu saya dapatkan bersama kalian. Bersama kalian saya belajar tidak bergantung pada kuantitas tetapi kualitas. Kang Mujahid, Kang Wawan, Mb Ria, the Last Five (Ardiamond, Mutiaratna, Hestiara, Surahmoney, Risnemas), kak Handri, and All crew of UJUR (Dwi, Sari, Yuyun, Neni, Devi, Leni, Nadiah, Vera, Naufal, Luthfi, Chamid, Ibad, Wahyudi, Arul, Ari, Daniel) i’m proud to be with you. I love you all. “Semangat Baru, Gebrakan Baru”. “Bersama Kita Bisa”. “Semangat Berbagi, Menginspirasi”.

crew Ujur 2011

. . . . .

BPH BEM UM 2011 tercinta.

  • Rekan-rekan seperjuangan pengurus BEM Unmul Kabinet Progresif-Inspiratif. Buat BPH tercinta (Akang: Dimas (Pres), Baqi (Wapres), Rifki (Sekab), Dani (Ppsdm), Payjow (Sosmas). Mba : Ni’mah (Keperempuanan), Lina (Advokasi), Mardiyah (Keuangan), Tati (Rumah Tangga), Pipit (Humas) ) tetap kompak dan semangat. Buat seluruh staf, teruslah bergerak. Jika ada yang berkata bahwa jalan perjuangan itu datar, mulus, lancar tanpa hambatan, maka tak perlu diragukan lagi dia adalah seorang pembohong besar! (Tepuk tangan untuk saya…hehe).

crew BEM UM 2011

. . . . . .

aksi mahasiswa di depan GOR 27 September Unmul tempat berlangsungnya Pelantikan dan Serah terima Jabatan Rektor Unmul 2010-2014 diwarnai aksi pembakaran ban dan blokir jalan.

aksi mahasiswa di depan Kantor Gi\ubernur Kaltim

  • Kawan-kawan pergerakan se-Unmul (bendera apapun yang kalian usung) teruslah bergerak dan berjuang di atas panji-panji politik moral kita kawan. Hidup Mahasiswa! Allahu Akbar!

“Med Milad Chiko Jelekk!!”
-Tim Kreatif Ujur-

09 April 2011,

01.00 Wite,

Rumah Makan Terminal Rasa Jl. Pramuka Samarinda.

 

Ditulis pada My Story | 1 Komentar

“Ibu Sudah Pulang ke Rahmatullah”

Malam itu jam menunjukkan pukul 00.24 waktu kota Samarinda. Hari baru saja berganti dari Kamis menjadi Jum’at. Hape ku berdering. Ada satu sms yang masuk. Ku hentikan aktifitasku sejenak. Lekas ku buka inbox lalu ku baca sms itu.

“Ibu sudah pulang ke rahmatullah..” isi sms itu.

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun,” ucapku seraya tersungkur di atas kasurku.

Lima kata. Ya, sms itu hanya berisi lima kata. Tapi kehadiran lima kata itu bagai halilintar menyambar disertai guntur dan petir bersahutan. Lima kata itu membuyarkan konsentrasiku. Sebelumnya, sehabis sholat isya berjama’ah dengan warga di masjid terdekat dari rumah kostku, aku langsung berkutat setumpuk ketikan dengan laptop. Saat itu aku sedang membuat resensi sebuah buku pergerakan mahasiswa yang baru saja tamat aku baca. Namun, lima kata itu membuatku tidak dapat dan tidak harus melanjutkannya lagi. Aku terkulai lemah tak berdaya.

Dalam perbaringan aku menerawang mencoba menangkap wajah sosok Ibu itu. Namun aku tak bisa menghadirkannya sama sekali. Sosoknya terhalang sesuatu yang tak nampak oleh mata. Sosok Ibu yang telah meninggal itu hilang. Aku mengejarnya tapi sama sekali tak sanggup menangkap bayangnya.  Buliran bening pun tak terasa mengalir dari pelupuk mataku. Aku menangis. Ya, aku menangis ketika itu.

“Ibu sudah pulang ke rahmatullah..”ku baca lagi isi sms itu.

Segera ku hubungi nomor pengirimnya. Tapi di-reject. Aku paham. Dia pasti belum bisa menjawab telepon di saat seperti itu. Lekas aku membalas sms itu.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun..sy & jg pastix teman2 lain sangat brsedih & trpukul  dg knytaan ini. Tapi, sy yakin smua itu tak sbanding dg ksedihn yg kw rasakn skrg saudariku. Sabar ya..tabah..ikhlaskn kprgian Ibu. Kita doakn & yakini, beliau akn mdpt t4 trbaik di sisi Allah brsm org2 yg mndpt ptnjuk. Amin. Kira2 sktr jm brp tepatx Ibu wafat?” begitu isi sms yang aku kirim.

