“Cerita Lain dari Banjir Kota Tepian, Samarinda”

Saya ingin berbagi cerita sedikit tentang kota Samarinda. (Ceritanya sedikit sih, tapi tulisannya panjang. Hehe..). Sampai saat ini, kota Samarinda masih berstatus ibukota provinsi Kalimantan Timur. Kota ini identik dengan cuaca panas. Itulah kesan awal yang saya tangkap saat kali pertama menginjakkan kaki di kota ini tiga tahun yang lalu. Tidak heran karena letaknya yang tak begitu jauh dari garis khatulistiwa jika dilihat dalam peta.

Kota ini juga berjuluk Kota Tepian. Saya belum mendapat filosofi dasar dari para “ahlinya” hingga kota ini mendapat julukan keren itu. Tapi kesimpulan saya saat ini, mungkin karena kota ini letaknya yang berada di tepian Sungai Mahakam. Sungai yang tercatat sebagai sungai terlebar di Indonesia. Bagi masyarakat sekitar, sungai ini juga menyisakan cerita tersendiri : cerita misteri nan angker. Ingin tahu mengapa dan seperti apa ? Silahkan berkunjung ke Samarinda.

Kesan Samarinda kota yang panas tak bertahan begitu lama. Setahun di kota ini saya mendapat kesan baru. Kota ini identik dengan cuaca yang tidak jelas. Cuaca ekstrem. Itulah sebutan saya untuk cuaca Samarinda. Terkadang di tengah terik matahari, tanpa permisi tiba-tiba turun hujan deras. Warga pendatang yang belum beradaptasi total dengan cuaca itu, harus siap-siap mendatangi apotek terdekat untuk membeli obat demam atau flu.

Fenomena alam ini jadi momok bagi warga Samarinda. Aktifitas rutin warga jadi terganggu, acara yang sudah terjadwal harus batal karena hujan, dan dampak paling tak disukai dari hujan ketika mengguyur adalah banjir!

Itulah gejala alam yang menggoroti Samarinda bertahun-tahun terakhir. Paling mengherankan bagi saya di masa awal, hujan yang turun terkadang tak berlangsung lama. Hujan deras hanya butuh waktu kurang dari dua jam dan binggooo….banjir hampir terjadi di seluruh wilayah Samarinda. Penyebabnya beragam. Mulai dari tata ruang kota yang semrawut, sistem drainase yang tak berfungsi optimal, pendangkalan Sungai Mahakam dan Sungai Karang Mumus yang berfungsi sebagai aliran pembuangan genangan air banjir, kesadaran warga untuk menjaga kebersihan sangat rendah, pelaksanaan perda yang tak tegas, dan terparah karena kota ini telah dikelilingi oleh aktifitas tambang!

Terkadang di beberapa kasus banjir, wilayah yang berdekatan dengan lokasi tambang mendapat jatah ekstra yaitu banjir lumpur. Topik banjir menjadi salah satu topik pembicaraan teratas dalam deretan “tangga” problem kota Samarinda. Pada moment tertentu, topik banjir menjadi objek jualan andalan para politikus untuk menarik simpati dan dukungan warga.

Tapi di sini saya tak hendak bercerita tentang peliknya penanganan banjir di kota ini. Saya ingin berbagi kesan lain saat banjir menggenangi Samarinda. Lewat jepretan kamera saku yang belakangan sering terbawa olehku, beragam pemandangan banjir berhasil kutangkap.

Seperti banjir yang terjadi pada hari Minggu sore yang lalu. Tepatnya tanggal 10 Juli 2011. Sama dengan banjir-banjir sebelumnya, kali ini juga diakibatkan hujan deras yang mengguyur Samarinda hanya sekitar satu jam setengah. Hujan yang turun bersamaan dengan kumandang adzan sholat Ashar sore itu memang terkesan “angker”. Bagaimana tidak, selain deras, turunnya juga disertai petir dan guntur bersahutan serta angin kencang.

