Diary 2011 Seorang Mahasiswa.

Catatan 1 :

 Kisah ini bermula di suatu sore pada hari Jum’at pekan ke-2 Januari 2011. Beberapa hari sebelumnya saya mendapat panggilan dari Presiden terpilih BEM Unmul periode 2011, untuk menghadiri pertemuan di sekretariat BEM. Saya yakin beberapa rekan lain juga sudah mendapat panggilan serupa. Karena isi panggilan itu adalah perkenalan kabinet Bem periode 2011.

Sekretariat BEM ada di lantai 2 Gedung Student Center Unmul. Gedung itu tidak begitu asing bagiku. Terlebih sekretariat BEM. Karena setahun periode sebelumnya saya sudah bergabung di sana sebagai staf di Kementerian Aksi & Propaganda. Ketika itu komando Presiden dipegang oleh Ismoyo Yudha Lukito mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Fkip) jurusan Biologi dengan Wakil Presidennya oleh Suharno Prihandoko. Pasangan romantis ini sapaannya adalah Bung Yono. Ismoyo-Suharno. Jargon kabinet kala itu adalah Kabinet Bangkit-Melawan.

Saat saya tiba di sekretariat BEM, sudah ada tiga mahasiswa di dalam. Dua diantaranya tidak asing bagi saya. Pemuda yang berbadan besar tak lain adalah Presiden BEM. Di sebelahnya duduk Wakil Presiden BEM.

“Assalamu’alaikum..”saya memberi salam.

“Wa’alaikumsalam..” jawab ketiganya serentak.

“Masuk akh,” sambut Pak Presiden.

Wajah satunya lagi sebenarnya sudah saya kenal, hanya nama dia belum saya tahu ketika itu. Belum saya memperkenalkan diri, ternyata dia sudah kenal nama saya serta salah satu nama lembaga mahasiswa tingkat universitas tempat saya bergabung.

“Loh…ini Surahman dari UKM Jurnalistik kan?”, tanya dia.

“Iya…benar akh. Ana sering melihat antum di Masjid Al Fatihah. Tapi afwan, ana belum kenal nama antum?” tanyaku.

“Beliau ini Dani Saputro, di kabinet 2011 beliau sebagai Menteri PPSDM. Beliau ini juga masih tercatat sebagai Ketua Mushola Al Ikhlas FKIP Bahasa dan Sastra,” terang Pak Presiden.

“Wah..luar biasa,” jawabku.

“Antum ini yang luar biasa. Nama antum tidak asing di kampus,” celetuk Dani.

“Hehe…bercanda nih. Bukan terkenal sebagai mahasiswa pemberontak kan?” ku balas sembari bercanda.

Saya menyangka sudah terlambat hadir di pertemuan itu. Ternyata tidak juga. Karena sehabis sholat Jum’at saya asyik mengikuti acara Refleksi Peran dan  Kinerja Anggota DPR RI Dapil Kaltim, Ir. Hetifah, PhD, di Dekanat Fakultas Ekonomi. Acara itu cukup menarik terlebih sajian hidangan gratisnya..hehe. Hidangan gratis itu yang membuat saya lupa jadwal pertemuan kabinet. Untung Pak Presiden masih berbaik hati mengingatkan lewat sms.

Tak berselang lama dua mahasiswi berjilbab juga sudah tiba di sekretariat.

“Assalamu’alaikum,” mereka memberi salam.

“Wa’alaikum salam,” jawab kami serentak.

“Silahkan masuk,” Pak Presiden mempersilahkan.

Keduanya tidak begitu asing bagi saya. Terlebih salah satunya itu adalah orang lama BEM dengan rekor tiga periode. Sedangkan salah satunya itu kami pernah terlibat bersama di Kepanitiaan Penyelenggara Pemilu Raya BEM 2011. Ketika itu saya tergabung di Badan Pengawas Pemilu sedangkan dia saya lupa ketika itu berperan sebagai apa di sana.

Beberapa menit kemudian menyusul satu mahasiswi.

“Selamat sore,” sapanya.

“Sore..ayo masuk, Lina” Pak Presiden kembali mempersilahkan masuk.

Mahasiswi ini orangnya juga tidak begitu asing bagiku. Di beberapa kesempatan aksi jalanan saya sering melihatnya turut serta dalam kerumunan aksi dengan membawa bendera organisasi mahasiswa eksternal kampus. Hanya saja saya belum mengenal namanya. Dan saya yakin dia pun masih belum mengenal saya.

“Iya, sudah pada hadir. kita tinggal menunggu satu orang lagi. Pak Sekab,” kata Pak Presiden.

Mendengar perkataan Pak Presiden itu, entah mengapa saya langsung tersenyum. Saya mencoba menebak orang yang dimaksud olehnya. Sang spesialis aksi, jago ,membaca momentum, dan tak ketinggalan Si Pelawak adalah beberapa diantara sekian julukannya.