Tak berselang lama aku mendapat sms balasan.

“Amin. InsyAllah pastinya…:) pukul 00.20,” isi sms yang aku terima.

“Ya Allah..berarti baru beberapa menit yang lalu,” lirihku dalam hati.

“Aku harus beritahu yang lain,” ucapku seraya bangkit dari tempat tidur.

Ku ketik sms begitu terburu selayaknya orang pada umumnya yang mengetik sms di saat genting dan penting.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah brpulang ke rahmatullah Ibunda sdri qt Lilis Sugiarti, Hukum 08 Konsentrasi Lingkungan, Selasa dini hari, 04 Mar’11, (berduka cita),” begitu isi sms yang ku sebar.

Ku sebar ke beberapa nomor di hapeku. Ke nomor teman-teman aktivis mushola Fakultas Hukum Unmul,LDF Al Mizan, ke teman-teman sekelas, ketua tingkat, ketua kelas konsentrasi, dan pastinya ke teman-teman terdekat Lilis di keluarga HMI Fakultas Hukum Unmul. Begitu terburu dan tidak fokusnya aku, ada kesalahan ketik nama hari dalam sms yang ku sebar itu. Ku ketik hari Selasa padahal seharusnya hari Jum’at. Tak berselang lama aku mendapat telepon dari Musbah, teman satu kampus.

“Assalamu’alaikum..” ucapku.

“Wa’alaikum salam..” jawabnya di seberang telepon dengan suara serak, suara khas orang yang baru saja bangun tidur.

“Kau dapat kabar ibunya Lilis meninggal darimana, Chik?” tanya dia padaku.

“Dari Lilis langsung beberapa menit yang lalu, Bah” jawabku.

“Oh begitu, okeh. Terimakasih-lah infonya. Assalamu’alaikum,” ucapnya.

“Wa’alaikum salam..” jawabku menutup telepon.

Aku beranjak keluar dari kamarku yang terletak di lantai dua rumah kost ini menuju teras depan. Ku tatap langit kota Samarinda yang cukup cerah malam itu, namun hawanya sangat dingin. Begitu dingin hingga membuatku mengginggil. Aku coba membayangkan lagi sosok almarhumah. Namun sia-sia. Tetap saja sosoknya tak bisa ku tangkap. Aku sedih. Sangat sedih ketika itu.

Ibu yang telah pergi untuk selamanya itu bukanlah ibu kandungku. Beliau adalah ibunda dari seorang mahasiswi teman satu kampusku. Lilis panggilannya. Kebaikan dari puterinya itulah yang membuatku turut merasakan kesedihan yang mendalam ketika mendengar kabar kepergiannya. Di beberapa kali kesempatan Lilis banyak membantuku. Dia begitu baik terhadap teman-temannya. Dia sudah ku anggap lebih dari sekedar sahabat. Bahkan layaknya saudari angkat.

Sebelum menemui ajalnya, almarhumah mendapat penyakit yang cukup keras. Itu yang ku ketahui dari teman-teman terdekat Lilis dan dari Lilis sendiri. Beragam usaha penyembuhan telah ditempuh oleh keluarga. Mulai dari penanganan secara medis hingga metode pengobatan alternatif. Keluarga sudah berusaha sangat maksimal. Namun Allah berkehendak lain. Allah memanggil beliau untuk kembali ke sisi-Nya pada hari Jum’at tepat tengah malam lewat dua puluh menit tanggal 04 Maret 2011.

Dalam lamunan, aku terbawa merenungi potongan ayat suci Al Qur’an Surat Al-‘Ankabut ayat 57 :

“Kullu nafsin dzaaikatul mauti, tsumma ilainaa turjauun”

(Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan)

Kematian. Sesuatu hal yang telah ditetapkan oleh Allah akan pasti dialami oleh setiap makhluk, tak terkecuali manusia. Baik itu manusia yang meyakini-Nya maupun bagi mereka yang ingkar. Kapan, dimana, dan bagaimana kematian itu menghampiri manusia adalah rahasia Allah. Manusia akan tahu ketika kematian itu telah menemui Si Fulan.

Seketika itu juga, aku teringat Ibu dan Ayahku yang ada di tempat asalku nun jauh di pelosok Sulawesi Selatan sana. Bulir-bulir air mataku pun mengalir membentuk anak sungai di pipi.

“Bagaimana kabar mereka ya Allah? Lindungilah mereka selalu dalam naungan-Mu,” lirihku dalam hati.

