Amarah

“Semua yang dimulai dengan rasa amarah akan berbuah rasa penyesalan dan berakhir dengan rasa malu.”

*Think-think dulu before bereaksi ;)

Kutipan | Posted on by | Tag , , | Tinggalkan komentar

Kurang Kerjaan Memikirkan Pemilu

OK, saya bakal menulis tentang Si Pemilu . Bukan sebuah kewajiban bagi Anda untuk membacanya. Tapi jika Anda sempat membaca sampai akhir, terucap terimakasih dan harapan semoga bermanfaat ;)

———————————————————————

Kita lirik sejenak dinamika menuju 09 April 2014. Yang “melek” paham saja kan apa yang saya maksud? Tidak perlu dibuatkan judul movie baru “Ada Apa Dengan 09 April 2014″ kan? Oh, ayolah. Judul itu tidak akan sanggup menyaingi ketenaran judul “Ada Apa Dengan Cinta” di masa remaja saya dulu.

09 April 2014 itu tanggal pencoblosan pemilihan anggota legislatif Indonesia periode 2014-2019. Ini momen penting banget. Informasi lebih lanjut, silahkan ketik pada tuts keyoboard Anda seputar hal pemilu legislatif di menu pencarian Google. Melimpah ruah informasi yang tersedia di sana.

Nah, to the point saja, menuju 09 April 2014 ini, khususnya di Kaltim, lebih khusus lagi di Samarinda , para pegiat praktik “Money Politic” mulai bergerilya. “Money Politic” ini seakan sesuatu yang tidak asing lagi dalam momen-momen seperti ini. Yah, sama-sama tahulah kita.

Mengapa saya berani berkata demikian? Saya dan beberapa anak manusia yang kurang kerjaan lainnya, iseng-iseng survey kecil-kecilan. Yah, tak secanggih survey LSI pastinya. Berangkat dari obrolan di warung kopi hingga larut malam, kita sebagai anak muda yang baik-baik mencoba peduli pada proses pemilu ini. Hehe…ketahuan ‘kan para pemuda pekerja serabutan yang tak berpenghasilan gede. Saking kerjanya tak beraturan, masih sempat-sempatnya memikirkan hal beginian. Memang kurang kerjaan.

Salah satu isu utama yang jadi perhatian kami adalah persoalan “Money Politic” ini. Bermodalkan semangat, isi dompet pas-pasan untuk beli bensin dan pulsa , dan kendaraan butut yang sudah minta dipensiunkan dari masa baktinya (jangan bayangkan yang beroda empat bro, ini roda dua tua) kita coba blusukan ke beberapa titik rawan. Tahu darimana daerah ini itu yang rawan? Modal insting saja sih. Narasumber kita tentunya warga ekonomi lemah yang tinggal di rumah-rumah sederhana (pengganti kata reok, semoga tetap sopan). Warga yang tinggal di rumah-rumah gedung gedong kokoh menancap ke bumi menjulang ke langit, tentu tidak masuk daftar narasumber kami.

Untuk menghemat energi dan waktu, sasaran paling pas untuk menjalankan misi ini tidak lain tidak bukan adalah warung makan sederhana (lagi, pengganti kata reok) pinggir jalan yang tentunya jauh dari standar minimal mutu pelayanan rumah makan. Di tempat seperti inilah paling mudah ngobrol langsung dengan beberapa warga sekaligus. Bermodal segelas kopi atau teh atau susu (gengsi sedikitlah dari sekedar segelas air es), kita bisa ngobrol banyak hal. Termasuk “melek” tidaknya warga tentang pemilu yang sudah dekat ini. Dan tentunya tentang serangan “Money Politic”.

Dan kami tak perlu surprise kaget, ketika beberapa di antara mereka begitu antusias mengiyakan terjadinya praktik “Money Politik” di lingkungan mereka. Hal itu sudah hipotesa kami dari awal.

Dari penjelasan polos beberapa warga yang kami temui di lapangan terungkap bahwa modus operandi serangan “Money Politic” ini bermacam-macam. Beberapa di antaranya:

- Ada tim caleg parpol yang mendatangi rumah-rumah warga, mendata pemilih, menawarkan kontrak suara, jika penghuni rumah tersebut sepakat untuk memilih caleg parpol bersangkutan, akan diikat dengan kontrak sederhana, H-1 hari pencoblosan tim akan menyerahkan uang tunainya.

