“Ibu Sudah Pulang ke Rahmatullah” (Kematian)

Malam itu jam menunjukkan pukul 00.24 waktu kota Samarinda. Hari baru saja berganti dari Kamis menjadi Jum’at. Hape ku berdering. Ada satu sms yang masuk. Ku hentikan aktifitasku sejenak. Lekas ku buka inbox lalu ku baca sms itu.

“Ibu sudah pulang ke rahmatullah..” isi sms itu.

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun,” ucapku seraya tersungkur di atas kasurku.

Lima kata. Ya, sms itu hanya berisi lima kata. Tapi kehadiran lima kata itu bagai halilintar menyambar disertai guntur dan petir bersahutan. Lima kata itu membuyarkan konsentrasiku. Sebelumnya, sehabis sholat Isya berjama’ah dengan warga di masjid terdekat dari rumah kostku, aku langsung berkutat setumpuk ketikan dengan laptop. Saat itu aku sedang membuat resensi sebuah buku pergerakan mahasiswa yang baru saja tamat aku baca. Namun, lima kata itu membuatku tidak dapat dan tidak harus melanjutkannya lagi. Aku terkulai lemah tak berdaya.

Dalam perbaringan aku menerawang mencoba menangkap wajah sosok Ibu itu. Namun aku tak bisa menghadirkannya sama sekali. Sosoknya terhalang sesuatu yang tak nampak oleh mata. Sosok Ibu yang telah meninggal itu tak bisa nampak. Aku mengejarnya tapi sama sekali tak sanggup menangkap bayangnya.  Buliran bening pun tak terasa mengalir dari pelupuk mataku. Aku menangis. Ya, aku menangis ketika itu.

“Ibu sudah pulang ke rahmatullah…” ku baca lagi isi sms itu.

Segera ku hubungi nomor pengirimnya. Tapi di-reject. Aku paham. Dia pasti belum bisa menjawab telepon di saat seperti itu. Lekas aku membalas sms itu.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun..saya & jg pastix teman2 lain sangat bersedih & terpukul  dgn kenyataan ini. Tapi, saya yakin semua itu tak sebanding dgn kesedihn yg kamu rasakan skrg saudariku. Sabar..tabah..ikhlaskn kepergian Ibu. Kita doakn & yakini, beliau akn mdpt t4 trbaik di sisi Allah bersama orang-orang yg mendapat petunjuk. Aamiin. Kira2 sktr jam brp tepatx Ibu wafat?” begitu isi sms yang aku kirim.

Tak berselang lama aku mendapat sms balasan.

“Amin. InsyAllah pastinya…:) pukul 00.20,” isi sms yang aku terima.

“Ya Allah..berarti baru beberapa menit yang lalu,” lirihku dalam hati.

“Aku harus beritahu yang lain,” ucapku seraya bangkit dari tempat tidur.

Ku ketik sms begitu terburu selayaknya orang pada umumnya yang mengetik sms di saat genting dan penting.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah Ibunda sdri kita Lilis Sugiarti, Hukum 08 Konsentrasi Lingkungan, Selasa dini hari, 04 Mar’11, (berduka cita),” begitu isi sms yang ku sebar.

Ku sebar ke beberapa nomor di hapeku. Ke nomor teman-teman aktivis mushola Fakultas Hukum Unmul, LDF Al Mizan, ke teman-teman sekelas, ketua tingkat, ketua kelas konsentrasi, dan pastinya ke teman-teman terdekat Lilis di keluarga HMI Fakultas Hukum Unmul. Begitu terburu dan tidak fokusnya aku, ada kesalahan ketik nama hari dalam sms yang ku sebar itu. Ku ketik hari Selasa padahal seharusnya hari Jum’at. Tak berselang lama aku mendapat telepon dari Musbah, teman satu kampus.

“Assalamu’alaikum..” ucapku.

“Wa’alaikum salam..” jawabnya di seberang telepon dengan suara serak, suara khas orang yang baru saja bangun tidur.

“Kau dapat kabar ibunya Lilis meninggal darimana, Chik?” tanya dia padaku.

