Itu Reaksi (Mental) Bar-Bar

Kantor media TVOne dan kantor salah satu parpol diamuk sekelompok orang tak dikenal

Kantor media TVOne dan kantor salah satu parpol diamuk sekelompok orang tak dikenal

Pada media-media tersebut saya sendiri secara pribadi ingin sekali beri mereka shock terapi. Ingin “nonjok” redaktur dan para pemiliknya. Mereka semua sudah membuat para pelaku jurnalistik di lingkungannya menodai nilai-nilai luhur media. Tapi tentu tonjokan itu tidak dengan cara bar-bar. Penyerangan ke kantor media secara sporadis bagi saya itu sebuah cara bar-bar. Tidak elegan. Kita ini punya aturan main.

Media yang dirimu anggap menghina lembagamu itu sudah mendapat sanksi dewan pers. Mereka akan menjalankan sanksi tersebut. Itu pembelajaran dan teguran nyata buat mereka.

Dirimu sudah terlanjur menyerang dengan cara bar-bar fasilitas milik orang. Sekarang kamu sendiri juga harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Merusak fasilitas milik orang itu adalah perbuatan kriminal di mata hukum.

Pihak kepolisian harus mengusut perbuatan kriminal tersebut hingga tuntas. Semua pihak harus mendukung polisi mengusut penyerangan kantor media tersebut. Bukan malah sebaliknya mendesak polisi agar mendiamkan. Semua pihak harus dorong polisi tegakkan aturan. Sebagaimana kita semua dorong Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia tegakkan kode etik pers dan aturan penyiaran.

Media itu sekarang kena batunya. Mereka harus sediakan slot jam tayang hak jawab bagi pihak yang merasa terhina dan tercemarkan nama baiknya.

Nah dirimu, kalau ingin tempuh cara bar-bar, kembalilah ke zaman bar-bar. Carilah tempat yang menerima cara bar-bar itu. Tapi percayalah, hari ini dirimu tidak akan menemukan lagi tempat di belahan bumi Indonesia manapun, yang masih menerima cara bar-bar. Jika dirimu ingin memaksakan cara bar-bar, waktu yang akan menunjukkan bagaimana dirimu dikucilkan dari pergaulan sosial.

Bahwa tidak ada reaksi jika tak ada aksi. Tidak ada asap jika tak ada api. Kita semua sepakat. Tapi kita hari ini adalah manusia beradab bukan? Manusia-manusia yg bermental positif bukan? Kita berada dalam lingkungan yang diisi oleh aturan yang kita sepakati bersama. Adab dan mental positif tersebut seharusnya menyadari dan menerapkan aturan yang disepakati bersama. Jalankan bersama.  Jika ada yang melanggar, proses, sanksi siap menanti. Berikan sanksi tersebut lewat mekanisme penegakan aturan dan penerapan sanksi. Kawal bersama. Bukan langsung serang sporadis. Itu reaksi mental bar-bar.

Masih segar dalam ingatan bagaimana sebuah media menyerang Rohis dengan tuduhan teroris. Bagaimana reaksi Rohis?

Rohis tidak bereaksi secara bar-bar, meski mereka bisa melakukan itu. Mereka bereaksi secara beradab sesuai aturan yang ada.  Reaksi komplain yang Rohis lakukan dengan cara beradab, sesuai aturan yang berlaku, telah membuat Rohis mendapat harkat, martabat, dan kehormatannya dengan jalan elegan. Sikap elegan Rohis tersebut membuat pihak yang awalnya antipati dengan mereka, kini balik jadi penopang kegiatan-kegiatan mereka. Do you see that?

Bandingkan dengan reaksi bar-barmu. Cobalah minta konsultan survei tuanmu untuk lakukan riset. Bagaimana respon publik terhadap sikap reaksimu tersebut? Berapa persen yang bersimpati. Berapa persen yang antipati. Ku rasa konsultan survei tuanmu tidak akan berani merilis hasil temuannya terkait mayoritas opini dari publik.

Reaksi bar-barmu itu kini membuat publik yang awalnya mulai condong ke capres-cawapresmu jadi ragu dan berbalik arah. Mereka takut dengan sikap mental bar-barmu.

Seorang Anies Baswedan pernah berucap: perilaku para pendukung menunjukan perilaku yang mereka didukung.

Karena sikap bar-barmu itu mas Anies Baswedan harus berjibaku merumuskan opini pembelaan lain lagi sebagai juru bicara pasangan jagoanmu.

Banyak yang mengatakan bahwa perilaku kita berawal dari mental kita kan? Ok, cara kita bereaksi menunjukkan bagaimana karakter mental kita. Selamat merevolusi mental kawan.

Surahman Al Malik
@SurahmanJie

Dipublikasi di Opini | Tag , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Catatan Debat Ke-2 Pilpres: Memenangkan Hati Rakyat. Prabowo atau Jokowi?

Prabowo dan Jokowi usai berpelukan di tengah berlangsungnya acara Debat Ke-2 Capres Sabtu (15/6) malam lalu.