Saat hujan terjadi, saya dan teman kelompok KKN lainnya sedang sholat berjamaah bersama warga di Masjid Daarul Falihin, Kompleks Perumahan Batu Alam Permai, Juanda. Kebetulan lokasi posko KKN kami berada di kompleks perumahan elit ini. Selesai sholat ashar, hujan semakin mengamuk. Karuan saja kami tetap berteduh di masjid. Singkat cerita, semua pada ketiduran…lelah!

(Gambar 1 : Mesjid Daarul Falihin, nampak dari sisi kanan masjid)

Sekitar pukul lima lewat tiga puluh menit, hujan mulai reda. Kami kembali ke posko. Seorang teman usul langsung balik saja ke kampus. Sebut saja namanya Arief. Tapi oleh teman yang lain, Iwan, menyarankan agar ditunda dulu.

“Pulang yuk…udah gak ada kerjaan juga,” ajak si Arif. “Entar habis magrib saja, jam segini biasanya jalan macet, belum lagi habis hujan deras, pasti banjir.” timpal Iwan. Kayaknya si Iwan ini sudah hafal dengan keadaan Samarinda.

Tapi si Arif tetap ngotot untuk pulang. Karena Arif tak membawa motor, dia dibonceng Iwan, Iwan akhirnya mengiyakan. Aneh mereka ini. Siapa yang ngikut dibonceng, siapa yang ngotot mengatur. Alhasil mereka pulang duluan. Tinggallah saya di posko KKN bersama seorang teman, Adit, kebetulan dia tuan rumah posko. Karena cewek-ceweknya juga sudah ikut pulang duluan.

Menjelang jam enam saya putuskan untuk ikut pulang lebih awal. Menyusuri Jalan Juanda 7, wow…benar saja, separuh jalan sudah tergenang banjir. Tingginya mencapai lutut orang dewasa. Kali ini saya beranikan diri untuk menerobos banjir. Alhamdulillah sampai di ujung jalan motor saya selamat tanpa mogok. Tapi, ketegangan baru saja dimulai. Kemacetan panjang terjadi di sepanjang Juanda 8. Meskipun ketinggian air di jalan ini tak setinggi banjir di Juanda 7.

Sudah terlanjur ikut arus, pantang untuk kembali. Terpaksa saya ikut antrian yang bergerak merangkat pelan itu. Pengendara motor harus ekstra hati-hati. Salah sedikit mengendalikan arah motor, bisa langsung nyemplung ke got di kiri-kanan jalan. 15 menit berjalan, tak ada tanda-tanda kemacetan itu akan berkurang. Malah semakin menjadi-jadi. Dari titik awal saya hanya berpindah tak lebih dari 20 meter. Saya putuskan untuk berhenti memarkir motor bersama beberapa pengendara motor lainnya di sebuah pekarangan rumah warga. Kebetulan, pekarangan rumah warga itu agak lebih tinggi dari badan jalan.

Tak berselang lama, saya menerima sms dari Iwan. “Akh…jalanan banjirr,” isi sms Iwan. “Tauu…nie juga lagi terperangkap akh,” balasku. “Dimana? motor mogok?” tanya dia lagi. “Hehe…Alhamdulillah belum mogok, di Juanda 8,” balasku. “Syukurlah, jangan sampe mogok ya. Tadi motor teman ada yg mogok di lampu merah Juanda,” balasan Iwan.

Pengendara lain yang nampak mulai frustasi mencoba mencari jalur alternatif lain. Tapi hasilnya nihil. Mereka kembali lagi ke posisi awal. Nampaknya di jalur lain keadaannya juga sama. Dari lokasi itu saya sempatkan untuk mengambil gambar kemacetan di tengah banjir Juanda 8.

(Gambar 2 : Banjir dan kemacetan di sepanjang Jalan Juanda 8)

Tak lama kemudian adzan magrib berkumandang. Saya perkirakan jika ikut antrian panjang kendaraan ini, saya mungkin belum sampai ke rumah hingga masuk waktu sholat isya. Belum lagi ancaman motor mogok di tengah jalan. Sedangkan mesjid terdekat dari posisi itu adanya di Juanda 7. Saya putuskan untuk memutar balik arah ke Juanda 7. Sebelumnya kan sudah berhasil lolos tanpa mogok. Hehe.