“Dari Lilis langsung beberapa menit yang lalu, Bah” jawabku.

“Oh begitu, kasihannya. Okeh. Terimakasih-lah infonya. Ku kabari juga teman-teman yang lain. Assalamu’alaikum,” ucapnya.

“Wa’alaikum salam..” jawabku menutup telepon.

Aku beranjak keluar dari kamarku yang terletak di lantai dua rumah kost ini menuju teras depan. Ku tatap langit kota Samarinda yang cukup cerah malam itu, namun hawanya sangat dingin. Begitu dingin hingga membuatku mengginggil. Aku coba membayangkan lagi sosok almarhumah. Namun sia-sia. Tetap saja sosoknya tak bisa ku tangkap. Aku sedih. Sangat sedih ketika itu. Aku terbayang berada di posisi mereka yang ditinggal pulang oleh ibu untuk selama-lamanya.

Ibu yang telah pergi untuk selamanya itu bukanlah ibu kandungku. Beliau adalah ibunda dari seorang mahasiswi teman satu kampusku. Lilis panggilannya. Kebaikan dari puterinya itulah yang membuatku turut merasakan kesedihan yang mendalam ketika mendengar kabar kepergiannya. Dia begitu baik terhadap teman-temannya. Tak terkecuali padaku. Dia sudah ku anggap lebih dari sekedar sahabat. Bahkan layaknya saudari angkat.

Sebelum menemui ajalnya, almarhumah mendapat penyakit yang cukup keras. Itu yang ku ketahui dari teman-teman terdekat Lilis dan dari Lilis sendiri. Beragam usaha penyembuhan telah ditempuh oleh keluarga. Mulai dari penanganan secara medis hingga metode pengobatan alternatif. Keluarga sudah berusaha sangat maksimal. Namun Allah berkehendak lain. Allah memanggil beliau untuk kembali ke sisi-Nya pada hari Jum’at tepat tengah malam lewat dua puluh menit tanggal 04 Maret 2011.

Dalam lamunan, aku terbawa merenungi potongan ayat suci Al Qur’an Surat Al-‘Ankabut ayat 57 :

“Kullu nafsin dzaaikatul mauti, tsumma ilainaa turjauun”

(Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan)

Kematian. Sesuatu hal yang telah ditetapkan oleh Allah akan pasti dialami oleh setiap makhluk, tak terkecuali manusia. Baik itu manusia yang meyakini-Nya maupun bagi mereka yang ingkar. Kapan, dimana, dan bagaimana kematian itu menghampiri manusia adalah rahasia Allah. Manusia akan tahu ketika kematian itu telah menemui Si Fulan.

Seketika itu juga, aku teringat Ibu dan Ayahku yang ada di tempat asalku nun jauh di pelosok Sulawesi Selatan sana. Bulir-bulir air mataku pun mengalir membentuk anak sungai di pipi.

“Bagaimana kabar mereka ya Allah? Lindungilah mereka selalu dalam naungan-Mu,” lirihku dalam hati.

Aku lalu beranjak dari lamunanku. Aku hendak mengambil air wudhu di lantai dasar kost. Setelah menampung aliran kecil air yang tersendat-sendat dari kran, cukuplah buatku untuk berwudhu. Sudah dua bulan lebih air di area pemukiman warga kami langka. Seandainya malam itu air tidak mengalir sama sekali, esoknya mungkin kusambangi kantor PDAM Samarinda! (terbawa emosi…)

Aku sholat dua raka’at. Dalam doa aku memohon keselamatan untuk almarhumah ibunda saudariku, Lilis. Mendoakan kerabat yang ditinggalkan agar sabar, tabah, dan ikhlas atas kepergian beliau. Juga tak lupa doa untuk kedua orang tuaku tercinta. Ketika itulah air mataku tak terbendung lagi. Aku sangat mencintai kedua kedua orang tuaku. Mereka sangat berarti bagiku. Merekalah yang telah berjasa mendidikku untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan takut akan murka-Nya. Aku tak akan pernah sanggup memberikan sebanyak yang telah mereka berikan kepadaku. Aku takut, tidak mau, dan tidak akan pernah berniat untuk mengecewakan mereka. Amin..