Prabowo dan Jokowi usai berpelukan di tengah berlangsungnya acara Debat Ke-2 Capres Sabtu (15/6) malam lalu.

Pernah menonton film Gladiator?

Maximus, tokoh utama, Sang Jenderal terbuang, sangat benci dengan Commodus, Sang Kaisar jahat. Maximus ingin membalas dendam atas kudeta Commodus terhadap Kaisar sebelumnya, Marcus Aurelius. Dan tentu saja balas dendam pribadi Maximus atas pembantaian sadis Commodus terhadap keluarganya. Tapi Maximus menghadapi satu batu sandungan, yakni populisme Commodus di mata rakyat yang telah berhasil didapatkan kembali oleh sang kaisar berkat suguhan pertarungan mematikan para Gladiator. Pertarungan mematikan tapi dinikmati oleh rakyatnya.

Namun, lewat pertarungan demi pertarungan, perlahan Maximus mulai mendapat kekaguman dan simpati dari rakyat. Berkat berbagai aksi hebat disertai sikap yang penuh kebijaksanaan di atas arena pertarungan. Commodus menyadari hal tersebut membahayakan posisi dirinya yang telah bersusah payah meraih simpati rakyatnya.

Ingat segmen kala Maximus bersiap menghadapi pertarungan besarnya di arena Colosseum. Pertarungan besar terakhir yang dijanjikan oleh Kaisar Commodus sebagai hadiah kebebasan Maximus jika menang. Tapi pertarungan besar tersebut telah disiapkan dengan niat jahat oleh sang Kaisar Commodus dengan berbagai trik untuk mengakhiri hidup Sang Jenderal Maximus.

Proximo, pelatih Maximus, yang tak lain adalah seorang mantan gladiator, memberi petuah bermakna ke Maximus bahwa hal yang harus Maximus lakukan bukan hanya mengalahkan lawannya dengan penuh keganasan di arena pertarungan tapi juga harus bisa memenangkan hati rakyat yang menonton pertarungannya. Jika rakyat sudah membersamai, Kaisar akan takluk dengan sendirinya.

Seperti apa hasil pertarungannya? Maximus berhasil memenangkan pertarungan dengan sangat elegan dan terpenting berhasil meraih dukungan rakyat. Bagaimana kisah selengkapnya? Silahkan tonton langsung film Gladiator.

Nah, apakah Anda menonton acara debat kedua antar calon Presiden (capres) yang disiarkan secara langsung oleh salah satu TV swasta pada Sabtu (15/6) malam lalu?

Saya menyaksikan acara debat capres itu di acara nonton bareng yang dikemas secara sederhana oleh salah seorang warga di lingkungan tempat tinggal saya.

Saya langsung teringat salah satu adegan dalam film Gladiator yang saya ceritakan di atas kala sesi debat capres memasuki sesi tanya jawab antar capres. Kala giliran Jokowi bertanya kepada Prabowo terkait ekonomi kreatif. Terlebih dahulu Jokowi sampaikan pandangan dan sikapnya yang sangat pro terhadap ekonomi kreatif. Jokowi lalu meminta pandangan versi Prabowo terkait hal itu. Saya pribadi menanti pandangan Prabowo yang saya harap akan berbeda.

Sang Jenderal 08 benar-benar melakukan hal yang berbeda. Prabowo malah mengamini pandangan dan sikap kompetitornya, Jokowi, karena menurut Prabowo pandangan dan sikap Jokowi tersebut sangat baik dan tepat. Padahal disampaikan sendiri secara langsung oleh Prabowo, bahwa para penasehatnya menasehati dirinya agar tidak mendukung satu pun pernyataan dari Jokowi selama proses debat. Terus bantah dan berikan pandangan berbeda. Tapi Prabowo adalah Prabowo. Prabowo itu alami dan berkelas. “Prabowo itu asli,” kata politisi Fahri Hamzah.

Tidak hanya sampai di situ. Seusai mengamini pandangan dan sikap kompetitornya, Prabowo langsung melangkah menuju podium Jokowi menjabat tangan dan merangkul Jokowi yang juga langsung disambut dengan sikap yang sama oleh kompetitornya tersebut. Prabowo seakan tidak peduli dengan jatah waktunya untuk berbicara habis berlalu akibat sikap tersebut.

Pemandangan tersebut sontak membuat para penonton di sekitar saya kompak memberikan tepuk tangan ke arah layar tancap nobar. Para pendukung Prabowo bertepuk tangan dengan penuh  sorak sorai. Sedangkan para pendukung Jokowi juga bertepuk tangan dengan senyum tersimpul di bibir mereka diiringi anggukan kepala. Entahlah apa maknanya. Tapi saya pribadi menangkapnya penuh kesan menaruh kagum dan simpati pada sikap Prabowo, lawan politik tokoh dukungannya.

Debat ke-2 capres malam tersebut memang cukup menghibur. Kedua kontestan, baik Prabowo maupun Jokowi, tampil lebih fresh, santai, dan lebih lepas dibanding penampilan mereka pada debat perdana sebelumnya. Tercatat beberapa kali kedua tokoh juga bisa melontarkan joke-joke ringan segar yang berhasil mengundang tawa audiens. Hal tersebut tentu saja membuat suasana semakin lebih cair.