“Hehe…orangnya ini pasti mantan menteri saya di periode sebelumnya,” gumamku dalam hati.

Seketika itu juga melintas sosok berbadan gempal di depan sekret BEM, kemarin-kemarin sih agak kurusan. Sosok itu berjalan lurus melewati pintu BEM ke arah kanan dengan helm tertutup di kepalanya.

“Hoii Pak…kelewatan!” teriak Pak Wapres. Teriakannya membuat kami semua tertawa.

“Dasar memang orang satu ini,” celetuk salah seorang mahasiswi berjilbab di ruangan itu.

Dugaan saya tak meleset. Orangnya adalah mantan pimpinan saya di Kementerian Aksi dan Propaganda pada kabinet BEM tahun sebelumnya. Tergolong orang lama BEM juga dengan rekor tiga bahkan empat periode telah bergelut dengan kehidupan BEM. Dengan ekspresi yang masih agak malu-malu, dia masuk ruangan bergabung bersama kami.

“Kok terlambat Pak?” tanyaku padanya.

“Anu eh…motor tadi dipake orang rumah De’, jadi nunggu dia balik dulu.” jawabnya.

Sekretariat BEM berukuran panjang sekitar 7 meter dan lebar sekitar 5 meter. Tanpa sekat pemisah di dalamnya. Berisi satu buah perangkat komputer lengkap dengan printer yang acap kali menghadirkan masalah bagi penggunanya..hehe. Sebuah lemari besi bersusun empat dengan total laci besi sebanyak delapan kotak. Sebagai lemari penyimpanan arsip dan surat-surat serta beberapa perlengkapan BEM lainnya. Setumpuk alat tulis kertas yang baru saja didapatkan dari program bantuan unit kerja mahasiswa dari Rektorat Kampus bertumpuk dengan jumlah yang amat banyak di kolom meja.

Kertas HVS, kertas photo, map, amplop, pulpen, baterai, spidol beserta tinta isi ulangnya, tinta printer, lem, lakban, buku tulis, buku agenda, pisau cutter, CD-R, gunting, map folio, tissue, pengharum ruangan, hingga Flash Disk dan Modem serta item-item lain menjadi perlengkapan bantuan yang dapat diterima oleh setiap unit kerja yang mengurus permohonan bantuan tersebut. Bagi yang “bandel” tak mengurus dipastikan tak mendapat jatah. Tapi sepengetahuan saya, tak satupun yang menyia-nyiakan kesempatan itu.

Tumpukan ATK itu adalah “warisan” dari kabinet Bung Yono. Karena di masa Bung Yono bantuan tersebut dicairkan. Untuk urusan ATK, beberapa bulan ke depan stok kabinet 2011 pasti akan terpenuhi.

Ruangan BEM tak berkursi, kecuali kursi dan meja kerja untuk operasional komputer. Hal itu dimaksudkan agar ruangan bisa menampung sebanyak mungkin peserta rapat dan memungkinkan orang di dalamnya dapat lebih leluasa bekerja di sekretariat. Alhasil sore itu kami duduk melingkar di tengah ruangan, begitupun juga dengan pertemuan-pertemuan yang akan datang, dengan Pak Presiden dan Wakil Presiden sebagai pusat perhatian kami. Maklumlah, pimpinan pemerintahan.

Pertemuan sore itu dibuka langsung oleh Pak Wapres. Agendanya adalah perkenalan jajaran kabinet BEM Unmul masa bakti 2011. Presiden BEM kemudian memperkenalkan satu per satu para menterinya yang akan membantu menjalankan visi, misi, dan program kerja selama satu tahun kerja ke depan.

“Tidak mengundang media kah ini? hehe…”celetuk salah seorang diantara kami yang disambut tawa seisi ruangan.

“Oh..belum saatnya. Karena ini memang hanya untuk internal saja dulu. Untuk ke publik kampus akan ada waktunya nanti,” terang Pak Pres.

Pak Pres lalu memperkenalkan nama dan posisi kementerian yang diisi oleh masing-masing orang yang hadir saat itu. Kemudian dilanjutkan dengan perkenalan secara langsung dari masing-masing menteri yang telah ditetapkan.

“Kabinet 2011 terdiri dari Presiden, Wapres, Sekretaris Kabinet, 2 Biro, yakni Biro Humas dan Biro Kerumahtanggaan, 7 Kementerian, yakni Menteri Keuangan, Aksi dan Propaganda, Advokasi Mahasiswa, Sosial Masyarakat, PPSDM, Minat dan Bakat, serta Keperempuanan. Total ada 12 kepala,” jelas Pak Presiden.

“Yang hadir saat ini ada 8 orang. 2 biro akan saya perkenalkan di pertemuan dua hari akan datang. Begitu juga dengan 2 menteri yang belum sempat hadir pada saat ini. Menteri yang tidak hadir hari ini adalah Menteri Minat Bakat dan Menteri Sosial Masyarakat,” lanjutnya.