- Operasional lain, ada tim caleg parpol yang menyebar selebaran penerimaan dukungan suara di satu wilayah RT tertentu, isinya pemberitahuan kepada warga bagi yang bersedia memilih caleg parpol ini silahkan mendatangi posko pemenangan (yang telah disiapkan di satu titik tertentu, pastinya tersembunyi), warga yang datang ke posko tersebut diikat dengan kontrak perjanjian sederhana, jika sepakat uang tunai akan langsung diserahkan saat itu juga.

- Ada lagi modus operasional lain, ini berdasarkan penemuan di pilgub kemarin. Serangan “money politic” dilancarkan di sepanjang hari H, bukan sebatas serangan fajar lagi, tapi selama proses pencoblosan. Warga pemilik hak suara dicegat oleh tim operasional di tengah jalan saat akan menuju ke TPS dimana mereka terdaftar sebagai pemilih, warga langsung ditodong saat itu juga, jika sepakat dengan pilihan yang ditawarkan, uang tunai langsung dibayarkan.

- Ada pula modus penggalangan suara lewat Ketua RT/RW. Beberapa Ketua RT/RW yang kami temui mengakui dengan penuh kepolosan dan kejujuran. “Bapak minggu lalu didatangi orang dari parpol xxx, minggu ini juga didatangi banyak orang paprol lain, beda dengan yang minggu kemarin. Mereka bawa map, isinya banyak surat pernyataan. Itu mereka minta dukungan warga bapak, bapak tidak enak menolak tapi juga tidak menjanjikan. Bapak terima saja mapnya itu menumpuk di meja tamu. Bapak tidak apa-apain, biarlah warga menentukan pilihannya sendiri.”

Kepada para RT/RW ini tim caleg parpol datang tidak hanya membawa surat-surat pernyataan dukungan warga, tapi juga langsung menawarkan sejumlah angka rupiah yang akan diterima setiap warga yang bersedia. Tentu bagi RT/RW yang bersedia menggerakkan warganya ada tambahan khusus yang lumayan jumlahnya.

You know guys, berapa duit tunai yang ditawarkan ? Untuk daerah pemilihan yang persaingan perebutan suaranya tidak terlalu ketat, kisarannya Rp 75.000 – Rp 150.000 per suara ! Ini fenomena fakta terjadi di masyarakat kita. Menggelikan…

Sobat, jika ada buku, pelatihan, atau apapun namanya yang mengajarkan jurus jitu terbukti ampuh untuk menangkal praktik amoral ini, tolong informasikan kepada saya.

Sungguh fakta ini tidak bisa membuat beberapa orang di antara kami tidur tenang di malam hari. Kami memang kurang kerjaan. Dasar kurang kerjaan !

Dipublikasi di Opini | Tag , | Tinggalkan komentar

“Hormatku Pada Pemuda Pejuang”

Hormatku pada pemuda Lamongan, yang dengan segala keuletannya bertarung dengan keringat, menguleg sambel pecel lele hingga larut malam.

Hormatku pada pemuda Minang, yang dengan tiada rasa gengsi, menggelar jualan di kaki lima di sudut-sudut persimpangan jalan.

Hormatku pada pemuda Kuningan, yang dengan cucuran keringat, menyajikan mangkok bubur kacang hijau dan susu telor dari subuh hingga subuh lagi.

Hormatku pada pemuda Batak, yang sampai larut malam, mengantarkan penumpang hingga ke pelosok kota.

Hormatku pada pemuda Madura, yang  harus menghirup asap sate, untuk memuaskan selera para pelanggan.

Hormatku pada pemuda Bugis Makasar, yang bertarung di laut lepas berhari-hari, meneruskan tradisi kebanggaan nenek moyang.

Hormatku pada pemuda Tegal, karena jasanya banyak menyambung nafas pegawai pegawai kecil di warung makannya.

Hormatku pada pemuda Jawa dan Bali, yang dengan segala kesabaran, ketekunan dan keuletan memahat patung, mengukir tembok, melukis batik hingga berminggu minggu.

Hormatku pada semua pemuda Indonesia, yang berjuang dengan cucuran keringat, tetesan air mata, untuk mempertahankan hidup, merubah nasib di tengah sistem yang menindas ini.

Hormatku pada kalian, karena kalian telah memilih jalan yang jujur untuk bertahan, untuk hidup secara benar, meskipun pahit tapi penuh berkah.

Hormatku pada pemuda yang tidak memilih jalan menjadi antek, tidak menjadi londo ireng, tidak menjual proposal kemiskinan dan tidak menjadi humas dan satpam dari rezim  penghisap dan khianat ini.

Hormatku pada pemuda yang telah bekerja tulus, jujur tanpa pamrih, tanpa niat secara instan memperkaya diri dengan korupsi berjamaah.