Kedua capres pada debat ke-2 tersebut tampil lebih percaya diri, lebih menguasai materi, dan lebih komunikatif. Jokowi yang selama ini kita kenal dengan kepolosan dan kesederhanaan beliau malam tersebut tampil seperti biasanya. Sisi humanis Jokowi senantiasa berhasil mengundang simpati penyimak. Tapi secara keseluruhan, saya pribadi harus mengakui bahwa Prabowo tampil lebih menguasai panggung.

Penyimak bisa menangkap sesuatu yang baru dari penampilan Prabowo pada debat malam itu. Jika selama ini Prabowo senantiasa tampil di depan publik dengan kesan tegas, bicara to the point, tanpa embel-embel, bahkan terkesan kaku ala militer, malam tersebut Prabowo tampil apa adanya, sisi humanisnya muncul. Hal yang selama ini jarang diangkat oleh media terpublikasikan dengan sendirinya pada debat capres ke-2 malam itu. Joke-joke ringan yang dilontarkan Prabowo pun renyah dan berhasil mengundang tawa yang alami para audiens. Tidak seperti joke ala SBY yang terlampau sering garing dan membuat pendengarnya (maaf) tertawa dengan terpaksa. Salah satu penonton layar tancap di samping saya yang mengaku belum menetapkan pilihan jagoan sampai nyeletuk “Asyik juga nih Prabowo,” ucapnya. Nah, bagaimana rasanya jika punya pemimpin yang asyik?

Dari suguhan acara debat capres tersebut kita semua diberikan pelajaran berharga. Bahwa debat publik bukan melulu tentang bagaimana memenangkan diri sendiri dan mengalahkan lawan bicara. Tapi juga tentang bagaimana memenangkan hati penyimak (penonton).

Dalam ajang perebutan suara, siapa yang bisa memenangkan hati para pemilik suara, dialah yang akan keluar sebagai pemenangnya.

Tinggal para pemilik suara apakah bisa cerdas menggunakan hak suaranya secara terhormat dan bermartabat, ataukah memilih jadi budak money politic?

Surahman-Al-Malik
@SurahmanJie

Dipublikasi di Opini | Tag , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Lagi, Jelang Ramadhan, Mari Kita Bersiap (4-Habis)

Sudah siapkah Anda menjalani bulan Ramadhan ? Mari persiapkan diri.

Setidaknya ada empat hal yang kita pelajari dari Rasulullah Saw dan para sahabatnya yang mulia dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Aspek pertama, kedua, dan ketiga sudah kita uraikan di bagian sebelumnya.

Hal yang keempat, kita pelajari dari para sahabat Rasulullah Saw adalah membawa suasana semarak #JelangRamadhan ini dan saat Ramadhan itu sendiri nantinya menular ke lingkungan sekitar kita. Rasulullah Saw dan para sahabat tidak menganjurkan kita untuk menikmati Ramadhan sendirian. Sebaliknya kita dianjurkan untuk membuat semua orang tahu & gembira dengan datangnya Ramadhan. Lalu berbahagialah bersama mereka semua menjalani masa-masa Ramadhan. Sabda Rasulullah Saw: “Barang siapa gembira menyambut Ramadhan, Allah akan menggembirakannya di akhirat kelak”.

Mari persiapkan diri kita dalam mengisi masa #JelangRamadhan ini. Saling mengingatkan & saling memotivasi.  Sadarkan diri dan sekeliling kita agar tahu : “Ramadhan akan tiba lho!

Mulailah sisipkan topik Ramadhan di sela perbincangan kita dengan tetangga, dengan teman pelajar atau mahasiswa, dengan rekan kerja kantor, dan terutama dengan keluarga kita sendiri. Jangan biarkan lingkungan kita sadar tentang datangnya Ramadhan saat esok malam sudah akan tarwih: “Eh, sudah puasa ya?” < TERLALU! *Gaya bang haji Rhoma.

Di masa jejaring sosial media yang telah mendunia ini, mulailah arahkan obrolan ke topik seputar Ramadhan. Bolehlah update status kegalauan, asal positif tentang Ramadhan. *Emang ada? :D

Contoh: “Sedih awal #Ramadhan tidak bersama keluarga khususnya orang tua. Ingin sekali mencium kedua tangan mereka. Semoga mereka diberi kesehatan untuk menjalani bulan Ramadhan dengan baik. Amin.” *curhatan penulis :’)

Akhirnya, mari kita siapkan diri dengan baik. Mudah-mudahan Ramadhan kita tahun ini penuh manfaat dan keberkahan. Saya yakin kita semua ingin Ramadhan tahun ini jauh lebih baik dari Ramadhan sebelumnya. Saya pribadi ingin Ramadhan tahun ini menjadi bulan untuk meraih kemenangan.

Sebelum semua itu tidak ada salahnya kita memperbanyak doa agar disampaikan umur kita berjumpa dengan bulan Ramadhan tahun ini.  “Ya Allah panjangkan umur kami berjumpa dengan Ramadhan Mu tahun ini. Sungguh-sungguh ya Allah doanya ini. Tidak bercanda.”

