Engkau Yang Mana ?

Indonesia dikenal memiliki sejarah panjang dalam perjuangannya untuk muncul menjadi sebuah bangsa dan negara. Menjadi sebuah kesatuan yang kemudian ikut serta dalam pergaulan lintas bangsa dan negara di dunia internasional.

Dalam sejarah panjang itu, telah banyak tercatat nama yang dikenal berjasa oleh sejarah. Mereka berjasa mewujudkan munculnya bangsa dan negara Indonesia. Mereka diberi label pahlawan. Nama mereka dikenal kebesaran dan keharumannya hingga saat ini. Mereka dikenal dan diketahui cerita hidupnya meski kita tak pernah berjumpa dengannya. Catatan sejarah memberitahukan kita tentang mereka. Sebutlah nama Soetomo, DR. Wahidin Sudiro Husodo, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Soekarno, Moh. Hatta, hingga Jenderal Soedirman dan banyak lagi manusia lainnya baik yang tercatat maupun yang tidak tercatat dalam sejarah Indonesia.

Muncul sebuah tanya, mengapa bisa nama mereka tercatat sejarah? Jawabnya mari kita sederhanakan, mereka dikenal karena pemberiannya, pengorbanannya, kontribusinya, kebaikan-kebaikan yang mereka persembahkan untuk bumi pertiwi. Semua itu telah membuatnya berjasa. Nama mereka dicatat dengan tinta emas sejarah Indonesia. Sebuah gambaran sederhana namun tidak bisa menyederhanakan jalan kehidupan mereka yang penuh heroikme perjuangan dan pengorbanan.

Begitu juga sebaliknya, sejarah mencatat banyak nama yang dikenal hingga lintas zaman. Tapi mereka dicatat bukan karena kebaikannya, tapi keburukannya. Mereka dicatat sejarah sebagai manusia yang disesali kelahirannya, penjahat kemanusiaan, para pecundang kehidupan. Nama mereka terabadikan dengan tinta hitam kelam sejarah. Mereka diingat, namun tidak dikenang dalam kebaikan, melainkan dikutuk dalam keburukan. Sebutlah nama (silahkan lanjutkan sendiri dengan nama-nama yang Anda ketahui catatan hidupnya hadirkan penderitaan bagi umat manusia. Baik penderitaan bagi manusia sebangsanya, maupun penderitaan bagi bangsa dan negara lain yang ada didunia semasa hidupnya).

Mereka, para pahlawan dan para penjahat, adalah dua pelaku kehidupan yang memberikan dampak signifikan ke dalam corak kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara kita hingga hari ini. Kehidupan para pahlawan diisi dengan perjuangan dan pengorbanan. Para pahlawan di masa lalu memperjuangkan kehidupan masyarakat dan bangsanya agar terbebas dari belenggu penjajahan bangsa lain dengan senjata. Mereka berjuang dan berkorban di antara ancaman moncong senjata lain yang nyata-nyata terarah kepada mereka. Namun mereka tak bergeming. Tujuan mereka hanya satu: Indonesia Merdeka! Meski tubuh sendiri harus terburai oleh bom sebagai jalannya.

Hari ini, Indonesia masih tetap butuh para pahlawan, butuh orang-orang yang rela berjuang dan berkorban untuk negerinya. Namun bukan lagi para pahlawan yang berjuang dengan senjata semata seperti di masa lalu. Ladang perjuangan kini berubah, lawannya tidak lagi berwujud fisik saja, ancamannya bukan lagi moncong senjata, medannya pun kini tidak satu tempat saja. Masih dibutuhkan para pahlawan diberbagai lini kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kita. Sebutlah kebutuhan kita akan pejuang pendidikan, penegak hukum, pejuang keadilan, pelindung yang lemah, penopang persatuan dan kesatuan bangsa, penjaga hak asasi manusia, penjaga harkat, derajat, martabat, dan juga harta rakyatnya.

Kerja-kerja pahlawan di masa kini tidak bisa disamakan dengan kerja-kerja pahlawan di masa lampau. Namun kerja-kerja itu hanya bisa dikerjakan oleh pahlawan masa kini. Karena pahlawan masa lampau sudah mewariskan tugas dan tanggungjawab tersebut ke mereka pahlawan masa kini. Kerja-kerja pahlawan hari ini mungkin tidak sehebat, tidak seheroik, tidak sebesar, dan tidak se’wow’ kerja pahlawan pendahulu. Namun sekecil apapun kerja pahlawan hari ini, kerja itu sangat dibutuhkan dan diharapkan berdampak untuk kebaikan masyarakat, bangsa, dan negara tercinta: Indonesia. Mereka memulai dari hal apapun yang bisa mereka lakukan, apapun pekerjaan dan posisi mereka dalam masyarakat, memulai dari lingkungan terdekatnya, dan yang terpenting memulainya dari sekarang.

Hari ini, kita merindukan hadirnya para pahlawan itu, kita inginkan hadirnya mereka para ‘penyelamat’ itu. Mengapa kerinduan itu ada? Mari kita jawab dengan sebuah jawaban yang sebenarnya sulit disederhanakan: karena para pecundang, para penjahat manusia masih tetap ada. Mereka kini merajalela dimana-mana, dengan wujudnya yang beragam rupa,  berevolusi lebih jauh, lebih lihai, lebih canggih, lebih kejam, dan lebih menjijikkan dari para penjahat di masa lampau.

Ruh para penjahat ini hadir dalam diri mereka para pemimpin yang tidak amanah, bersemayam dalam raga dan jiwa para koruptor, para pengkhianat hukum, para pemerkosa keadilan, para rakus penghisap sumber-sumber kehidupan untuk kepentingannya belaka, para penindas yang lemah, dan beragam wujud penjahat manusia lainnya. Baik itu yang melakukan kejahatan kelas kakap, hingga mereka yang melakukan kejahatan kelas teri jalanan.

Saya meyakini, sebenarnya kita pantas untuk tidak tenggelam dalam kerinduan akan datangnya mereka (para pahlawan) itu, begitu juga kita pantas untuk khawatir akan dekatnya mereka (para penjahat) itu. Karena mereka bisa jadi sedang bersemayam dalam sebuah raga dan jiwa manusia (pemuda) Indonesia yang hidup hari ini. Namun raga dan jiwa tersebut belum tersadar akan potensi kepahlawanan atau potensi kejahatan yang dimilikinya itu.

Namun, jika ada pertanyaan: “Dimana mereka, para pahlawan dan para penjahat itu, saat ini berada?”

Cobalah tengok ke arah cermin, jangan-jangan yang kita cari itu salah satunya ada di sana. Bisa jadi dia, sosok dalam cermin itu, calon pahlawan atau  mungkin calon penjahat yang  baru.

Engkau yang mana?

@SurahmanJie

https://twitter.com/SurahmanJie

Pos ini dipublikasikan di Opini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s