Selesai sholat magrib berjama’ah dengan warga, saya istirahat sekitar setengah jam. Hitung-hitung menunggu banjir surut dan kemacetan berkurang. Kembali ke Juanda 8, ups…perhitungan saya salah, jumlah kendaraan malah semakin memenuhi ruas jalan. Saya putuskan untuk tetap mengikuti antrian itu. Target lokasi terdekat saya adalah Kompleks Juanda Plaza. Itu lokasi aman bebas banjir.

Setelah bersabar “merangkak” bersama pengendara lain, akhirnya sampai juga di titik tujuan, Juanda Plaza. Di lokasi itu saya putuskan untuk beristirahat lebih lama. Kompleks Junda Plaza terhubung langsung ke Jalan Juanda utama yang juga dilanda banjir. Nampak begitu jelas antrian yang lebih parah panjangnya.

Setelah memarkir motor di lokasi teraman, saya lalu bergerilya untuk memotret berbagai moment di lokasi itu.

(Gambar 4 : Banjir menggenangi Jalan Juanda, depan Kompleks Juanda Plaza)

Jalan Juanda adalah salah satu titik langganan banjir hujan. Titik lainnya yaitu Jalan Sutomo, Simpang Vorvoo (Simpang Mall Lembuswana), Jalan P. Antasari, Jalan Banggeris, Simpang Empat Sempaja, Jalan Bengkuring, Jalan Kusuma Bangsa, . . . .

Saat itu jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Tapi kemacetan belum menunjukkan tanda-tanda akan berkurang. “Kendaraan sebanyak ini darimana datangnya? Tak kusangka kendaraan di Samarinda sudah bisa membuat kemacetan seperti ini,” celetuk seorang warga di samping saya yang ikut menyaksikan kemacetan itu. “Datang dari dealernya masing-masinglah…masa dari langit…haha,” timpal seorang warga disebelahnya. Timpalan yang membuat saya ikut tertawa.

Di lokasi itu terdapat simpang jalan yang menghubungkan jalan Juanda utama dengan Juanda 7. Seperti nampak pada Gambar 5 dan 6, titik itu menjadi salah satu biang kemacetan. Itu sebab tak ada polisi lalu lintas yang mengatur jalannya kendaraan. (Ya iyalah tak ada, mereka juga kan terjebak macet, atau mungkin sudah mogok motornya di tengah jalan). Tak satu pun juga warga yang berinisiatif untuk menggantikan peran polisi lalu lintas saat itu. Termasuk saya sendiri. (Sebenarnya pengen sih, tapi kalau saya yang turun tangan, yang jeprat-jepret siapa donk? hehe…)

(Gambar 5 : Kemacetan di simpang jalan Juanda - Juanda 8). (Gambar 5 : Kemacetan di simpang jalan Juanda – Juanda 8).

(Gambar 6 : Kemacetan di simpang jalan Juanda utama – Juanda 8).

Penasaran dengan kendaraan yang gagal lolos menerjang banjir? Jangan kuatir, saya berhasil menangkap beberapa gambar pengendara yang terpaksa mendorong motornya yang mogok di tengah jalan. Seperti pada Gambar 7, 8, dan 9 di bawah ini.

(Gambar 7 : Seorang pengedara motor terpaksa mendorong motornya yang mogok di tengah banjir)

(Gambar 7 : Seorang pengedara motor terpaksa mendorong motornya yang mogok di tengah banjir).

(Gambar 8 : Bapak ini akhirnya sampai juga di tempat yang airnya lebih dangkal)

Gambar 8 : Bapak ini akhirnya sampai juga di tempat yang airnya lebih dangkal).

(Gambar 9 : Pengendara satu ini pun turut jadi korban banjir)

(Gambar 9 : Pengendara satu ini pun turut jadi korban banjir).

Motor para pengendara ini mogok tidak hanya karena mesin motornya terendam air, tetapi ada juga yang mogok karena kehabisan bahan bakar di tengah jalan. Itu karena panjangnya antrian kemacetan. Musibah bagi pengendara jalan itu menjadi berkah bagi para penjual bensin eceran yang berjejer rapi di sepanjang jalan. Beruntung harga jual ecerannya masih normal.