Perbanyak doa seperti doa yang diajarkan Rasulullah Saw: “Allahumma baariklanaa fii rajab wa sya’baan, wa balighnaa Ramadhaan” (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami di bulan Ramadhan).

“Duhai Ramadhan, i’m falling in love with you. I want to pay my fault telah mencampakkanmu in the past” (jangan ada yang protes susunan katanya!). Ramadhan yang dimaksud di sini bukan nama orang. Jangan sampai ada maksud lain yang ditangkap. “Tolong pahami perasaan saya. (-_-).” < Bukan korban sinetron.

Jadi bagaimana persiapan #JelangRamadhan Anda? Sudah ada targetan #Ramadhan nanti? Selamat merancang. Good luck untuk kita semua :3

 Gambar

Warming Up To Ramadhan

Terimakasih telah menghabiskan waktu membaca catatan ini. Mohon maaf jika banyak kekurangan. (Selesai)

@SurahmanJie  https://twitter.com/SurahmanJie

(Kamis, 12 Juni 2014. Pukul 11.40 wita jelang Dhuhur)

Dipublikasi di Opini | Tag , , , , , , | Tinggalkan komentar

Lagi, Jelang Ramadhan, Mari Kita Bersiap (3)

Saat #JelangRamadhan ini kita perlu melakukan persiapkan dengan optimal. Persiapan yang kita lakukan setidaknya pada empat hal, yakni ilmu, ruhiyah, fisik, dan harta.

Pertama, aspek ilmu. Tentu untuk menjalankan sesuatu kita perlu memiliki ilmu dan wawasan terkait hal itu. Agar tidak kenapa-kenapa nantinya. Tidak melanggar. Tidak sia-sia. Dan yang tidak-tidak lainnya. Kaidah fiqihnya: “Al – ‘ilmu qobla ‘amal wal qoul” (Ilmu itu sebelum perbuatan dan perkataan). Jadi, yang paling awal harus kita persiapkan adalah ilmu seputar Ramadhan dan seluk beluknya.

Mulai dari bagaimana puasa yang baik dan benar, apa saja yang membatalkan, apa yang harus dihindari, apa yang perlu diamalkan. Bagaimana sholat tarawih yang sesuai tuntunan, Bagaimana sahur dan berbuka yang mantap dan sehat, serta banyak hal lainnya perlu kita ketahui. Jangan biarkan Ramadhan kita ini mengalir begitu saja. Ibarat kata: capeknya dapat, manfaat dan berkahnya tak dapat. Sayang sekali jika demikian. Dalam hal ini prinsipnya seperti iklan itu loh: “Ini dulu, baru itu. Ilmu dulu, lanjut itu amal dan perkataan.”

Kedua, aspekruhiyah. Sebagian sudah kita uraikan pada tulisan bagian sebelumnya. Mengasah spiritual kita itu penting.Mengapa penting? Ramadhan ini adalah laboratorium spiritual. Kita perlu menyiapkan diri kita sebelum nantinya benar-benar digembleng di dalam laboratorium ini. Kita harus bersiap menjalani Ramadhan dengan seabrek kewajiban yang harus kita laksanakan di dalamnya.

#JelangRamadhan kita perlu bersiap secara spiritual. Perbanyak doa seperti doa yang diajarkan Rasulullah Saw: “Allahumma baariklanaa fii rajab wa sya’baan, wa balighnaa Ramadhaan” (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami di bulan Ramadhan).

Begitu juga dengan teladan berikutnya, Ali bin AbiThalib ra, sahabat Rasulullah Saw yang dikenal keluasan ilmunya, menyiapkan hati dan memotivasi dirinya dengan berdoa: “Ya Allah, masukkanlah bulan yang mulia ini kepada kami dengan aman dari gangguan penyakit, longgar dari berbagai kesibukan, dan berikanlah kami kerelaan untuk tidak banyak tidur di dalamnya.” Nah mantap ‘kan ?

Berikutnya, ketiga, aspek persiapan fisik. Hal ini penting juga. Persiapan fisik ini secara pribadi saya bagi menjadi dua. Pertama, bisa berupa pembiasaan fisik. Misalnya dibiasakan puasa, biasakan mulai ibadah malam, tidur lebih awal, bangun ibadah jelang subuh. Jadi fisik kita nanti tidak begitu kaget dalam menjalani aktivitas Ramadhan. Kedua, penjagaan fisik. Menjaga diri agar sebisa mungkin jangan sampai sakit. Bagaimana deh caranya. Hindari hal-hal yang bisa mengancam kesehatan kita. Kalau pun tetap sakit #JelangRamadhan, kita terima sebagai cobaan dari Allah Swt. Allah hendak mengangkat kelas (derajat) kita.