Aku iri pada Lilis. Iri yang membuahkan dampak positif, Insya Allah. Aku melihat sosok yang begitu kuat dan tegar dalam diri Lilis. Semasa ibunya sakit ketika beliau masih hidup, ia dan keluarganya mendapat ujian ganda. Ayahnya tiba-tiba mendapat musibah yang mengharuskan beliau dirawat di salah satu rumah sakit di kota Samarida. Aku lupa tepatnya musibah itu menimpa ayah Lilis di Samarinda ataukah di tempat asal mereka di kota Bontang, kota yang harus ditempuh sekitar dua jam lebih perjalanan darat dari Samarinda. Semasa itu jugalah dia harus membagi waktu dengan keluarganya untuk merawat dan mendampingi kedua orang tuanya. Dia selalu setia mendampingi ayah ataupun ibunya.

Lilis pernah mengabari kami teman-temannya ketika ayahnya dirawat di rumah sakit saat itu. Aku pun berniat menjenguk beliau ke rumah sakit. Tapi (sesal), kepadatan aktivitas kampus membuatku tidak langsung menjenguk beliau. Beberapa hari kemudian (aku lupa tepatnya berapa hari) barulah aku sempat akan menjenguk beliau. Tepatnya sehabis sholat magrib, bersama beberapa teman yang lain kami akan ke rumah sakit tempat ayah Lilis dirawat. Tapi tak kesampaian. Ternyata ayahnya sudah keluar dari rumah sakit. Kata Lilis, dokter sudah mengizinkan untuk pulang. Aku bersyukur beliau telah pulang namun juga menyesal tidak sempat menjenguk beliau lebih awal ketika itu.

Pernah suatu hari juga aku menyaksikan pengorbanan Lilis. Pengorbanan yang menunjukkan baktinya kepada orang tua. Bakti yang tak perlu diperjelas dengan kata-kata manis. Bakti yang cukup ditunjukkan dengan sikap nyata. Dia terpaksa harus meninggalkan beberapa pertemuan mata kuliahnya untuk mendampingi ibunya yang sedang kritis. Dia bolak-balik Samarinda-Bontang tanpa mengenal kata lelah. Pagi hari sebelumnya dia mengabari kami harus pulang ke Bontang untuk menemui ibunya. Dia minta tolong agar bisa diizinkan tidak masuk kuliah hari itu. Keesokan paginya aku mendapati dia lagi sedang ada di kampus mengurus izinnya untuk tidak masuk kuliah selama beberapa hari. Dia juga menemui langsung dosen-dosen mata kuliah bersangkutan satu per satu. Sore harinya dia sudah kembali pulang ke Bontang. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan pengorbanannnya. Padahal sudah kami katakan padanya agar menyerahkan masalah izinnya itu kepada kami sahabat-sahabatnya. Tapi dasar Lilis, dia sungkan merepotkan kami bagitu banyak. Kedua orang tuamu sangat bangga dan berbahagia dengan apa yang kau lakukan itu, saudariku, aku yakin itu.

Untukmu,

untukku,

untuk semuanya,

buat kalian yang terlahir dari rahim seorang ibu,

buat kalian yang besar atas peluh keringat seorang ayah,

buat kalian para sahabat,

saudara-saudariku se-iman,

serta setiap insan manusia,

berbaktilah pada kedua orang tua kita, dan bersabarlah menghadapi ujian. Karena sesungguhnya Allah telah menyiapkan kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar.

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun(sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kami dikembalikan). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al Baqarah (2) : 155-157)

Dear Lilis, we are here with you, Sister.

~True Story~

Jum’at, 04 Maret 2011

Dari salah satu bilik sederhana, Kost Maharani.

Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke “Ibu Sudah Pulang ke Rahmatullah” (Kematian)

  1. Priya berkata:

    😥 semua yang bernyawa akan kembali padaNya,
    Tak ad yg tau kapan, dimana dan saat sedang apa…
    Semoga nanti diprtemukan kembali disurgaNya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s