KEKELIRUAN NEGARA DALAM MENGELOLA STATUS JABATAN “GUBERNUR” AHOK  

Oleh Surahman, SH. Pengamat Hukum dari Forum Mata Publik

Membicarakan Ahok memang tak bisa dilepaskan dari hiruk pikuk Pilkada DKI Jakarta, disamping berbagai kontroversi yang mengelilingi pemilik nama tersebut. Tapi pada catatan ini penulis tidak akan menyoroti kontroversi yang menyertai personal Ahok. Penulis tergelitik ikut menyoal tarik ulur sikap negara terkait pemberhentian sementara Ahok dari posisinya sebagai Gubernur DKI Jakarta setelah Menteri Dalam Negari (Mendagri) Tjahyo Kumolo memberi isyarat akan menunda proses pemberhentian sementara terhadap yang bersangkutan. Sikap bimbang negara seperti ini tidak hanya berdampak pada jalannya pemerintahan provinsi DKI Jakarta, tapi lebih luas lagi akan berdampak pada semangat penegakan hukum secara nasional.

ATURAN PEMBERHENTIAN SEMENTARA KEPALA DAERAH

Peraturan terkait urusan ini bisa kita lihat ketentuannya dalam UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (UU Pemda). Pasal 83 ayat (1) UU Pemda menyatakan, 

Kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah diberhentikan sementara tanpa melalui usulan DPRD karena didakwa melakukan (1) tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun, (2) tindak pidana korupsi, (3) tindak pidana terorisme, (4) makar, (5) tindak pidana terhadap keamanan negara, dan/atau (6) perbuatan lain yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Opini | Meninggalkan komentar

KEMENANGAN TRUMP, KEGADUHAN IBUKOTA DAN REAKSI PRIMITIF KITA

Oleh @SurahmanJie

(*)

Ba’da Tahmid & Takbir…

Kenapa Trump begitu terkenal lantas akhirnya secara mengejutkan menang di pilpres Amerika Serikat?

Jangan kaget. Polanya tidak jauh berbeda dengan petahana di Ibukota yang gemar menyulut kehebohan dalam strategi kampanyenya.

Trump tak segan-segan menyindir dan bersikap rasis. Bila omongannya menyakiti orang lain, dia masa bodoh. Trump tidak meminta maaf. Lebih parah lagi dari petahana kan.

Dalam salah satu kampanyenya, Trump akan melarang kaum Muslim masuk ke Amerika. Bagi Trump, Islam sangat benci dengan Amerika. Itulah sebabnya, orang Islam harus disingkirkan dari sana.

Tidak mungkin omongan semacam itu tidak diberitakan. Memang tidak jadi hastag di Twitter. Tidak jadi obrolan orang-orang dan publik internasional. Tapi, Trump terpilih di Amerika.

Ada yang mau menebak kenapa?

Salah satunya, kemungkinan besar karena Trump mendapatkan apa yang calon presiden butuhkan, untuk memenangkan pertandingan: Perhatian! (Baca: “Kontroversi: Jalan Pintas Menarik Perhatian Publik di sini).

Orang-orang benci Trump. Orang-orang cinta Trump. Tapi tak ada satu pun yang mengabaikannya.

Seluruh perhatian itu, baik positif dan negatif, menjelma menjadi arus yang mengagumkan. Jumlah pemirsa debat partai Republik memecahkan rekor, demikian juga aktivitas di ruang Social Media.

Memang, setiap kali Trump tampil di TV, mereka menonton untuk melihat Trump dikalahkan oleh kandidat lain. Mereka mencemooh saat Trump mengatakan hal-hal yang mereka benci. Mereka bertepuk tangan, ketika orang lain membantah Trump dengan cara yang lebih cerdas.

Tapi tanpa para haters sadari, kebencian inilah yang meninggikan rating. Menguatkan brand Trump, membuat ia dibicarakan, saat event berlangsung maupun setelahnya. Haters, dengan kata lain, bersikap sama dengan para Lovers Trump, yang membedakan hanya emosinya. Cerita tentang Trump semakin besar, memproduksi perhatian yang semakin meraksasa.

Para haters terus-menerus mengulang-ulang pola ini, sehingga orang yang mereka benci terus-menerus diiklankan secara gratis.

Mereka rela melakukannya tanpa bayaran, karena bagi mereka ini adalah “tugas mulia”, “berpahala” dan “demi kebaikan bersama.”

Polanya menjadi :

Tolak Trump!!!

Jangan mau memilih Trump!!!