Selanjutnya, keempat, aspek persiapan harta. Persiapan harta di sini maksudnya bukan disiapkan untuk berfoya-foya nanti di Ramadhan. Diberi rejeki harta oleh Allah sisihkan untuk kebutuhan Ramadhan nanti. Sebagai contoh, kami perantau penghuni “kost Maharani” atau “kost PK-D Ujung” atau “kost Warnet Dua Ribu” Jl. Pramuka Samarinda (namanya banyak tapi sama saja tempatnya, ada histori tersendiri di balik namanya yang bermacam-macam itu :). Kami rembuk untuk bersiap diri #JelangRamadhan menyisihkan uang jajan untuk patungan beli perlengkapan masak beserta bahan-bahan kebutuhan masak-memasaknya. Mengakali pemenuhan kebutuhan Ramadhan dengan keuangan yang pas-pasan. Sisihkan coast biayatersendiri untuk kebutuhan Ramadhan.

Persiapan lain, sisihkan uang jajan kita untuk modal infaq & sedekah nanti di bulan Ramadhan. Ramadhan kita perbanyak berbagi kepada saudara lainnya yang membutuhkan. Dengan infaq dan sedekah kita berinvestasi “bisnis” dunia dan akhirat. Ali bin Abi Thalib ra, senantiasa menyiapkan dua dirham setiap harinya. Satu dirham beliau sedekahkan pada siang hari. Satu dirhma lainnya beliau sedekahkan pada malam hari.

Begitulah, persiapkan sebagian harta untuk kebutuhan-kebutuhan lainnya selama Ramadhan. Mudah-mudahan Allah melancarkan rezeki penghasilan kita bagi yang sudah punya penghasilan, apapun kerjanya sing penting halal. Semoga Allah melancarkan rezeki kiriman bulanan dan tunjangan Ramadhan Anda dari orang tua yang masih ditopang hidup sama orang tua. < *pelajar-mahasiswa rantau langsung meng-amin-kan dalam hati :)

Sudah siap menjalani bulan penuh keagungan (Ramadhan) ?

to be continued…

(Kamis, 12 Juni 2014. Pukul 02.45 wita dinihari.)

Dipublikasi di Opini | Tag , , , , , | Tinggalkan komentar

Lagi, Jelang Ramadhan, Mari Kita Bersiap (2)

Saat-saat #JelangRamadhan harus kita pergunakan dengan baik membiasakan diri dengan hal-hal positif. Meminimalisir hal-hal negatif. #JelangRamadhan mulai rancang program-program targetan yang akan diperjuangkan saat Ramadhan nanti. Baik itu target personal, target keluarga, target sosial, dan lain sebagainya. Apa saja contohnya?

Mari kilas balik history Rasulullah Saw dan para sahabat “Generasi Pertama” bagaimana mereka mengisi waktu masa #JelangRamadhan dengan penuh keceriaan dan kekerenan dalam kebaikan.

Para sahabat bergembira menyambut datangnya #Ramadhan. Mereka saling mengingatkan & saling memotivasi #JelangRamadhan. Ekspresi kegembiraan itu sesuai tuntunan Rasulullah, “Barang siapa gembira menyambut Ramadhan, Allah akan menggembirakannya di akhirat kelak”. Para sahabat gegap gempita. Masing-masing merancang apa yang akan dilakukan di bulan istimewa Ramadhan nanti. Para sahabat berlomba dalam kebaikan.

Salah satu aktivitas para sahabat #JelangRamadhan adalah ziarah kubur untuk dzikrul maut (mengingat mati). Hal ini para sahabat lakukan untuk mengasah kesadaran batin. Ziarah kubur mengingatkan mereka bahwa suatu saat nanti, mereka pun akan menyusul menempati ‘rumah masa depan’ kira-kira sesempit 2×1 m tersebut. (Sudah pada pesan kaplingan rumah masa depan? :D *lirik lahan kosong* )

Dikisahkan, jika sudah mengingat mati biasanya para sahabat menangis tersedu-sedu mengingat memori rekaman kesalahan-kesalahan mereka. Para sahabat begitu sedih, seakan-akan mereka manusia paling berdosa sedunia! Para sahabat begitu takut akan dosanya di hadapan Allah Swt. Contohnya bisa dilihat dari sikap salah seorang sahabat besar, Umar bin Khattab. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amir, dia berkata, “Saya pernah melihat Umar bin Khattab mengambil segenggam tanah dan berkata, “Seandainya saya adalah tanah ini. Seandainya belum diciptakan. Seandainya ibuku belum melahirkanku. Seandainya saya tidak menjadi apa-apa. Seandainya saya tidak menjadi hamba yang hina.” Masha Allah. Bandingkan dengan kita yang tetap santai tanpa beban. Hal ini tidak menggeneralisir. Saya percaya ada orang-orang di era modern kini yang tetap tersedu-sedu mengingat mati.

Aktivitas ziarah kubur ini perlu juga kita lakukan. Tapi catat, ke kuburan sebatas itu saja lho! Untuk dzikrul maut. Jangan sampai lakukan sesuatu yang keluar dari syariat. Ngasih ini ngasih itu. Baca bacaan sembarangan yang tidak ada tuntunan Qur’an dan Sunnah. Minta ini itu kepada penghuni kubur.