(Gambar 10 : Beberapa pengendara motor memilih untuk beristirahat sejenak. Entah karena kelelahan, takut mogok, atau mengatur strategi menembus banjir dan kemacetan. hehe)

Bagi banyak orang, banjir adalah musibah yang menjadi kendala untuk beraktifitas. Tapi tidak bagi para penjual makanan di Kompleks Juanda Plaza. Meskipun banjir melanda, usaha mencari nafkah hidup tetap mereka jalankan. Meskipun harus berjualan di atas air (Seperti nampak pada Gambar 11). Saya pun sempat mewawancarai salah satu dari mereka. Nama penjual gorengan itu adalah Sugeng.

“Permisi Pak, biar banjir gini jualannya tetap buka ya?” tanyaku. “Iya, Mas. Airnya kan belum terlalu tinggi. Mau beli?” ucap beliau. “Salut Pak. Boleh. Pisang goreng sama tahu isinya tiga ribu Pak yah. Gak takut gerobak Bapak terbalik diterjang gelombang air kalau mobil besar lewat?” saya kembali bertanya. “Kaki-kakinya udah dipasang pengaman di bawahnya. Kalau banjirnya sampe lewat lutut, nah…baru kami gak berani buka gerobak, Mas. Ini gorengannya.” jawab beliau sambil menyodorkan pesanan saya. “Oh begitu. Siip…moga jualan Bapak laris. Ini duitnya. Makasih Pak ya.” ucapku.

Luar biasa perjuangan Anda Pak.

(Gambar 11 : Banjir melanda, jualan tetap buka, demi nafkah anak istri di rumah)

(Gambar 12 : Salah satu gerobak penjual makanan tetap beroperasi di tepi jalan Juanda yang sedang dilanda banjir).

(Gambar 13 : Nampak barisan PKL berjejer rapi di pinggiran depan Kompleks Juanda Plaza. Mereka tetap diizinkan beroperasi oleh pengelola setempat karena mereka mampu menjaga kebersihan lingkungan tempat mereka berjualan. Dan pastinya patuh nyetor iuran tempat).

Sudah hampir satu jam saya berada di kompleks itu. Tapi kemacetan belum juga berkurang. Perut saya mulai meminta jatah lagi. Padahal tadi baru saja diisi dengan gorengan Pak Sugeng. Saya memang cepat merasa lapar. Tapi heran…gak gemuk-gemuk juga. Hehe…Saya putuskan kembali membeli makanan jajanan. Pilihan saya jatuh ke kue terang bulan rasa cokelat susu. (Maaf jika membuat Anda terpaksa menelan rasa).

(Gambar 14 : Sekotak kue terang bulan rasa cokelat susu menjadi pengsisi perut saya malam itu)

Pukul 20.30 saya putuskan untuk bergerak ke Simpang Vorvoo depan Mall Lembuswana. Di sana biasanya menjadi salah satu titik antrian panjang jika banjir terjadi. Menyusuri Jalan Juanda, saya memilih berada di jalur kanan badan jalan. Airnya lumayan lebih dangkal di banding sisi kiri.

Tak berselang lama, sampai juga di daerah Vorvoo. Saya memarkir motor di pos pangkalan ojek Vorvoo. Terlihat sangat sepi, hanya tersisa satu motor terparkir tanpa pemiliknya. Maklum, pos itu sudah terbenam air setinggi betis orang dewasa. Ternyata para Ojekers Vorvoo tak libur malam itu. Hanya berpindah pangkalan untuk sementara waktu. Mereka memilih nongkrong di atas trotoar tak jauh dari Pos Polisi Simpang Vorvoo. Seperti nampak pada Gambar 15.

(Gambar 15 : Pengendara ini bukan korban motor mogok akibat banjir. Mereka Ojekers Vorvoo yang tetap narik sekalipun banjir melanda jalanan). Tariiikk Maangg….!!