Aku lalu beranjak dari lamunanku. Aku hendak mengambil air wudhu di lantai dasar kost. Setelah menampung aliran kecil air yang tersendat-sendat dari kran sekitar setengah jam, cukuplah buatku untuk berwudhu. Sudah dua bulan lebih air di area pemukiman warga kami langka. Seandainya malam itu air tidak mengalir sama sekali, esoknya pasti kusambangi kantor PDAM Samarinda! (emosi…)

Aku sholat dua raka’at. Dalam doa aku memohon keselamatan untuk almarhumah ibunda saudariku, Lilis. Mendoakan kerabat yang ditinggalkan agar sabar, tabah, dan ikhlas atas kepergian beliau. Juga tak lupa doa untuk kedua orang tuaku tercinta. Ketika itulah air mataku tak terbendung lagi. Aku sangat mencintai kedua kedua orang tuaku. Mereka sangat berarti bagiku. Merekalah yang telah berjasa mendidikku untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan takut akan murka-Nya. Aku tak akan pernah sanggup memberikan sebanyak yang telah mereka berikan kepadaku. Aku takut, tidak mau, dan tidak akan pernah berniat untuk mengecewakan mereka. Amin..

Aku iri pada Lilis. Iri yang membuahkan dampak positif, Insya Allah. Aku melihat sosok yang begitu kuat dan tegar dalam diri Lilis. Semasa ibunya sakit ketika beliau masih hidup, ia dan keluarganya mendapat ujian ganda. Ayahnya tiba-tiba mendapat musibah yang mengharuskan beliau dirawat di salah satu rumah sakit di kota Samarida. Aku lupa tepatnya musibah itu menimpa ayah Lilis di Samarinda ataukah di tempat asal mereka di kota Bontang, kota yang harus ditempuh sekitar dua jam perjalanan darat dari Samarinda. Semasa itu jugalah dia harus membagi waktu dengan keluarganya untuk merawat dan mendampingi kedua orang tuanya. Dia selalu setia mendampingi ayah ataupun ibunya.

Lilis mengabariku ketika ayahnya dirawat di rumah sakit saat itu. Aku pun berniat menjenguk beliau ke rumah sakit. Tapi (sial), kepadatan aktivitas kampus membuatku tidak langsung menjenguk beliau. Beberapa hari kemudian (aku lupa tepatnya berapa hari) barulah aku sempat akan menjenguk beliau. Tepatnya sehabis sholat magrib, bersama beberapa teman yang lain kami akan ke rumah sakit tempat ayah Lilis dirawat. Tapi tak kesampaian. Ternyata ayahnya sudah keluar dari rumah sakit. Kata Lilis, dokter sudah mengizinkan untuk pulang. Aku bersyukur beliau telah pulang namun juga menyesal tidak sempat menjenguk beliau ketika itu.

Pernah suatu hari juga aku menyaksikan pengorbanan Lilis. Pengorbanan yang menunjukkan baktinya kepada orang tua. Bakti yang tak perlu diperjelas dengan kata-kata manis. Bakti yang cukup ditunjukkan dengan sikap nyata. Dia terpaksa harus meninggalkan beberapa pertemuan mata kuliahnya untuk mendampingi ibunya yang sedang kritis. Dia bolak-balik Samarinda-Bontang tanpa mengenal kata lelah. Pagi hari sebelumnya dia mengabariku harus pulang ke Bontang untuk menemui ibunya. Dia minta tolong agar bisa diizinkan tidak masuk kuliah hari itu. Keesokan paginya aku mendapati dia lagi sedang ada di kampus mengurus izinnya untuk tidak masuk kuliah selama beberapa hari. Dia juga menemui langsung dosen-dosen mata kuliah bersangkutan satu per satu. Sore harinya dia sudah kembali pulang ke Bontang. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan pengorbanannnya. Padahal aku sudah katakan padanya agar menyerahkan masalah izinnya itu kepada kami sahabat-sahabatnya. Tapi dasar Lilis, dia sungkan merepotkan kami bagitu banyak. Subhanallah…kedua orang tuamu sangat bangga dan berbahagia dengan apa yang kau lakukan itu, saudariku, itu pasti.

Untukmu,

untukku,

untuk para orang tua,

buat kalian yang terlahir dari rahim seorang ibu,

buat kalian yang besar atas peluh keringat seorang ayah,

buat kalian para sahabat,

saudara-saudariku se-iman dan se-Islam,

serta setiap insan manusia,

bersabarlah menghadapi ujian. Karena sesungguhnya Allah telah menyiapkan kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar.

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun(sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kami dikembalikan). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al Baqarah (2) : 155-157)

Dear Lilis, we are here with you, Sister.

~True Story~

Jum’at, 04 Maret 2011

Dari salah satu bilik sederhana, Kost Maharani.

Ditulis pada My Story | 1 Komentar