Alhamdulillah, dari para sahabat Rasulullah Saw kita belajar banyak hal terkait momentum #JelangRamadhan. (Kok tahu? Hasil membaca. Tuntunannya kan gitu: Iqro’ bro. hehe…).

Setidaknya ada empat hal yang kita pelajari dari Rasulullah Saw dan para sahabatnya yang mulia dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Pertama, kita perlu bergembira menyambut datangnya Ramadhan. Sekalipun dengan modal Rp 10rb rupiah sekarang tidak banyak lagi bensin yang bisa kita dapatkan. Tak seperti dulu saat harga BBM belum mengalami kenaikan. Tetaplah bergembira.

 Jadi, sudah bergembira belum? Ayo bergembiralah sambut Ramadhan. Tapi jangan kebablasan juga. Agar nampak gembiranya, tersenyumlah terus sendirian di sepanjang jalan yang Anda lalui. *Itu beda kasus*

 Kedua, #JelangRamadhan kita asah mental-spritual kita dengan hidupkan kepekaannya. Sarananya? Bisa ziarah kubur untuk dzikrul maut, rihlah lintas alam, mabit, apa saja yang sesuai. Sesuatu yang ketika engkau melakukannya engkau mengucap tasbih, tahmid, dan takbir meresap hingga ke pembuluh darah, membuat bulu kuduk merinding, membuat ubun-ubun bergetar. Saking Anda menghayatinya.

Misal, saya pernah suatu ketika naik gunung. Saat sudah di ketinggian, kita melihat sekeliling. Kita bisa merasakan betapa kecilnya kita di tengah alam. Alam yang diciptakan oleh-Nya. Hanya takbir yang menggema kala itu. Mengiringi tenggelamnya jiwa dalam penyesalan akan keangkuhan diri yang terkadang dilakukan. *istighfar*

Lanjut, ketiga, lakukan persiapkan dengan optimal. Minimal pada 4 hal, yakni ilmu, ruhiyah, fisik, harta.

to be continued…

(Kamis, 12 Juni 2014. Pukul 02.20 wita dinihari.)

Dipublikasi di Opini | Tag , , , , , | Tinggalkan komentar

Lagi, Jelang Ramadhan, Mari Kita Bersiap (1)

Bismillahirrahmanirrahiim…

Tak terasa kita akan berjumpa lagi dengan Ramadhan tahun ini, tahun 1435 Hijriah / 2014 Masehi. Waktu memang berlalu tak terasa begitu cepat. (Kecuali bagi Anda yang hobi menghitung waktu jam per jam). Insya Allah, semoga kita sampai berjumpa dengan si Ramadhan (*Amin berjama’ah). Anda Sudah siap?

Saat ini masa jelang Ramadhan. Apa saja yang sedang kita lakukan menjelang datangnya bulan yang lain daripada yang lain ini? Ini bulan spesial. Banyak hal spesial yang akan kita jalani sebulan penuh nanti di dalamnya kan ?. Paling tidak kita perlu melakukan persiapan. Layaknya kita hendak melakukan perjalanan lah kesahnya ini. Mari sharing.

Sebelumnya catatan ini saya sadur ulang dari kultwit saya via akun twitter @SurahmanJie dengan hastag #JelangRamadhan. Jadi di sini kita masih pakai penulisan hastag yang sama.

#JelangRamadhan ini masa untuk membiasakan diri, bukan melampiaskan diri. Sepakat?

Sedikit-sedikit, puasa. Bukan sedikit-sedikit, makan.  Sedikit-sedikit, ambil Qur’an tilawah. Bukan sedikit-sedikit, ambil bantal tidur. Bahkan ada atau tidak ada bantal, tidur.

Pesannya kan begitu, persiapan #JelangRamadhan bukan pelampiasan #JelangRamadhan.

Mentang-mentang akan puasa satu bulan di siang hari nanti saat Ramadhan, jadi #JelangRamadhan ini sedikit-sedikit makan siang-malam. Takut kehilangan gizi atau berat badan (Bagi perempuan kayaknya tidak ada takutnya kehilangan berat badan? Justru sebaliknya. Katanya sih mayoritas begitu. Hehe..)

Ok lanjut…

Bagusnya #JelangRamadhan ini sedikit-sedikit puasa, sedikit-sedikit tilawah, sedikit-sedikit sedekah. Biar terbiasa nanti saat Ramadhan. Kalau #JelangRamadhan malah jadi pelampiasan sedikit-sedikit makan, yakin nanti Ramadhan bisa terbiasa tahan godaan makanan? Saat Ramadhan tiba, malah semakin bertambah banyak variasi menu makanan penuh kreasi dan inovasi gentayangan. Makin mengundang selera makan lah jadinya.

Ok, #JelangRamadhan perlu persiapan, bukan pelampiasan. Setuju kan?

Soalnya begini loh, saat #Ramadhan virus sekaligus vitamin kemalasan merajalela. Datang tak diminta. Diusir sulitnya minta ampun. Makanya perlu pembiasaan dari sekarang #JelangRamadhan. Pembiasaan untuk melatih diri. Bukan pelampiasan memanjakan diri. Apa yang kita biasakan #JelangRamadhan itu yang akan menjadi-jadi saat #Ramadhan nanti.