Hormatku pada semua pemuda yang telah memilih jalan melawan kejahatan ini. Karena diam berarti mati!

*M. Hatta Taliwang

Dipublikasi di Opini | Tag , , , | 1 Komentar

Premanisme, Simbiosis Mutualisme

Surahman Al Malik:

Ini betul ! Terasa sekali di beberapa lingkungan yang pernah saya kunjungi. Pernah mengalami sendiri waktu penelitian seputar tumpang tindih kepemilikan lahan “basah” :)

Originally posted on Anak Samarinda:

Image

Di beberapa lahan pertambangan illegal di Samarinda, puluhan orang bayaran (preman) menjaga pintu masuk. Siapapun yang lewat akan diperiksa, tak terkecuali polisi. Tak sembarang polisi bisa masuk. Salah langkah saja, fatal akibatnya karena sang preman ini kerap dilengkapi senjata tajam (sajam) bahkan senjata api (senpi).

 ***

Sebuah lokalisasi yang hanya berjarak beberapa meter dari pemukiman warga, dipasang kayu melintang sebagai palang. Siapapun yang hendak masuk, harus membayar kontribusi. Pos tersebut dijaga beberapa orang yang salah satu diantara mereka pensiunan aparat keamanan.

***

Beberapa lahan parkir illegal, berada di sekitar pusat perbelanjaan (Mall) dan hotel juga dijaga ketat oleh juru parkir, yang dibekengi sekelompok preman. Polisi atau Satpol PP tidak mau ambil pusing mengurusi hal itu. Sehingga terjadi pembiaran dan parkir liar selalu saja ada.

***

Premanisme di Kota Samarinda sebenarnya sudah cukup mengkhawatirkan. Banyak Peraturan daerah (Perda) yang tidak bisa dijalankan hanya karena berbenturan dengan premanisme. Hampir di semua lini…

View original 90 more words

Dipublikasi di Re-Post | Tinggalkan komentar

Melompat Tinggi Bersama Sahabat

Melompat Tinggi Bersama Sahabat

Bersama para peserta Training of Trainer Character Building Pemuda Indonesia. Diselenggarakan oleh Asdep. Peningkatan Kapasitas Pemuda Kemenegpora RI. Di Samarinda, 26-28 Oktober 2013 lalu. (Ini sesi olahraga pagi di hari ke-2 kegiatan). Saya pakai baju kaos kuning. Pada kegiatan ini sebagai salah satu panitia pelaksana.

Gambar | Posted on by | Tag , , , , | Tinggalkan komentar

Beberapa Nasehat Warren Buffet, Si Manusia Kaya Planet Bumi

Warren Buffet, kenal kan dia ? Itu loh snack yang krenyes-krenyes itu, saya paling suka rasa coklat original (itu Waffer Tango ndul!)

Hehe…sorry. Warren Buffet, salah satu manusia penghuni planet Bumi yang dikaruniakan satu kelebihan oleh Tuhan dalam mengumpulkan kekayaan dunia. Selalu masuk jajaran daftar orang-orang terkaya se-bumi. Tahun 2013, doi bertengger di urutuan ke-4 orang terkaya se-bumi. Nah, doi mewariskan beberapa nasehat super duper hebat untuk manusia lainnya nih. Di antaranya:

“Jauhkan dirimu dari pinjaman bank atau kartu kredit dan berinvestasilah dengan apa yg kau miliki, serta ingat :

1. Uang tidak menciptakan manusia, manusialah yang menciptakan uang.

2. Hiduplah sederhana sebagaimana dirimu sendiri.

3. Jangan melakukan apapun yang dikatakan orang, dengarkan mereka, tapi lakukan apa yang baik saja.

4. Jangan memakai merk, pakailah yang benar˛ nyaman untukmu.

5. Jangan habiskan uang untuk hal-hal yang tidak benar-benar penting.

6. With money:
You can buy a house, but not a home.
You can buy a clock, but not time.
You can buy a bed, but not sleep.
You can buy a book, but not knowledge.
You can get a position, but not respect.
You can buy blood, but not life. So find your happiness inside you.

7. Jika itu telah berhasil dalam hidupmu, berbagilah dan ajarkanlah pada orang lain.

“Orang Yang Berbahagia Bukanlah Orang Yang Hebat Dalam Segala Hal, Tapi Orang Yang Bisa Menemukan Hal Sederhana Dalam Hidupnya dan Mengucap Syukur”

Good…good…good…(Sambil ngunyah Waffer Tango rasa cokelat di lantai dasar Perpustakaan Daerah Kaltim).