Trump berbahaya!!!

Trump, Trump,

Trump, Trump,

Trump, Trump,

Dimana-mana Trump dibicarakan.

Mereka hanya fokus membuat Trump terkenal, agar orang-orang tidak memilihnya. Tapi, mereka lalai tidak mengkampanyekan kandidatnya sendiri, bahkan tak sedikit juga yang tidak mendukung kandidat lain sama sekali.

Pertanyaannya : Apa iya semua orang pasti tidak akan memilihnya ?  Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Opini | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Kontroversi Basuki: Jalan Pintas Menarik Perhatian Publik

Menengok Sosok di Masa Lalu: Barnum, Penipu Ulung Amerika

Seorang pakar pertunjukan abad sembilan belas di Amerika bernama Barnum memulai karirnya sebagai asisten pemilik sirkus. Dalam perjalanan pertunjukan sirkus mereka singgah dari satu kota ke kota lain. Di suatu kota, pada pagi hari pertunjukan perdana, Barnum berjalan-jalan di kota dengan lagak misterius. Orang-orang mulai memperhatikan dan mengikutinya karena gaya berpakaiannya mengingatkan mereka akan seseorang. Lalu di tengah gerombolan orang yang sedang penasaran itu, seseorang berteriak bahwa si misterius adalah si Ephraim K. Avery, seorang pendeta yang dibebaskan dari tuduhan pembunuhan tetapi masih dianggap bersalah oleh sebagian besar penduduk Amerika kala itu. Gerombolan massa yang marah seketika mengejar, menangkap, dan menyeret Barnum, mereka siap menghajarnya. Setelah memohon dengan akting yang sangat meyakinkan, Barnum bisa mempengaruhi gerombolan massa untuk tidak memukulinya dan mengikutinya ke sirkus tempatnya bekerja, dimana ia bisa menegaskan siapa jati dirinya.

Setiba di lokasi sirkus, pimpinan sirkus menegaskan kepada khalayak ramai bahwa semua itu hanyalah sandiwara iseng belaka, ia yang mengatur sandiwaranya dan sosok yang tadi berteriak bahwa Barnum adalah Avery yang dibenci penduduk sesungguhnya rekan Barnum sendiri, sesama asisten pimpinan sirkus. Akhirnya, gerombolan massa bubar. Barnum yang hampir tewas penasaran dengan trik yang baru saja dijalankan oleh bosnya. “Hai Barnum,” sahut bosnya, “semua ini adalah demi kebaikan kita, demi kesuksesan agenda sirkus kita. Ingatlah bahwa yang kita butuhkan untuk mendukung kejayaan adalah nama besar, entah itu nama baik atau nama buruk.” Hasilnya memang mencengangkan, semua penduduk di kota itu seketika membicarakan kehebohan dari lelucon sandiwara mereka dan sirkus mereka kemudian penuh sesak di setiap malam-malam pertunjukan.

Barnum mendapat pelajaran berharga yang tak pernah ia lupakan. Strategi itu dia jalankan dengan jitu di berbagai tujuan-tujuan besarnya di kemudian hari. Pernah ia menjalankan bisnis Museum Amerika, ia mempekerjakan seorang karyawan. Tugas karyawan itu hanya berjalan keluar museum, berkeliling di beberapa jalan yang ramai, lalu masuk lagi ke dalam museum. Begitu seterusnya berulang-ulang. Selain berjalan, karyawan itu ditugaskan melakukan gerakan-gerakan misterius untuk menarik perhatian orang-orang di jalanan. Setelah berkeliling sekian kali, orang-orang mulai penasaran, lalu mengikutinya dan memperdebatkan gerakan yang dilakukannya. Tingkah karyawan itu berhasil menarik perhatian orang-orang. Mereka tertarik untuk terus mengikutinya meski harus membeli tiket masuk ke dalam museum. Sebagian mereka kemudian terpecah perhatiannya pada koleksi museum itu dan tetap berada di dalam museum. Sementara si karyawan terus lanjut berkeliling dengan gerakan misteriusnya yang lagi-lagi berhasil menyedot perhatian orang untuk mengikutinya hingga ke dalam museum. Beberapa waktu kemudian, aparat setempat turun tangan menghentikan si karyawan beraksi, karena gerombolan orang yang mengikutinya menimbulkan kemacetan dan kegaduhan di jalanan. Si karyawan memang berhenti, namun ribuan penduduk New York telah memasuki museum itu dan banyak dari mereka menjadi penggemar pemilik museum itu, si Barnum yang haus ketenaran. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Opini | Tag , , , , , , | 1 Komentar

Pedagang Jujur, Dosen Korupsi

Depresi.