Jika #JelangRamadhan dilatih puasa di terik siang, ibadah malam hari, tahajjud dinihari, jama’ah subuh di masjid, mudah-mudahan terbiasa di #Ramadhan nanti. Insya Allah demikian.

Jika sudah terbiasa, virus sekaligus vitamin kemalasan bakal gigit jari untuk menggoda kita. Tetap akan terus menggoda, tapi minimal kita sudah ada imunitas dini. Jika #JelangRamadhan kita terbiasa memanjakan diri tuk bersantai, ya Ramadhan nanti bakal menjadi-jadi. Vitamin kemalasan pun mudah menjangkiti.

Selanjutnya, jika terbiasa banyak tidur #JelangRamadhan, saat Ramadhan bakal menjadi-jadi. Keluarlah pembenaran > “Tidurnya orang yang berpuasa kan berpahala”. Iya, memang benar ada hadits mengatakan demikian. Tapi Anda bisa dituntut pasal penyalahgunaan hadits loh (?)

Kerjanya tidur melulu. Puasa dijadikan alasan pembenar untuk tidak lagi beraktivitas yang produktif. Rasulullah dan para sahabat itu kala puasa Ramadhan silam di zamannya malah lebih hebat loh. Pernah dengar kan, kisah nyata mereka memenangkan beberapa perang besar dan menentukan itu saat bulan Ramadhan. Saat mereka sedang berpuasa! Lah kita? Oh menang perang juga selalu. Perang di game Play Station! Game online!! *Istighfar*

Semoga Allah Swt memberikan ganjaran berlipat untuk Rasulullah dan para sahabat.

Lanjut lagi. Apa yang menjadi pemandangan dadakan saat #JelangRamadhan? Mungkin salah satunya, iklim belanja meningkat. Nah, ini juga bisa jadi masalah nanti. Jika terbiasa belanja sana-sini #JelangRamadhan, saat Ramadhan nanti bakal menjadi-jadi. Kan diskon ramai tuh saat Ramadhan. Terpinggirkanlah infaq & sedekah. *Sedih*

#JelangRamadhan ini intinya kita kudu harus wajib melatih & membiasakan diri dengan hal-hal positif. Mulai eliminasi negative-negatifnya lah. #JelangRamadhan mulai rancang program-program targetan yang akan diperjuangkan saat Ramadhan nanti. Target personal, target keluarga, target sosial, de es be (bukan es be ye apalagi es pu kat).

Targetkan dengan baik, agar sukses Ramadhan bisa dicapai, bukan malah kecapaian :)

Apa saja contohnya?

to be continued…

Catatan ini hasil sadur ulang dari catatan panjang saya  yang sama di blog ini setahun lalu. Tepat saat jelang Ramadhan juga. Saya posting ulang dengan beberapa perbaikan. Semata-mata untuk mengingatkan diri khususnya dan sesama pada umumnya. Catatan dangkal ini semoga bermanfaat untuk kita semua.

(Kamis, 12 Juni 2014. Pukul 01.45 wita dinihari.)

Dipublikasi di Opini | Tag , , , , , | Tinggalkan komentar

Catatan Debat Perdana Pilpres: Kertas Jokowi Yang Fenomenal

“Kertas Menyembul yang Lucu, Kertas Doa Ibu yang Mengharukan, Semuanya Fakta kok. Tapi…”

Penampakan Kertas Jokowi

Penampakan Kertas Jokowi

 

Senin, 9 Juni 2014 | 23:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Penonton debat capres-cawapres, Senin (9/6/2014) malam, penasaran dengan secarik kertas yang terlihat terselip di lipatan jas calon presiden nomor urut dua, Joko Widodo. Kertas apakah itu dan apa isinya?

Wartawan pun sontak menanyakan soal kertas tersebut pada kesempatan pertama bertemu Jokowi sesudah debat usai. Jokowi memberikan senyum sebagai jawaban pertama. Lalu, dia mengatakan, “Ini bukan contekan, ini surat doa dari ibu saya.”

Di depan wartawan, Jokowi membuka lipatan kertas yang membuat penasaran itu. Berukuran 5×10 sentimeter, kertas tersebut diperbolehkan Jokowi untuk dipotret oleh para juru warta meskipun tak lama.

Sepenglihatan wartawan, dalam kertas itu tertera deretan huruf Latin dan huruf Arab. Namun, wartawan tak sempat mencermati apa kalimat yang tertera dalam tulisan tangan itu.

Debat kandidat digelar Komisi Pemilihan Umum sebagai salah satu tahapan dalam pilpres. Pada debat pertama ini, topik yang akan diangkat adalah “Pembangunan demokrasi, pemerintahan yang bersih, dan kepastian hukum”.

Berdasarkan potret yang didapat dari sekejap kesempatan yang diberikan Jokowi, tulisan tangan di atas kertas itu merupakan doa memudahkan lisan untuk mendebat pernyataan lawan. Bunyi tulisan itu adalah ” Rabbis rahlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqahu qaulii ‘”.