Dari paparan Pak Presiden, tercatat formatur kepengurusan kabinet 2011 diisi oleh 6 fakultas berbeda . Berikut ini para personilnya.

Presiden kami adalah Dimas Prasetya, mahasiswa Fakultas Imu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2007. Wakil Presiden adalah Baqi Pradana mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri angkatan 2007. Pasangan beda postur tubuh ini disapa Bung DiQi, Dimas-Baqi.

Sekretaris Kabinet dijabat oleh M. Rifki Hidayatullah, dari Fakultas MIPA Jurusan Fisika angkatan 2007. Dia ini orang yang saya maksud mantan menteri saya di periode sebelumnya.

Menteri Keuangan masih dijabat oleh orang lama namun masih tegolong angkatan muda. Dia yang saya maksud mahasiswi berjilbab tadi pemilik rekor tiga periode. Namanya Mardiyah, mahasiswa dari FKIP Jurusan Bahasa Indonesia angkatan 2008.

Menteri Advokasi Mahasiswa adalah Maria Angelina, dari FKIP PGSD angkatan 2008. Dia yang saya maksud sering saya temui di beberapa aksi jalanan.

Menteri Pemberdayaan dan Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (PPSDM) dijabat oleh Dani Saputro, FKIP Bahasa Inggris angkatan 2007.

Menteri Keperempuanan diamanahkan kepada Miftahun Ni’mah, FKIP Bahasa Inggris 2007. Dia ini yang saya maksud pernah satu kepanitiaan dengan saya tadi di atas.

Dua menteri yakni Minat Bakat dan Sosial Masyarakat ketika itu masih dikantongi oleh Pak Presiden.

Biro Hubungan Masyarakat diisi oleh Fitri Andriani, mahasiswa Fakultas Farmasi angkatan 2008. Pertama kali bergabung dengan BEM. Mengaku ingin bergabung di periode sebelumnya namun tak mengetahui jadwal pendaftaran anggota baru BEM kala itu. (hehe…nasibmu, ups…!)

Biro Kerumahtanggaan diisi oleh Misriyani Hartati, mahasiswa Fisipol Jurusan Administrasi Negara angkatan 2008. Nama terakhir juga terdaftar sebagai staff salah satu kementerian pada kabinet Bung Yono periode sebelumnya.

Terakhir, Kementerian Aksi dan Propaganda, bidang yang fokus terhadap masalah sosial politik dan kebijakan publik serta kajian strategis diamanahkan kepada saya sendiri sebagai menterinya. Amanah yang pada awalnya membuat saya berpikir keras apakah akan mengembannya atau harus menolaknya. Namun kini, saya sudah duduk di sana. Bersama orang-orang yang memiliki visi dan misi serta pandangan hidup jauh terpajang ke depan. Orang-orang yang ingin mengabdikan diri di masa mudanya. Orang-orang yang ingin bekerja keras…..(Stop : tak kan habis kata untuk menggambarkan mereka, …hehe)

Pada kesempatan berikutnya, satu per satu dari kami diharuskan memperkenalkan diri selengkap-lengkapnya. Ada yang unik ketika kami juga diharuskan menyampaikan karakter diri kami. Ada yang mengaku kadang Melankolis, ada yang terang-terangan cenderung Plegmatis, beberapa diantaranya adalah karakter Sanguinis. Si Koleris saat itu belum muncul ke permukaan. Karena awal perkenalan itu memang dikemas secara santai dan akrab. Tapi saya yakin si Koleris akan nampak dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Dengan mayoritas karakter sanguinis di dalamnya, diantara kami ada yang tiba-tiba nyeletuk. “Wah…2011 ini Kabinet Sanguin yah.” Celetukan yang disambut dengan tawa oleh seisi ruangan.

The Cabinet of 2011 has started!

20 Januari 2011

Pos ini dipublikasikan di My Story. Tandai permalink.

4 Balasan ke Diary 2011 Seorang Mahasiswa.

  1. Nia Asy Syifa berkata:

    selamat y k!! semoga apa yg di amanahkn kepada kk bz kk jlnkan dg baik. n insya Allah kk jg bz memimpin anggota kk dg baik. jlnkan dg ikhlas n tetap tersenyum ^_^

  2. curhat colongan ? =)
    never mind brader,just believe in potention and show it all.
    we are waiting the action of this cabinet and let’s joint monitoring.

  3. Surahman 74 berkata:

    Nia : Amiin…^_^…makasih de’…InsyAllah smg diberi kemampuan utk jalankan amanah.

  4. Surahman 74 berkata:

    Winda : curhat colongan?…what is it mean sist?..@_@
    the action of this cabinet will be different from the action of the last cabinet, karena menterinya beda banget dgn menteri sebelumnya…:) (berspekulasi nih..hehe)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s