Banjir itu tak pandang bulu kelas atau pekerjaan warga. Motor Pak Pulisi pun turut jadi korban banjir. Hehe…

(Gambar 16 : Salah satu petugas polisi nampak sedang berusaha menyalakan mesin motornya yang mogok akibat banjir)

Suasana Simpang Vorvoo depan Mall Lembuswana memang menjadi salah satu pusat pertemuan kepadatan arus lalu lintas. Alhasil jika banjir, titik ini menjadi pusat keramaian antrian. Seperti nampak pada Gambar 17. Namun banjir kali ini belum sedalam banjir pada 2007 silam. (Kok tahu? Hasil penelusuran di koran lokal…)

(Gambar 17 : Nampak warga mencoba melintasi jalan yang sedang tergenang banjir di Simpang Mall Lembuswana).

Untuk mengambil gambar ini saya bela-belain memanjat pot bunga raksasa di taman tepat di tepi jalan loh..Sebenarnya sempat terbersit keinginan untuk mengambil gambar dari atas menara Masjid Al Ma’ruf di seberang jalan. Tapi nyali saya Alhamdulillah segera menciut. Kalau ada insiden jatuh, kan gak lucu. Masak saya yang harus jadi headline media. Beritanya buruk pula.

Cerita lain dari banjir, tak selalu menghadirkan derita. Buktinya, ada saja warga yang mendapat berkah lebih dengan datangnya banjir. Seperti nampak pada Gambar 18. Warga ini memanfaatkan kelebihan debit air di Volder Vorvoo untuk menangkap ikan. Caranya pun cukup unik bagi saya. Bukan dengan pancing biasa. Tapi dengan pancing pukat. Sekali angkat, bisa langsung dapat ikan lebih dari satu ekor. Sekali angkat pula, kadang tak dapat satu ekor pun. Hehe…keren.

(Gambar 18 : Beberapa warga yang memanfaatkan luapan banjir volder Vorvoo untuk menangkap ikan dengan pancing pukat)

Volder Vorvoo adalah salah satu proyek penanganan banjir wilayah Vorvoo. Kolam volder ini dibuat untuk difungsikan sebagai kolam penampungan air jika hujan mengguyur Samarinda khususnya daerah Vorvoo. Namun bukannya menjadi kolam penanganan banjir, malah menjadi kolam sumber banjir. Mengapa tidak? Kolam ini tak terawat sama sekali. Kolam ini sudah mengalami pendangkalan parah hingga tak mampu lagi menampung debit air dalam jumlah besar.

Menurut Kepala Dinas Marga & Pengairan Kota Samarinda, Dadang Airlangga, pihaknya telah menyiapkan desain program penanganan banjir, seperti di Simpang Vorvoo sejak tahun 2010 namun tak bisa terealisasi akibat APBD kota Samarinda sedang defisit. Desain program itu salah satunya berupa pengerukan Volder Vorvoo, seperti diberitakan di koran Tribun Kaltim, edisi Kamis, 14 Juli 2011, halaman Tribun Samarinda. Semoga saja di APBD 2011 dapat terealisasi. Amin. (Gambar 19 : Hasil ikan tangkapan warga dengan pancing pukat di Volder Vorvoo).

Setelah puas mengambil gambar di sekitar Vorvoo, saya putuskan untuk berpindah lokasi. Pilihan selanjutnya adalah Jalan Pramuka. Salah satu titik langganan banjir jika hujan deras terjadi. Kebetulan saya tinggal di area Pramuka juga, jadi sekalian pulang. Saya memilih untuk masuk ke jalan Pramuka dari arah jalan M. Yamin. Ternyata pilihan yang salah. Banjirnya gede . Tak berani menorobos ah. Saya terpaksa memutar jalur masuk lewat pintu Gerbang Utama kampus Universitas Mulawarman (Unmul). Jalan Pramuka terhubung langsung dengan pintu Gerbang Belakang kampus Unmul dan Jalan Perjuangan. Malam itu kampus nampak sepi sekali. Dinginnya cuaca menghadirkan aura angker. Hehe.

Tiba di pintu belakang kampus Unmul, benar saja, banjir menggenangi simpang tiga Gerbang Belakang Unmul – Jalan Pramuka – Jalan Perjuangan. Seperti nampak pada Gambar 20.

