Tentang Paradigma…

(Catatan ini agak panjang, cukup menguras waktu untuk membacanya, bahkan untuk beberapa poin bisa jadi menimbulkan beberapa renungan sesaat. Mudah-mudahan bukan renungan yang membawa pada arah sesat. Hehe…Terimakasih sudah membaca)

———————————————————————————————————-

Suatu pagi di ruang tunggu sebuah Rumah Sakit, orang-orang sedang duduk dengan tenang. Sebagian sedang bercengkerama pelan dengan orang di sampingnya, mungkin keluarga atau teman dekatnya. Sebagian lain sedang membaca surat kabar. Sebagian nampak sedang melamun. Sebagian lagi berisitirahat dengan mata terpejam. Suasana kala itu cukup tenang dan damai.

Lalu tiba-tiba, seorang pria dan dua orang anaknya yang masih kecil masuk ke dalam ruang tunggu tersebut. Anak-anaknya begitu berisik dan ribut tak terkendali seperti anak-anak kecil pada umumnya. Anak-anaknya berteriak-teriak, berlari kesana-kemari, melemparkan botol-botol, bahkan menyambar surat kabar yang sedang dibaca orang. Mereka sangat mengganggu. Segera saja keseluruhan suasana berubah menjadi riuh.

Sedangkan si pria yang tidak lain adalah bapak dari anak-anak tersebut memilih duduk di sebelah saya. Duduk bersandar sambil memejamkan matanya. Dia tidak peduli pada situasi di sekitarnya saat itu. Dia menyadari aktivitas anak-anaknya yang telah menimbulkan keributan di tempat yang tadinya tenang tersebut. Namun, pria itu tak berbuat apapun untuk menghentikan keributan anak-anaknya.

Anda tahu? Sangat sulit untuk tidak merasa kesal kala itu. Saya tidak habis pikir mengapa dia bisa begitu diam saja membiarkan anak-anaknya berlarian liar seperti itu dan tidak berbuat apapun untuk mencegah mereka, sangat tidak bertanggungjawab menurut saya. Jelas sekali terlihat semua orang di ruangan tersebut merasa terganggu dengan anak-anaknya. Dan tentu juga orang-orang itu merasa kesal dengan bapak anak-anak itu yang diam saja membiarkan anak-anaknya bikin rebut.

Seandainya saya punya hubungan kekerabatan dengan anak-anak tersebut, katakanlah saya ini om atau paman mereka, tentu saya akan menegur mencoba menenangkan mereka atau mengajak mereka bermain di tempat lain yang lebih memungkinkan. Tapi saya bukan siapa-siapa mereka, baru juga berjumpa saat itu.

Akhirnya, dengan rasa sesak penuh kesal di dada, saya menoleh ke arah pria tersebut. Sambil berusaha menunjukkan wajah ramah dengan suara sopan saya berkata, “Pak, maaf, anak-anak bapak cukup mengganggu banyak orang. Bisakah ditenangkan sedikit?” Memasang wajah senyum sambil bersiap-siap disemprot balik jika saja pria ini tersinggung. Tapi saya pun juga sudah menyiapkan tameng pertahanan dan sedikit kerikil persiapan untuk ketapel balik ke arahnya. Hehe…

Pria itu bangkit dari sandarannya, menghadap ke saya lalu berkata dengan suara parau, “Oh, iya maaf. Saya seharusnya menenangkan mereka. Kami sudah 2 minggu di Rumah Sakit ini menjaga ibunya yang sakit. 2 jam lalu ibunya sudah meninggal dunia. Sekarang saya sedang menunggu mobil jenazah untuk mengantarkan kami pulang. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Dan mereka (menunjuk ke arah anak-anaknya) belum menyadari sepenuhnya apa yang telah terjadi dengan ibunya. Maafkan saya.”

“Ya Allah…” Seketika juga saya merasa sangat bersalah. Pandangan saya langsung berubah. Seketika itu saya melihatnya dengan cara berbeda dari sebelumnya. Isi pikiran saya berubah dari sebelumnya. Perasaan saya berubah dari yang tadinya sesak penuh kesal jadi rasa yang diselimuti duka. Saya pun bersikap berbeda dari sebelumnya.

Rasa kesal saya sudah hilang berganti dengan simpati. Bibir saya kaku. Penuh sesal telah menegur bapak itu. Tapi memberanikan diri juga untuk berkata-kata. “Isteri bapak meninggal? Turut berduka cita. Maaf pak. Sebelumnya sakit apa pak?” tanya saya penuh keluh di bibir.

Bukan hanya saya, saya yakin orang-orang yang lain pun menyesal telah menyalahkan pria itu sebelumnya. Menyalahkan pria itu karena telah mengganggu ketenangan suasana dengan keributan anak-anaknya.

