“Tentang Prinsip”

Dua kapal perang yang ditugaskan dalam skuadron latihan sudah berada di laut dan sedang melakukan manuver dalam cuaca buruk selama beberapa hari. Seorang petugas berada di kapal perang utama dan sedang berjaga di atas anjungan saat malam tiba. Jarak penglihatan buruk karena kabut, maka kapten tetap berada di anjungan mengawasi semua aktivitas.

Tak lama setelah hari menjadi gelap, pengintai pada sayap anjungan melaporkan, “Ada sinar! Arah haluan sebelah kanan.”

“Sinarnya tetap atau bergerak mundur menjauh?” Kapten berseru.

Pengintai menjawab, “Tetap, Kapten.” Itu berarti kapal mereka berada dalam arah tabrakan yang berbahaya dengan kapal tersebut.

Kapten lalu berseru kepada pemberi isyarat, “Beri isyarat kepada kapal itu: Kita berada pada arah tabrakan, kami anjurkan Anda mengubah arah 20 derajat.”

Dari kapal tersebut datang isyarat balasan, ”Anda yang dianjurkan mengubah arah 20 derajat.”

Kapten berkata, “Kirim pesan, saya Kapten, ubahlah arah kapal Anda 20 derajat.”

“Saya kelasi tingkat dua,” datang balasan darinya. “Anda sebaiknya mengganti arah 20 derajat segera.” Lanjutnya tegas.

Saat itu Kapten sudah mulai naik darah. Ia membentak, “Kirim pesan kepadanya: Saya kapal perang! Ubahlah arah Anda 20 derajat.”

Datang balasan darinya, “Saya mercusuar.”

Binggo! Kapal perang pun mengubah arah.

———————————————————————————————-

Dalam peristiwa di atas, kita melihat sebuah perubahan paradigma seketika itu dialami oleh sang Kapten. Sikapnya langsung berubah sama sekali tatkala ia berjumpa dengan prinsip kehidupan. Prinsip kehidupan seperti layaknya mercusuar dalam peristiwa di atas. Prinsip bisa seperti sebuah hukum alam yang tidak dapat dilanggar. “Kita tidak mungkin melanggar prinsip tersebut. Kita hanya dapat menghancurkan diri kita karena melanggar hukum-hukum itu.” Sebuah frase ungkapan dalam film monumental The Ten Commandments.

Prinsip dapat menjadi nilai-nilai kehidupan yang akan dipegang teguh oleh mereka yang meyakininya. Bagi sebagian orang, prinsip bisa menjadi target kehidupannya. Bagi sebagian orang, prinsip bisa menjadi pedoman hidupnya, bisa menjadi petunjuk arah jalan hidupnya. Bagi yang memegang teguh prinsipnya dia meyakini akan punya tuntunan menjalani kehidupannya.

Mereka akan memegang teguh prinsip itu meski di depannya ada tantangan bahkan ancaman. Mereka tetap tegar, meski bagi sebagian orang lain hal itu dirasa aneh dan ganjil. Karena mereka meyakini nilai-nilai kebenaran yang ada dalam prinsipnya itu. Mereka bertahan setegar mercusuar meski di hadapannya kapal perang mengancam agar menghindar.

Itulah mengapa para wanita muslimah kekeh pertahankan jilbabnya meski ditodong moncong senjata M-16 untuk melepasnya. Itulah mengapa para wanita muslimah kekeh pertahankan jilbab (syar’inya) di tengah cap tidak gaul, ketinggalan zaman, kuno, dan rongrongan sampah menggelikan lainnya. Itulah mengapa mereka, baik lelaki maupun wanita, dengan santun merapatkan tangan ke dada mereka saat lawan jenis (bukan muhrimnya) dengan sopan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Ada prinsip yang menyertainya.

Namun, prinsip kehidupan tidak hanya satu. Banyak dan tak jarang berbeda-beda. Pemegang prinsip yang banyak ini pun bermacam-macam orangnya. Hal ini membuka ruang terjadinya gesekan antara prinsip yang satu dengan prinsip lainnya. Untuk menghindari gesekan ekstrem, maka tidak lain tidak bukan perlu pengertian, menghargai, menghormati, prinsip toleransi dengan segala bentuknya penting dikedepankan. Menyimak dialog epik Owen Shaw dan Dominic “Dom” Toretto dalam film Fast and Furious 6.

“Dan dia pergi. Meninggalkanmu lagi… Aku sadar… Kamu punya kelemahan. Kau tahu, saat aku kecil, abangku selalu berkata, setiap orang punya prinsip. Prinsipku? Ketepatan. Tim kamu bukan apa-apa kalau kau tidak bekerja sempurna sampai pekerjaan selesai. Efisien. Berhasil. Dan kau..Kau sangat loyal dengan kesalahan. Prinsipmu adalah keluarga. Mungkin itu akan bagus saat liburan, tapi…Itu akan membuatmu mudah ditebak. Dan itu artinya aku bisa mendapatkan dan menghancurkanmu kapanpun aku mau.” kata Shaw.
“Bawa kru mu dan pergilah. Itulah satu-satunya cara agar keluargamu aman.” tegas Shaw.

“Abangmu tak pernah bilang padamu jangan pernah mengganggu keluarga orang lain?” tanya Dom. “Aku akan pergi saat Letty juga pergi.” lanjut Dom.

“Haha…keluarga. Okeh, setidaknya kamu punya prinsip untuk diperjuangkan.” Ucap Shaw.

Penting untuk belajar tentang prinsip.
Penting untuk memilah prinsip (yang baik dan yang buruk).
Penting untuk punya prinsip.
Penting untuk perjuangkan prinsip.
Penting untuk pertahankan prinsip.
Penting juga untuk menghormati prinsip orang lain.

(Kamis, 27 Maret 2014)
Saya Sujie, suka nonton film, tapi gak gila film. Sekali nonton film, kudu ada nilai kehidupan yang harus dipetik😉

Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke “Tentang Prinsip”

  1. akhmadronigedt berkata:

    bolehka saya copy tulisanya

  2. Ping balik: “Tentang Prinsip” | akhmadronigedt

  3. akhmad: monggo..silahkan..
    *jgn lupa cantumkan link sumbernya..hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s