(Gambar 20 : Banjir menggenangi simpang tiga Pintu Gerbang Belakang Unmul – Jalan Pramuka – Jalan Perjuangan. Pada gambar : ke arah kiri menuju Jalan Pramuka. Lurus ke depan menuju Jalan Perjuangan. Ke arah belakang (arah depan mobil) menuju kampus Unmul).

(Gambar 21 : Jalan Pramuka yang sudah menjadi lautan banjir (lebay mode on). Nampak seorang pengendara wanita sedang berhenti di tengah jalan. Kayaknya bimbang tuh. “Ayo Mbak, berani gak menerobos? Hehe…”

(Gambar 22 : Nampak pintu akses gerbang belakang kampus Unmul juga ikut tergenang banjir)

Setelah mengambil beberapa gambar, saya pikir waktunya untuk pulang. Ups…mesin motor saya tak bisa dinyalakan. Saya kaget bukan main. Ini bukan waktu yang tepat untuk mogok. Setelah periksa lebih teliti, ternyata bensinnya habis. Alhamdulillah, tak jauh dari situ ada warung yang juga menjual bensin eceran. Terbebaslah saya dari adegan mendorong motor.

Saya pun pulang ke rumah lewat jalur belakang pramuka 6 yang biasanya masih bisa dilewati motor. Tapi malam ini saya bernasib sial. Jalan Pramuka 6 keburu dibokir oleh warga. Bukan karena keegoisan warga, tapi demi keselamatan pengendara jalan. Karena menurut warga, di beberapa titik banjirnya cukup dalam. Riskan jika dipaksakan untuk dilewati motor. Benar saja, jalan pramuka 6 di beberapa titik memang agak rendah.

(Gambar 23 : Demi keselamatan pengendara itu sendiri, warga menutup Jalan Pramuka 6 dengan kursi dan besi sehingga tidak dapat dilewati kecuali dengan berjalan kaki).

Apes dah nasib. Padahal jarak kost saya tinggal dua blok saja dari lokasi itu. Tiba-tiba hape saya berdering. Ardan, teman KKN menelpon.

“Asslamu’alaikum,” salam di seberang telpon. “Wa’alaikum salam,” jawabku. “Antum dimana akh?” tanya dia. “Di area Pramuka, aya naon?” tanyaku balik. “Este emje-an yuk…di Juanda 6, disini ikhwan KKN kita lengkap nih,” jawabnya. “Hee…Emang gak banjir disitu?” tanyaku keheranan. “Nggak, Juanda udah mulai surut. Kesini ya, ditunggu.” ucapnya. “Baeklah…tapi awas loh ya kalau sampe motor saya mogok, ta jotos memang!” jawabku. “Hehe…siip…kabari kalau mogok, Assalamu’alaikum” ucapnya.

(Gambar 24 : Sekumpulan anak muda menikmati aneka minuman hangat di lapak PKL Juanda 6). Uniform Atasan sih keren, almamater kebanggaan terpasang dengan rapi. Bawahan? Haduh…korban nyeker kebanjiran. Hehe..

(Gambar 24 : Sekumpulan anak muda menikmati aneka minuman hangat di lapak PKL Juanda 6). Tetap kompak di dalam dan di luar jam kerja KKN. “Tim 135, Solid!”

(Gambar 25 : Sekolompok peserta KKN membantu warga mengangkat motor yang terjebak banjir). Proker dadakan. Jangan lupa dicantumkan dalam laporan kerja ke pihak LPPM. Haha…nilai A menanti Anda.

(Gambar 26 : Peserta KKN 135, memanfaatkan genangan banjir sebagai tempat cuci motor gratis). Cerdik memanfaatkan situasi.

(Gambar 27 : Jika ada sekumpulan anak muda yang berwisata di tengah banjir kota, salah satunya adalah mereka. Termasuk penulis)

Penasaran seperti apa awan tebal yang menyelimuti langit kota Samarinda sebelum hujan turun? Senin sore (11/07/2011), saya sempat mengambil gambar langit kota Samarinda yang sedang dipenuhi awan hitam tebal. Pertanda akan turun hujan sangat deras. Seperti nampak pada Gambar 28.

(Gambar 28 : Awan hitam tebal menyelimuti langit kota Samarinda. Pertanda hujan deras akan turun).

Gambar ini saya ambil dari jalan Pramuka. Saat itu saya sedang menikmati hidangan lezat Nasi Soto di sebuah warung makan. Sekitar pukul 17.00, langit tiba-tiba saja ditutupi awan hitam disertai angin kencang. Masih trauma dengan banjir besar pada hari Minggu sebelumnya, warga pun nampak panik kocar kacir mengamankan barang-barang rumah yang terancam genangan air. Seorang ibu dari sebelah warung berkomentar. “Waduh…belum selesai bersih-bersih rumah mau hujan deras lagi. Tanda-tanda banjir nih,” tuturnya agak sedikit kesal.

Saya hanya bisa menghela nafas mendengar tuturan ibu itu. Menurut kalian awan itu akan menghadirkan banjir lebih besar dari hari sebelumnya? Jawabannya : Tidak! Padahal banjir sebelumnya tak diawali dengan awan hitam tebal seperti pada gambar. Tapi langit yang cerah sanggup menurunkan air lebih banyak. Saya pun keheranan dengan fenomena itu. Bisa jadi itu adalah efek pemanasan global yang semakin parah. Tapi kesimpulan tertinggi lainnya, itulah Kebesaran dan Kekuasaan Tuhan. Allahu Akbar…!

Itulah cerita dari sisi lain banjir Kota Tepian, Samarinda. Bagi Anda yang belum pernah berkunjung ke Samarinda, jangan ragu untuk berkunjung ke kota ini. Bagi Anda yang sudah berencana akan berkunjung ke kota ini, jangan pernah berpikir untuk menunda atau membatalkan kunjungan Anda. Tidak hanya banjir, banyak cerita lain yang dapat Anda rasakan dari kota ini. Setiap daerah memberikan kesan tersendiri bukan? Itulah yang membedakan kota atau daerah yang satu dengan yang lainnya.

Bagi kalian para pelajar yang hendak melanjutkan jenjang studi di Samarinda, jangan ragu atau bimbang. Banjir tak kan jadi kendala kalian untuk menuntut ilmu. Banjir di kota ini akan menghadirkan kisah unik tersendiri bagi kalian.

So, welcome to Samarinda. Ini pengalamanku. Selamat merangkai cerita dan pengalamanmu sendiri. Janga lupa berbagi ya. “Semangat Berbagi & Menginspirasi”

(Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca catatan ini)

Penulis : @SurahmanJie Tukang Poto-Poto : Chiko Kamera : Camera Pocket, Canon PowerShot A4BO, 10.0 Megapixels. Model : Ardan, Adit, Arif, Iwan. Lokasi : Jalan Juanda, Simpang Mall Lembuswana, Jalan Pramuka.

Tertuang juga di Facebook saya:
https://www.facebook.com/notes/surahman-al-malik/cerita-lain-dari-banjir-kota-tepian-samarinda/10150376976128989

Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke “Cerita Lain dari Banjir Kota Tepian, Samarinda”

  1. feny berkata:

    ceritanya lucuuu ya,,,baguusss…..tadinya q gak niat baca, tp baca awalnya malah jd penasaran….. km berbakat jd penulis, lanjutkaaannnn…………
    angkat cerita sisi lain kota samarinda……tp jgn yg jelek jeleknya aja, yg bagus bagus jg….. ^^

  2. Surahman 74 berkata:

    terimakasih…:)
    memang sedang belajar untuk menulis…hehe..
    sedang dlm penggarapan juga untuk tulisan sisi lain kota Samarinda.

  3. nurihsan berkata:

    lah, itu mesjid darul falihin mesjid dekat rumah saya. penulis orang samarinda juga ya?tapi kok kkn di komp. bap, samarinda?

  4. ronald liem berkata:

    Dear Surahman

    surahman bagus bagus nanti ungkit bajir di simpang 4 sempaja ya .hahahhaa

    salam,
    ronald (Mantan Kating mu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s