Dipublikasi di Opini | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Rindu Bilal untuk Muhammad

(edisi copast)

BILAL BIN RABAH

Tahukah Anda.. Berapa yang dikeluarkan Abu Bakar ash Shiddiq ketika membebaskan Bilal bin Rabah dari perbudakan? Ketika itu Umaiyah bin Khalaf mematok harga 9 uqiyah emas. Dan dengan segera Abu Bakar radhiallah ‘anhu langsung menebusnya. 1 uqiyah emas = 31,7475 gr emas 285,73 gr x Rp 400.000,00 = Rp 114.291.000,00 Dan itu baru satu pembebasan, belum lagi dengan pembebasan budak lainnya. Inilah upaya mereka berniaga dengan Allah Ta’ala, membeli surga-Nya yang mahal harganya. BAGAIMANA DENGAN SAYA, DAN ANDA…….?

ADZAN TERAKHIR SAHABAT BILAL

Semua pasti tahu, bahwa pada masa Nabi, setiap masuk waktu sholat, maka yang mengkumandankan adzan adalah Bilal bin Rabah. Bilal ditunjuk karena memiliki suara yang indah. Pria berkulit hitam asal Afrika itu mempunyai suara emas yang khas. Posisinya semasa Nabi tak tergantikan oleh siapapun, kecuali saat perang saja, atau saat keluar kota bersama Nabi. Karena beliau tak pernah berpisah dengan Nabi, kemanapun Nabi pergi. Hingga Nabi menemui Allah ta’ala pada awal 11 Hijrah. Semenjak itulah Bilal menyatakan diri tidak akan mengumandangkan adzan lagi. Ketika Khalifah Abu Bakar Ra. memintanya untuk jadi mu’adzin kembali, dengan hati pilu nan sendu bilal berkata: “Biarkan aku jadi muadzin Nabi saja. Nabi telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.”

Abu Bakar terus mendesaknya, dan Bilal pun bertanya: “Dahulu, ketika engkau membebaskanku dari siksaan Umayyah bin Khalaf. Apakah engkau membebaskanmu karena dirimu apa karena Allah?.” Abu Bakar Ra. hanya terdiam. “Jika engkau membebaskanku karena dirimu, maka aku bersedia jadi muadzinmu. Tetapi jika engkau dulu membebaskanku karena Allah, maka biarkan aku dengan keputusanku.” Dan Abu Bakar Ra. pun tak bisa lagi mendesak Bilal Ra. untuk kembali mengumandangkan adzan.

Kesedihan sebab ditinggal wafat Nabi Saw., terus mengendap di hati Bilal Ra. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah, dia ikut pasukan Fath Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria. Lama Bilal Ra tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Nabi Saw hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya: “Ya Bilal, wa maa hadzal jafa’? Hai Bilal, kenapa engkau tak mengunjungiku? Kenapa sampai begini?.” Bilal pun bangun terperanjat, segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah pada Nabi. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Nabi.

Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Nabi Saw., pada sang kekasih. Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucunda Nabi Saw., Hasan dan Husein. Sembari mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Nabi Saw itu. Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal Ra.: “Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan buat kami? Kami ingin mengenang kakek kami.” Ketika itu, Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja.

KEMBALI ADZAN UNTUK TERAKHIR KALINYA

Taku kuasa menolak permintaan yang mengalir kepadanya, Bilal pun memenuhi permintaan tersebut untuk mengumandangkan adzan. Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Nabi Saw masih hidup. Mulailah dia mengumandangkan adzan. Saat lafadz “Allahu Akbar” dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok nan agung, suara yang begitu dirindukan, itu telah kembali. Ketika Bilal meneriakkan kata “Asyhadu an laa ilaha illallah”, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sembari berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar.

Dan saat bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Nabi, Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai.

Hari itu, madinah mengenang masa saat masih ada Nabi Saw. Tak ada pribadi agung yang begitu dicintai seperti Nabi Saw. Dan adzan itu, adzan yang tak bisa dirampungkan itu, adalah adzan pertama sekaligus adzan terakhirnya Bilal Ra, semenjak Nabi Saw wafat. Dia tak pernah bersedia lagi mengumandangkan adzan, sebab kesedihan yang sangat segera mencabik-cabik hatinya mengenang seseorang yang karenanya dirinya derajatnya terangkat begitu tinggi.

Semoga kita dapat merasakan nikmatnya rindu dan cinta seperti yang Allah karuniakan kepada Sahabat Bilal bin Rabah Ra.

dari blog seorang sahabat:

http://rahmayanirizka.blogspot.com/2014/01/embun-pagi-kisah-bilal-bin-rabah.html

Dipublikasi di Re-Post | Tag , , , | Tinggalkan komentar