Catatan Tentang Pak XXX dan Pak ZZZ, Anggota DPRD Kota Samarinda (Part 1)

“Saya hadiri pelantikan anggota DPRD kota Samarinda sekarang. Setelah dilantik, saya berjumpa Pak XXX dan Pak ZZZ. Sementara hampir seluruh anggota dewan lain sumringah, tertawa riang bersama teman dan keluarganya, saya lihat mata Pak XXX dan Pak ZZZ berkaca-kaca. Saya bisa merasakan perasaan sedih mereka. Perjuangan untuk kepentingan rakyat akan jauh lebih berat bagi mereka dari periode sebelumnya…” sebuah pesan singkat Whats App (WA) masuk ke sebuah grup WA di HP saya.

Pesan WA itu terkirim dari nomor seorang kolega saya yang berprofesi sebagai staf ahli salah satu komisi di kantor DPRD Samarinda. Saat pesan itu masuk, saya sedang menulis sebuah tulisan seputar kondisi kota Samarinda dan pekerjaan rumah yang menanti bagi anggota DPRD Samarinda periode 2014-2019.

Tatkala membaca pesan di atas, seketika saya berhenti melanjutkan tulisan saya yang sudah setengah jalan. Saya terbayang wajah kedua orang yang dimaksud tersebut. Saya cukup sering berjumpa, berinteraksi, dan berdiskusi dengan mereka di waktu dan tempat yang berbeda. Keduanya sudah pernah menjadi anggota DPRD Kota Samarinda periode 2009-2014. Dan kini terpilih kembali untuk periode selanjutnya 2014-2019. (Selamat pak atas kepercayaan konstituen. Selamat berdarah-darah kembali menjalankan amanah di sana).

Saya mencoba membayangkan apa yang membuat Pak XXX dan Pak ZZZ nampak bersedih. Sejumlah 45 orang anggota terpilih DPRD Kota Samarinda periode 2014-2019 resmi dilantik pada hari Selasa, 12 Agustus 2014. Sebanyak 31 di antaranya adalah wajah baru. Sisa 14 di antaranya wajah lama. Jadi ada 31 wajah pendekar lama yang terdepak. Komposisi ini tentu ada baik ada buruknya. Tergantung dari sudut pandang mana orang melihatnya.

Boleh jadi, Pak XXX dan Pak ZZZ bersedih kehilangan rekan seperjuangan yang tergolong pendekar baik selama ini panggung legislatif kota Samarinda. (Sudah jadi rahasia umum, di komposisi anggota legislatif, ada pendekar yang baik ada pula pendekar yang jahat. Mulai dari panggung legislatif DPRD kabupaten/kota, DPRD provinsi, hingga DPR pusat RI, semuanya diisi tidak hanya orang baik, tapi ada juga orang jahat di dalamnya).

Siapa sih yang tidak sedih jika kita kehilangan rekan seperjuangan yang baik, yang sevisi, yang seirama, yang sudah jadi sahabat dalam perihnya perjuangan? Siapa yang tidak gundah kala orang-orang baik berkurang jumlahnya dan orang-orang jahat bertambahnya jumlahnya dalam medan perjuangan? (Kecuali orang jahat yang mungkin senang). Mungkin hal itu salah satu yang membuat Pak XXX dan Pak ZZZ bersedih. Kehilangan rekan seperjuangan dan jalan perjuangan ke depan nampak banyak penghadangnya.

Tapi mari kita berprasangka baik, kita doakan orang-orang di legislatif sana agar jadi pendekar baik, tidak lupa dengan amanahnya, berjuang keras dan benar dalam menjalankan amanahnya. Aamiin.

——————————————————————————————————–

Awal perkenalan saya dengan Pak ZZZ bermula 3 tahun silam sekitar pertengahan 2011. Saat itu kami di BEM Unmul hendak mengadakan diskusi publik menyoal problematika pertambangan di kota Samarinda dan dampaknya bagi “penghuni” kota yang sudah dipenuhi tambang bermasalah ini. Kami ingin menghadirkan pembicara dari lintas lini yang tupoksinya sesuai topik yang diangkat. Dari pemkot (pemerintah kota), anggota dewan (legislatif), kalangan akademisi, dan aktivis LSM.