Tidak salah jika dikatakan bahwa sebagian masyarakat kita sedang mengalami depresi ekonomi. Perusahaan berjatuhan, PHK menggelinding. Angka jobless meningkat.

Penghasilan berkurang, di saat yang sama desakan kebutuhan tidak berkurang. Situasi menjepit menjadikan masyarakat tak sedikit menempuh jalan singkat, demi memenuhi kebutuhan hidup yang menyekak. Tak heran kemudian tindak kejahatan di sekitar kita melonjak. Di Kaltim saja, angka tindak kejahatan meningkat empat kali lipat.

Target tindakannya bagaimana mendapat uang dengan cepat. Di antaranya ada tindak pencurian, perampokan, hingga pemerasan besar-besaran dengan bermacam intrik. Dari kelas teri hingga kelas kakap. Dari target sandal sepatu di teras mesjid hingga brankas uang di bank. Dari yang senyap hingga yang terang-terangan. Dari aksi lucu nan menggelikan. Dari yang memilukan hingga jatuh korban jiwa. Sedih…

Maka, di tengah fenomena itu, begitu sejuk hati kita mendapati sosok semacam Rahmad Zan. Di kota Samarinda, ibukota Kaltim, ia telah mendapat julukan “Penjual bendera jujur Amad”. Kisahnya, Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Opini | Meninggalkan komentar

The Wedding 09/07/16

Galeri ini berisi 12 foto.

Beri peringkat:

Galeri | Meninggalkan komentar

Info Rute Busway Transjakarta

Beberapa bulan terakhir saya menjalani aktivitas di Jakarta, ibukota Indonesia. Sebagai penghuni baru ibukota, sarana transportasi menjadi hal yang sangat penting. Sebagai orang baru, bingung juga dong ya kesana-kemarinya mesti naik apa atau gimana? Tapi, tidak perlu terlalu khawatir gimana-gimananya. Cukup banyak moda transportasi yang bisa jadi pilihan. Salah satunya adalah Busway Transjakarta.

Bermodal petunjuk rute jalur/trayek Busway, kita sudah bisa menjelajahi ibukota. Untuk memastikan jalur kita tepat, jangan malu bertanya ke petugas Transjakarta yang selalu standby di setiap halte dan bus yang beroperasi. Petunjuk rute busway banyak bertebaran di laman-laman blogger. Tinggal tracking di smartphone masing-masing, ketemu dah berbagai info rutenya. Tarif sekali masuk trayek Rp 3.500 (update per Mei 2016). Jangan lupa buat kartu Flazz Busway. Biaya pembuatan perdana Rp 50.000, otomatis terisi pulsa 20.000,. Selanjutnya jika pulsa habis, kita bisa isi ulang di counter halte-halte Busway dengan nominal pulsa sesuai kebutuhan masing-masing. Penggunaan kartu ini memudahkan kita untuk tidak lama mengantri membayar tunai di counter halte. Tinggal tempel kartu – zreet – masuk dah ke ruang tunggu. Gampang.

Berikut rute Busway Transjakarta yang bisa kamu jadikan salah satu opsi petunjuk jalan. (Selama di ibukota, petunjuk rute ini telah membantu saya berangkat dan kembali dengan selamat.) Jangan lupa antri yang tertib. Keep focus. Keep concentration. Jaga keamanan diri dan barang bawaan kamu. Selamat menjelajah 🙂  Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Re-Post | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Hakim Cium Tangan Terdakwa (Sebuah Pelajaran Berharga dari Jordania)

12994395_10204894143387880_1825720124467543775_n
Hakim itu mengejutkan semua orang di ruang sidang. Ia meninggalkan tempat duduknya lalu turun untuk mencium tangan terdakwa.
Terdakwa yang seorang guru SD itu juga terkejut dengan tindakan hakim. Namun sebelum berlarut-larut keterkejutan itu, sang hakim mengatakan, “Inilah hukuman yang kuberikan kepadamu, Guru.”
Rupanya, terdakwa itu adalah gurunya sewaktu SD dan hingga kini ia masih mengajar SD. Ia menjadi terdakwa setelah dilaporkan oleh salah seorang wali murid, gara-gara ia memukul ringan salah seorang siswanya. Ia tak lagi mengenali muridnya itu, namun sang hakim tahu persis bahwa pria tua yang duduk di kursi pesakitan itu adalah gurunya dulu.
Hakim yang dulu menjadi murid dari guru tersebut mengerti benar, pukulan dari guru itu bukanlah kekerasan. Pukulan itu tidak melukai dan tidak menyebabkan sakit. Hanya sebuah pukulan ringan untuk membuat murid-murid mengerti akhlak dan menjadi lebih disiplin. Pukulan seperti itulah yang mengantarnya menjadi hakim seperti sekarang.
Peristiwa yang terjadi di Jordania awal tahun 2016 ini, sesungguhnya merupakan pelajaran berharga bagi kita semua sebagai orangtua. Meskipun kita tidak tahu persis kejadiannya secara mendetil, tetapi ada hikmah yang bisa kita petik bersama.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Opini, Re-Post | Meninggalkan komentar

