Catatan Debat Ke-2 Pilpres: Memenangkan Hati Rakyat. Prabowo atau Jokowi?

Prabowo dan Jokowi usai berpelukan di tengah berlangsungnya acara Debat Ke-2 Capres Sabtu (15/6) malam lalu.

Prabowo dan Jokowi usai berpelukan di tengah berlangsungnya acara Debat Ke-2 Capres Sabtu (15/6) malam lalu.

Pernah menonton film Gladiator?

Maximus, tokoh utama, Sang Jenderal terbuang, sangat benci dengan Commodus, Sang Kaisar jahat. Maximus ingin membalas dendam atas kudeta Commodus terhadap Kaisar sebelumnya, Marcus Aurelius. Dan tentu saja balas dendam pribadi Maximus atas pembantaian sadis Commodus terhadap keluarganya. Tapi Maximus menghadapi satu batu sandungan, yakni populisme Commodus di mata rakyat yang telah berhasil didapatkan kembali oleh sang kaisar berkat suguhan pertarungan mematikan para Gladiator. Pertarungan mematikan tapi dinikmati oleh rakyatnya.

Namun, lewat pertarungan demi pertarungan, perlahan Maximus mulai mendapat kekaguman dan simpati dari rakyat. Berkat berbagai aksi hebat disertai sikap yang penuh kebijaksanaan di atas arena pertarungan. Commodus menyadari hal tersebut membahayakan posisi dirinya yang telah bersusah payah meraih simpati rakyatnya.

Ingat segmen kala Maximus bersiap menghadapi pertarungan besarnya di arena Colosseum. Pertarungan besar terakhir yang dijanjikan oleh Kaisar Commodus sebagai hadiah kebebasan Maximus jika menang. Tapi pertarungan besar tersebut telah disiapkan dengan niat jahat oleh sang Kaisar Commodus dengan berbagai trik untuk mengakhiri hidup Sang Jenderal Maximus.

Proximo, pelatih Maximus, yang tak lain adalah seorang mantan gladiator, memberi petuah bermakna ke Maximus bahwa hal yang harus Maximus lakukan bukan hanya mengalahkan lawannya dengan penuh keganasan di arena pertarungan tapi juga harus bisa memenangkan hati rakyat yang menonton pertarungannya. Jika rakyat sudah membersamai, Kaisar akan takluk dengan sendirinya.

Seperti apa hasil pertarungannya? Maximus berhasil memenangkan pertarungan dengan sangat elegan dan terpenting berhasil meraih dukungan rakyat. Bagaimana kisah selengkapnya? Silahkan tonton langsung film Gladiator.

Nah, apakah Anda menonton acara debat kedua antar calon Presiden (capres) yang disiarkan secara langsung oleh salah satu TV swasta pada Sabtu (15/6) malam lalu?

Saya menyaksikan acara debat capres itu di acara nonton bareng yang dikemas secara sederhana oleh salah seorang warga di lingkungan tempat tinggal saya.

Saya langsung teringat salah satu adegan dalam film Gladiator yang saya ceritakan di atas kala sesi debat capres memasuki sesi tanya jawab antar capres. Kala giliran Jokowi bertanya kepada Prabowo terkait ekonomi kreatif. Terlebih dahulu Jokowi sampaikan pandangan dan sikapnya yang sangat pro terhadap ekonomi kreatif. Jokowi lalu meminta pandangan versi Prabowo terkait hal itu. Saya pribadi menanti pandangan Prabowo yang saya harap akan berbeda.

Sang Jenderal 08 benar-benar melakukan hal yang berbeda. Prabowo malah mengamini pandangan dan sikap kompetitornya, Jokowi, karena menurut Prabowo pandangan dan sikap Jokowi tersebut sangat baik dan tepat. Padahal disampaikan sendiri secara langsung oleh Prabowo, bahwa para penasehatnya menasehati dirinya agar tidak mendukung satu pun pernyataan dari Jokowi selama proses debat. Terus bantah dan berikan pandangan berbeda. Tapi Prabowo adalah Prabowo. Prabowo itu alami dan berkelas. “Prabowo itu asli,” kata politisi Fahri Hamzah.

Tidak hanya sampai di situ. Seusai mengamini pandangan dan sikap kompetitornya, Prabowo langsung melangkah menuju podium Jokowi menjabat tangan dan merangkul Jokowi yang juga langsung disambut dengan sikap yang sama oleh kompetitornya tersebut. Prabowo seakan tidak peduli dengan jatah waktunya untuk berbicara habis berlalu akibat sikap tersebut.

Pemandangan tersebut sontak membuat para penonton di sekitar saya kompak memberikan tepuk tangan ke arah layar tancap nobar. Para pendukung Prabowo bertepuk tangan dengan penuh  sorak sorai. Sedangkan para pendukung Jokowi juga bertepuk tangan dengan senyum tersimpul di bibir mereka diiringi anggukan kepala. Entahlah apa maknanya. Tapi saya pribadi menangkapnya penuh kesan menaruh kagum dan simpati pada sikap Prabowo, lawan politik tokoh dukungannya.

Debat ke-2 capres malam tersebut memang cukup menghibur. Kedua kontestan, baik Prabowo maupun Jokowi, tampil lebih fresh, santai, dan lebih lepas dibanding penampilan mereka pada debat perdana sebelumnya. Tercatat beberapa kali kedua tokoh juga bisa melontarkan joke-joke ringan segar yang berhasil mengundang tawa audiens. Hal tersebut tentu saja membuat suasana semakin lebih cair.

Kedua capres pada debat ke-2 tersebut tampil lebih percaya diri, lebih menguasai materi, dan lebih komunikatif. Jokowi yang selama ini kita kenal dengan kepolosan dan kesederhanaan beliau malam tersebut tampil seperti biasanya. Sisi humanis Jokowi senantiasa berhasil mengundang simpati penyimak. Tapi secara keseluruhan, saya pribadi harus mengakui bahwa Prabowo tampil lebih menguasai panggung.

Penyimak bisa menangkap sesuatu yang baru dari penampilan Prabowo pada debat malam itu. Jika selama ini Prabowo senantiasa tampil di depan publik dengan kesan tegas, bicara to the point, tanpa embel-embel, bahkan terkesan kaku ala militer, malam tersebut Prabowo tampil apa adanya, sisi humanisnya muncul. Hal yang selama ini jarang diangkat oleh media terpublikasikan dengan sendirinya pada debat capres ke-2 malam itu. Joke-joke ringan yang dilontarkan Prabowo pun renyah dan berhasil mengundang tawa yang alami para audiens. Tidak seperti joke ala SBY yang terlampau sering garing dan membuat pendengarnya (maaf) tertawa dengan terpaksa. Salah satu penonton layar tancap di samping saya yang mengaku belum menetapkan pilihan jagoan sampai nyeletuk “Asyik juga nih Prabowo,” ucapnya. Nah, bagaimana rasanya jika punya pemimpin yang asyik?

Dari suguhan acara debat capres tersebut kita semua diberikan pelajaran berharga. Bahwa debat publik bukan melulu tentang bagaimana memenangkan diri sendiri dan mengalahkan lawan bicara. Tapi juga tentang bagaimana memenangkan hati penyimak (penonton).

Dalam ajang perebutan suara, siapa yang bisa memenangkan hati para pemilik suara, dialah yang akan keluar sebagai pemenangnya.

Tinggal para pemilik suara apakah bisa cerdas menggunakan hak suaranya secara terhormat dan bermartabat, ataukah memilih jadi budak money politic?

Surahman-Al-Malik
@SurahmanJie

Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s