Dari anggota dewan kami memilih Pak ZZZ sebagai narasumber. Pertimbangannya sederhana saja, beliau ada di Komisi III DPRD Samarinda membidangi salah satunya soal pertambangan, beliau juga salah satu anggota dewan yang keras bersuara di berbagai media cetak terkait problematika lingkungan (kala itu beliau memang sedang jadi media darling lokal Samarinda terkait isu lingkungan), mayoritas rekan aktivis dan wartawan senior kala itu juga merekomendasikan nama beliau saat saya minta saran rekomendasi nama pembicara untuk acara diskusi kami tersebut.

Sejak saat itu saya sering berinteraksi dengan beliau ngobrol topik serius hingga ringan. Paling sering saya ngobrol seputar isu lingkungan khususnya pertambangan kota Samarinda. Beliau orangnya mudah ditemui dan mudah diajak diskusi. Keseriusan beliau saat memaparkan pandangannya ditambah bicara based on data itu yang saya sukai. Meski hanya di warung kopi pinggir jalan pangkalan ojek binaannya, beliau selalu saja mengeluarkan berbagai berkas data untuk menunjukkan bukti kepada kami para pendengar.

Sosoknya sederhana saja. Mudah bergaul dengan semua kalangan. Jika tertawa tidak tertawa jaim tertawa lepas begitu saja dengan nada suaranya yang melengking khas. Dan saya pikir beliau bukan orang yang bisa memanfaatkan posisi sebagai anggota dewan untuk memperkaya diri. Profilnya pernah nangkring di media cetak ternama Kaltim dengan isi konten di antaranya “Satu-Satunya Anggota Dewan Samarinda yang Hanya Berkendara Motor”. Ya, saya sendiri belum pernah melihatnya mengendarai mobil! Padahal kalau mau berpikir gila ya, beliau di Komisi III (pertambangan), Komisi yang dicap ladang basah oleh orang banyak. Tinggal main satu dua proyek, bisa dapat fee untuk sekian banyak duit.

Saya pernah bertanya ke beliau, “Maaf nih pak..maaf..saya mau tanya, bapak tidak pernah berpikir mainkan proyek dewan di tambang? Isunya ‘kan lumayan tuh pak kalau dapat fee sekian persen”. “Kadang pikiran seperti itu bergelayut ding, setan pengaruhi pikiran kita, tapi terus kita usaha untuk melawan godaan macam itu.” jawabnya. “Kenapa pak?” saya tanya lagi. “Takut sama murka Allah,” jawabnya. MakJleb dah itu jawaban.

Sekian tahun mengenal Pak ZZZ, cukup bagi saya untuk percaya dengan integritasnya. Dan saya bersyukur bahwa beliau terpilih kembali duduk sebagai anggota legislatif kota Samarinda. Mengingat track record para caleg (calon legislatif) lain kemarin (sebagian di antaranya) benar-benar gila! Dan parahnya sebagian di antara mereka itu ada yang lolos terpilih jadi anggota dewan. (Tarik dan hembuskan nafas panjang).

Dengan adanya orang macam Pak ZZZ di sana, setidaknya harapan kebaikan dan perbaikan itu masih ada. Insya Allah. (Doakan).

Bersambung…

*Nama asli orang yang bersangkutan sengaja disamarkan. Menghindari peluang besar tumbuhnya perasaan riya’ dalam diri beliau atau orang yang dekat dengan beliau. (Meskipun tulisan ini sebenarnya sudah menjadi peluang muncul riya’, baik bagi sosok yang dituliskan begitu juga bagi penulis). Saya percaya, tidak sulit bagi sebagian pembaca untuk menebak-nebak sosok yang bersangkutan.

Brigade Izzuddin Al Qassam

Brigade Izzuddin Al Qassam

*Menghindari sifat riya’ sangat dianjurkan. Semoga kita senantiasa bisa mengupayakan. Sebagaimana prajurit Brigade Izzuddin Al Qassam Hamas, Palestina, yang diperintahkan oleh pemimpin spiritualnya untuk menutup wajah agar tidak dikenali oleh orang lain, bertujuan agar para prajurit bisa berjuang dengan tulus ikhlas tanpa harus merasa perlu untuk dikenali oleh mereka yang diperjuangkannya. Wow…Bravo!

@SurahmanJie

Rabu dini hari, 13 Agustus 2014.

Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Catatan Tentang Pak XXX dan Pak ZZZ, Anggota DPRD Kota Samarinda (Part 1)

  1. Ping balik: Catatan Tentang Pak XXX dan Pak ZZZ, Anggota DPRD Kota Samarinda (Part 2-Habis) | surahman al malik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s