Mereka yang mendengar percakapan kami langsung mendekat. Sebagian menguatkan. Sebagian menawarkan bantuan apa yang bisa diberikan. Segalanya berubah seketika. Dari yang tadinya suasana yang penuh kejengkelan berubah menjadi suasana penuh simpati kepada pria itu.

Begitulah paradigma. Paradigma adalah cara pandang kita “melihat” sesuatu hal, kondisi, atau peristiwa. Ia berpengaruh pada cara berpikir kita. Lalu mempengaruhi cara kita bersikap dan berperilaku.

Contoh peristiwa lain yang berkaitan dengan paradigma. Suatu ketika kita ingin melaksanakan sebuah acara untuk memperkenalkan organisasi atau komunitas kita pada khalayak luas. Kita sudah menentukan akan melaksanakan acara tersebut di pusat keramaian pada Minggu pagi. Kita pilih lokasi di sebuah stadion olahraga.

Setelah menjelang waktu pelaksanaan, ternyata di tempat dan waktu yang sama akan ada juga acara besar yang lain. Ada acara senam dan jalan sehat memperingati hari jadi sebuah surat kabar. Ada juga acara festival band anak muda. Langsung terlintas dalam pikiran kita kendala yang akan mengurangi daya tarik acara kita atau bahkan bisa jadi akan mengagalkan acara kita. Soalnya kedua acara lain itu lebih berpotensi menyedot pengunjung. Terbayang pula kesulitan-kesulitan untuk mengatur massa yang hadir, tempat parkir, izin dari pihak keamanan, dan sebagainya.

Cara pandang seperti itu adalah sebuah paradigma. Sebuah paradigma yang bisa membuat kita patah semangat untuk melaksanakan acara kita. Coba kita memandang kondisi tersebut dengan paradigma lain. Misal, hal yang tadinya kita jadikan kendala, kita rubah jadi peluang. “Wah, pengunjungnya akan sangat ramai nih.” Bukankah dengan adanya acara lain yang berpotensi menarik pengunjung besar bisa kita jadikan peluang gratis untuk memperkenalkan komunitas kita ke khalayak lebih banyak? Bandingkan keramaiannya jika hanya kita yang melaksanakan acara di tempat tersebut dibandingkan jika ada pihak lain yang juga melaksanakan acara di tempat yang sama. Bukankah akan semakin ramai? Semakin ramai berarti semakin banyak mata yang berpotensi untuk melihat acara kita juga kan?

Bagaimana mengatur massa besar yang akan hadir? Justru dengan adanya pihak lain akan membuat kita punya rekan lain untuk bekerja sama mengatur massa tersebut. Itu lebih baik daripada sendirian, iya kan?

Makin banyak pengunjung, makin banyak kendaraan, makin banyak yang harus parkir, makin banyak petugas parkir “dadakan”, makin banyak orang berpenghasilan dari usaha jasa parkir tersebut. Bukankah kita membantu banyak orang berpenghasilan hari itu? “Wah, Minggu pagi yang akan bermanfaat banyak.”

Begitulah paradigma. Cara kita memandang sesuatu hal. Membuahkan cara berpikir. Dan akhirnya membentuk cara bersikap kita pada sesuatu hal.

Jelaslah bahwa jika kita ingin membuat perubahan yang relatif kecil dalam hidup, kita bisa saja berfokus pada sikap dan perilaku. Namun jika kita ingin membuat perubahan besar, kita perlu memperbaiki paradigma dasar kita.

Sebuah pepatah mengatakan, “Untuk ribuan usaha memangkas daun-daun kejahatan, ada satu yang menyerang akarnya.” Kita dapat mencapai perbaikan besar dalam hidup dengan tidak hanya sibuk memotong daun-daun sikap dan perilaku namun juga mulai menyerang akar persoalan, yakni paradigma yang merupakan akar dari sikap dan berperilaku kita bertumbuh.

It is so important to manage our paradigm.

———————————————————————————————————-

Dalam hidup, terkadang kita perlu menyisihkan waktu untuk berpikir (merenung) sejenak sebelum kemudian melangkah lagi.” @SurahmanJie

Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Tentang Paradigma…

  1. Namaku Kame berkata:

    Nice blog,good job kak🙂

  2. adecimahi berkata:

    Reblogged this on .

  3. eno berkata:

    hmmm…seringnya sih kita terjebak sama paradigma (negati) yang kita buat sendiri (kita??? saya aja mungkin). dan seringnya paradigma (negatif) itu jadi alasan yang (lebih sering) menghambat.
    nice note bro…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s