Tulisan Latin pertama di bawah tulisan Arab tersebut merupakan pelafalannya. Adapun tulisan Latin berikutnya adalah terjemahan dari doa yang pertama kali dilantunkan Nabi Musa saat harus berdebat berhadapan dengan Firaun itu. Secara ringkas doa tersebut merupakan permintaan kepada Tuhan agar memberikan kelapangan dada dan kelancaran berbicara dalam perdebatan.

Penulis: Fabian Januarius Kuwado

Editor: Palupi Annisa Auliani

http://nasional.kompas.com/read/2014/06/09/2343062/Ada.Kertas.di.Lipatan.Jas.Jokowi.Apakah.Itu.

Komentar:

Perhatikan bagian paragraf kedua:

“Wartawan pun sontak menanyakan soal kertas tersebut pada kesempatan pertama bertemu Jokowi sesudah debat usai…”

Lalu paragraf selanjutnya:

“Di depan wartawan, Jokowi membuka lipatan kertas yang membuat penasaran itu. Berukuran 5×10 sentimeter, kertas tersebut diperbolehkan Jokowi untuk dipotret oleh para juru warta meskipun tak lama.”

Perhatikan foto yang digunakan:

Itu adalah foto yang diupload oleh pengamat politik, Eep Saefulloh Fatah, sekaligus salah satu konsultan Jokowi-JK, melalui akun Twitter-nya, @EepSFatah. “Ini kertas yang tadi nongol di jas Pak @jokowi_do2: Titipan doa dari Ibunda tercintah, ” ungkapnya.

Coba cek lagi. Kicauan twit Eep tersebut muncul saat debat baru memasuki sesi kedua. Jadi mana foto Jokowi memperlihatkan kertas yang diambil reporter Kompas seusai debat? Tidak ada dokumentasi valid yang bisa mendukung pernyataan tersebut. #ByDesign #Rekayasa

Perhatikan kedua foto yang ada. Bandingkan foto kertas yang menyembul di balik jas Jokowi dengan foto kertas yang diunggah oleh Eep dan diedarkan oleh tim media Jokowi-JK. Tak perlu alat pengukur, secara kasat mata sangat jelas perbedaannya kan. Jadi ? Semua itu #ByDesign #Rekayasa .

Perhatikan paragraf kelima:

“…Pada debat pertama ini, topik yang akan diangkat adalah “Pembangunan demokrasi, pemerintahan yang bersih, dan kepastian hukum”.

Penulisannya menggunakan kata “akan” padahal berita tersebut dipublikasikan seusai debat kan? Ditulis berdasarkan hasil liputan wartawan Kompas yang katanya seusai acara debat. Seusai acara kok pakai kata “akan” ? Hal ini menunjukkan bahwa rilis berita ini dibuat sebelum acara debat dilaksanakan. Salah satu tugas divisi humas timses memang demikian. Bahan berita yang akan dipublikasikan harus sudah siap sebelum acara itu sendiri selesai. Agar nanti saat acara selesai berita tersebut tinggal dipublikasikan dengan cepat ke seluruh kanal media yang ada. Tapi dengan menggunakan bahasa straight news. Bukan dengan bahasa “akan”. Jadi semua itu #ByDesign #Rekayasa sejak awal.

Over all, saya salut dengan tim konsultan Jokowi-JK yang mampu menangkap peluang di tengah “pendzholiman” terhadap sosok yang bercitra langka seperti Jokowi.

Tim konsultan Jokowi paham betul, bahwa sedikit saja ada hal mendetail yang aneh dari Jokowi, hal itu bisa dijadikan bahan serangan oleh pihak lawan politik. Jika hal itu bisa dikelola dengan baik, maka berpeluang untuk dijadikan boomerang bagi para penyerang.

Terbersitlah ide untuk memainkan games “Kertas Doa Ibu”. Games yang sungguh bisa mengharu biru dan menarik simpati luas publik.

Tapi sayang, strategi jitu yang telah disusun degan sangat baik oleh para konseptor tersebut hancur sendiri oleh hal mendetail yang tidak dijalankan dengan baik oleh para eksekutor (ukuran kertas, timing ngetwit, timing berita, penggunaan detail kata dalam rilis berita, dan faktor X lain).

Semua itu #ByDesign #Rekayasa

Dalam politik, rekayasa itu biasa sebagai sebuah strategi. Tinggal kita yang menyimaknya ini perlu membaca sesuatu hal di balik sesuatu hal. ;)

Seru..sangat seru..

@SurahmanJie

——————————————————————————————————————————

Catatan analisis saya ini pertama kali saya upload di akun facebook saya Surahman- Al-Malik . Link: https://www.facebook.com/surahmanalmalik

Kemudian ternyata termuat di web blog Muslimina pada link:

http://muslimina.blogspot.com/2014/06/catatan-debat-perdana-pilpres-kertas.html?showComment=1402459888892

Siapapun yang mengirimkannya ke admin blog Muslimina, saya ucapkan terimakasih. :D

Dipublikasi di Opini | Tag , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar