Bukan Hanya Dosen, Mahasiswa Pun Bisa Jengkel !

Siang ini langit nampak mendung, namun suhu cuaca malah panas. Teori fisika beraksi. Jika langit mendung, awan mengumpulkan partikel-partikel air lalu melepaskan panasnya ke bumi sebelum mengguyurkan hujan. Namun itu tak menghalangi semangat mahasiswa untuk berangkat kuliah. Tak terkecuali saya. Siang ini saya ada pertemuan kelas salah satu mata kuliah wajib. Pukul 12. 30 perkuliahan dimulai (mepet sekali dengan waktu sholat dhuhur bagi mahasiswa muslim).

Sesampai di kelas, suasana sangat riuh. Dosen belum datang. Suasana semakin bising dari satu kelompok mahasiswa yang terlihat begitu semangat dengan obrolan mereka. Secara angkatan, saya lebih tua dari mahasiswa angkatan kelas ini. Mata kuliah ini memang mata kuliah yang saya programkan ulang dalam daftar perkuliahan saya. Sebenarnya sudah lulus, namun hasilnya kurang memuaskan. Dalam hitungan “kalender masa kuliah” saya tak apalah mengulang mata kuliah ini. Di daftar absen mata kuliah, tertera beberapa mahasiswa angkatan yang lebih tua ada juga yang masih memprogramkan ulang mata kuliah ini. Hehe…saya ternyata bukan yang paling tua.

Penghuni asli kelas ini nampak terbagi menjadi beberapa kelompok. Mayoritas pria masih berjejer rapi di depan kelas memandangi halaman kampus. Mereka nampak jelas dari dalam kelas karena sebagian dinding kelas adalah jendela transparan. Kelompok lainnya mengambil posisi duduk di deretan bangku bagian kiri di dalam kelas jika ditatap dari depan. Kelompok satunya lagi mengisi deretan bangku di bagian kanan. Deretan kanan nampak cukup tenang. Sesekali di antara mereka ada yang terlihat membaca, merapikan atau sekedar membolak-balik kertas catatan kuliah. Ada yang asyik mendengarkan music dengan earphone di telinganya. Ada juga yang fokus membuka facebook di hape-nya. Deretan kiri nampak begitu riuh ceria membincangkan sesuatu, gosip entertain ala mahasiswa. Suara mereka mendominasi ruangan kelas. Tak jarang suara wanitanya berteriak nyaring kecentilan. Ingin rasanya menyumbat telinga ini. Ditambah lagi dengan tingkah si lelaki paling tampan di antara kelompok itu (maklum…satu-satunya lelaki di antara gerumulan wanita, haha). Orangnya paling agresif bersuara dan mondar-mandir dalam kelas. Tak jarang menggoda saya yang sejak tadi asyik mengetik depan laptop. Saya sendiri memilih tempat duduk di bangku dosen tepat di depan kelompok yang paling riuh. Mumpung dosennya belum datang. Suka tidak suka saya harus duduk di depan mereka. Karena posisi meja dosen yang paling dekat dengan colokan listrik. Laptop saya kritis battery. Sementara masih ada satu tulisan yang harus segera saya selesaikan. Karena sudah dikejar deadline dari redaktur tabloid salah satu unit kerja  mahasiswa di kampusku.

Gedung kampus fakultas kami bertingkat tiga lantai. Kelas kali ini berada di lantai dua. Sudah tiga puluh menit berlalu dari jadwal kuliah dimulai, dosen kami belum muncul. Tapi kami masih harus menikmati keharusan menunggu datangnya dosen. Posisi yang terkadang menyudutkan mahasiswa sebagai pihak yang membutuhkan supply dan transfer ilmu dari dosen pengajar.

Di banyak mata kuliah yang pernah saya ikuti, selalu dibuat kesepakatan atau kontrak perkuliahan antara dosen dan mahasiswa. Kontrak ini selalu dibuat di awal perkuliahan. Isinya banyak memuat kewajiban dan hak mahasiswa. Antara lain, mahasiswa wajib berpakaian sopan, rapi, bebas-pantas. Wajib pula bersepatu (Untung warnanya tidak ikut ditetapkan, sepatu hitam kaos kaki putih, hehe…kembali ke era putih abu-abu). Mahasiswa dilarang merokok. Lebih extreme, mahasiswa wajib menonaktifkan alat kemunikasi (hape) merk apapun, wow! (Tapi itu dulu kali yah, sekarang sudah jarang kita temukan seperti itu).

Dari semua isi kontrak kuliah, ada satu aturan yang masih menjadi momok memberatkan bagi mahasiswa. Aturan itu mengatur mengenai kewajiban mahasiswa hadir tepat waktu mengikuti perkuliahan. Bagi mahasiswa yang terlambat masih mendapat toleransi waktu sepuluh atau lima belas menit. Jika akan terlambat wajib memberikan informasi keterlambatan terlebih dahulu kepada dosen pengajar mata kuliah bersangkutan sebelum perkuliahan dimulai. Intinya adalah mahasiswa wajib tepat waktu. Tujuan mulianya untuk mendidik kedisiplinan waktu mahasiswa.

Bagi beberapa mahasiswa hal itu tidak jadi soal. Tetapi ada satu hal yang masih sering merugikan mahasiswa. Seperti kondisi yang sedang kami jalani saat ini. Menunggu kedatangan dosen yang belum hadir tanpa kepastian yang jelas. Di saat mahasiswa diberikan batasan keterlambatan hadir di kelas, masih jarang dosen yang mencantumkan batas waktu keterlambatan dosen hadir di kelas dalam kontrak kuliah. Seperti misalnya, apabila dosen terlambat hadir di kelas, misal dua puluh menit dari jadwal dimulainya perkuliahan, mahasiswa boleh meninggalkan kelas (Merdeka…Hidup Mahasiswa! hehe).  Memang ada juga dosen yang berani mencantumkan aturan seperti itu dalam kontrak kuliahnya. Jika dosen akan terlambat, dosen akan mengkormasikan hal tersebut kepada mahasiswanya. Jika tidak dapat hadir, maka akan membuat kesepakatan baru untuk mengganti pertemuan kelas yang kosong tersebut. Namun jumlahnya masih dapat dihitung jari. Hehe…apa-apa kesepakatan, maklumlah anak hukum bisnis.

Saya pribadi sejauh ini belum pernah protes fenomena satu ini. Tetapi tidak jarang juga saya sangat ingin berontak jika di suatu jadwal kelas kami harus menunggu kedatangan dosen tanpa kepastian yang jelas. “Menunggu…ternyata menyakitkan,” begitu potongan lirik sebuah lagu grup band Ribas.  Bukan karena faktor lain. Kontrak perkuliahan yang mewajibkan mahasiswa hadir tepat waktu tujuannya tidak lain adalah untuk mendidik kedisiplinan waktu. Bagaimana mungkin mahasiswa bisa disiplin waktu, jika salah satu subjek kontrak tidak disiplin?

Dalam hal ini, perkara ketidakadilan sangat nampak terasa. Kewajiban disiplin waktu perkuliahan kelas menjadi tanggungjawab satu pihak yaitu mahasiswa. Mahasiswa juga manusia. Dosen pun manusia. Aktivitas mahasiswa bukan hanya duduk di kelas menanti materi kuliah, apalagi menunggu. Aktivitas dosen pun tidak hanya mendidik mahasiswa, banyak aktivitasnya yang lain yang juga membutuhkan waktu. Hal ini sangat erat kaitannya dengan efektifitas penggunaan waktu bagi setiap orang. Time is Money, right? No, Time is Time. Bukan hanya dosen yang bisa jengkel jika mahasiswanya terlambat. Mahasiswa pun bisa jengkel jika dosen yang berbuat demikian.

Persoalan keterlambatan dosen ini memang kasuistik. Namun, perlu dan layak untuk disikapi lebih lanjut. Hal ini demi kenyamanan dan harmonisasi hubungan antara dosen dan mahasiswa yang dapat berdampak positif pada kualitas dan iklim perkuliahan. Terutama bagi pihak birokrasi kampus, persoalan ini perlu disikapi secara lebih bijak namun profesional. Bukan hanya dengan jawaban “ah…maklumlah Nak, dosenmu itu sedang ada urusan lain mungkin.” Ting…tong…tanggapan yang mengecewakan!

Lebih tiga puluh menit kami menunggu, beberapa di antara mahasiswa di dalam kelas bersiap-siap meninggalkan kelas. Beberapa mahasiswa yang sejak tadi berjejer di teras kelas malah sudah menghilang. Tak berselang lama dosen yang dinanti pun menampakkan dirinya dengan senyum mengambang. Senyum manis yang nampak jelas sangat dipaksakan terpancar dari wajah mahasiswa menyambut kedatangan dosen. Yah…balik lagi dah ke tempat duduk semula.

“Maaf anak-anak, tadi ada urusan sebentar di luar. Jadi agak terlambat. Bisa kita mulai perkuliahan kita?”

“Bisa Bu…!!” jawab mahasiswa penuh lemas disertai gerutuan. Tak jarang di antara wajah mereka nampak lucu dengan bibirnya yang monyong penuh kekesalan…haha.

Berselang kemudian, tiga orang mahasiswa berlarian tergopoh-gopoh memasuki kelas. Mereka ini yang sejak tadi berdiri di teras kelas namun pulang karena dosen kami tak kunjung datang. Beruntung mereka kembali lagi ke kelas. Pertanyaan spesial dari dosen sudah menanti.

“Kok terlambat?” tanya dosen dengan mimik wajah yang kurang bersahabat.

Fiuhh…

Pembaca, jika Anda yang ditanya saat itu, seperti apa jawaban Anda?

Senin, 21 Februari 2011

Surahman, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mulawarman

Pos ini dipublikasikan di My Story. Tandai permalink.

4 Balasan ke Bukan Hanya Dosen, Mahasiswa Pun Bisa Jengkel !

  1. ana berkata:

    suasana kelasnya, tak beda jauh dengan kelas kami. namun terkadang dosen kami sering tak masuk hingga waktu mata kuliahnya habis
    jawab: maaf bu, tadi saya lagi ada urusan diluar.

  2. Surahman 74 berkata:

    wah…itu lebih parah,,
    protes saja..via surat kaleng boleh juga..hehe.

  3. asmadi berkata:

    jawabanku adalah lah, ibu/bapak saja terlambat. saya sudah setengah jam nunggui. dan alasan saya terlambat, karena beli minuman. soalnya tenggorokan kering, karena kelamaan menunggu bapak/ibu.🙂

  4. Anonim berkata:

    Z akn jawab, buah jatuh pasti tdk jauh pohonx bu’ hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s