YANG HILANG DARI NEGERIKU

Bagi generasi ‘sebelumnya’, lazim ditemui pemandangan para murid begitu memuliakan para gurunya. Semisal, kala anak-anak murid mau memasuki sekolah tempat menimba ilmu, tak jarang mereka menunduk hormat atau memberi salam kepada sang guru yang menunggu di pintu sekolah.
Mereka melewati pintu depan yang sudah ditunggu oleh tuan guru dengan penuh takzim. Mereka berjalan menunduk sebagai bentuk hormat kepada yang lebih tua.
Berjalan membungkuk bukan hanya sekedar tata cara penghormatan. Tapi juga sebuah simbol mau merendahkan diri kepada manusia lain yang dinilai lebih berat “isinya”. Bisa ilmunya, bisa usianya, atau bisa karena maqom (kedudukan) nya.
Namun sekarang itu nampaknya sudah mulai hilang dan mungkin hanya tinggal cerita yang bisa dikenang.
Sekarang, pendekatan guru mulai bergeser atau digeser menjadi status partner/rekan/teman belajar para murid. Tidak ada yang sepenuhnya salah dengan hal itu. Namun, kekiniannya, pola pengajaran dengan pendekatan sebagai teman makin ke kini nampaknya makin kebablasan. Makin terkikis sikap sungkan murid. Makin sulit ditemukan sikap takzim kepada sang guru. Karena mereka dianggap teman dan sekedar fasilitator pendidikan.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Opini | 1 Komentar

Gerhanaku Gerhanamu – Fitrah Total

Sisa-sisa hari ini masih bikin merinding *brrrr* … #Gerhana Matahari, 09 Maret 2016 | Hingga Ilmuwan Atheis kesulitan menemukan kata-kata yang pas untuk menggambarkan ketakjuban perasaan yang mereka alami.

gerhana masamba 9 maret 2016

Sebandel-bandel hingga sekamfret-kamfretnya beberapa wajah yang saya kenal berdiri di samping saya hari ini, fenomena Gerhana Matahari 98% di langit Masamba, cukup membuat lidah mereka secara otomatis mengucap secara acak kalimat Tasbih, Tahmid, dan Takbir serta Tahlil hingga ada pula yang bershalawat. Ya, kalimat-kalimat semacam itulah yang secara naluriah alamiah sering terucap oleh lidah seorang muslim kala mereka menjumpai situasi / peristiwa di luar kadar normal.

Bagi mereka yang meyakini keberadaan dan kebesaran Tuhan, tak sulit untuk menemukan ungkapan yang menggambarkan ketakjuban. Dan Islam merangkum semua itu dengan begitu indah. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Opini | Meninggalkan komentar

Tentang Kearifan Emas & Permata

Seorang pemuda mendatangi seorang guru dan bertanya, “Guru, saya tak mengerti mengapa orang seperti Anda, seseorang yang disegani orang banyak, tetap berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di masa kini berpakaian sebaik-baiknya amat diperlukan, bukan hanya untuk penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan lain?”

Sang Guru yang ditanya hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari jarinya, lalu berkata, “Sahabat muda, akan ku jawab pertanyaanmu, tetapi terlebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?”

Si Pemuda kemudian menelisik cincin Sang Guru secara mendalam, dengan pandangan mata ala-ala detektif yang sedang menyelidiki sebuah alat bukti. Si Pemuda itu mendapati cincin Sang Guru nampak kotor dan bernoda, dirinya pun merasa ragu,” Satu keping emas, Guru? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga satu keping emas.”

“Cobalah dulu, siapa tahu kamu berhasil,” Sang Guru meyakinkan dengan penuh kelembutan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Opini, Re-Post | Meninggalkan komentar