Catatan Tentang Pak XXX dan Pak ZZZ, Anggota DPRD Kota Samarinda (Part 2-Habis)

Pada catatan sebelumnya, saya sudah berkisah sedikit tentang Pak ZZZ yang saya kenal (Baca: https://surahmanarea.wordpress.com/2014/08/13/catatan-untuk-pak-xxx-dan-pak-zzz-anggota-dprd-kota-samarinda-part-1/. Pada catatan lanjutan ini saya akan berkisah tentang Pak XXX yang saya kenal. Awal saya berjumpa dengan beliau belum bisa saya ceritakan di sini (soalnya hingga tulisan ini dibuat, saya sendiri masih mengingat-ingat kapan pertama kali berjumpa dengannya, saya lupa).

Pak XXX ini disebut-sebut sebagai salah satu ikon pejabat publik di Kota Tepian Samarinda yang rajin menemui warganya (aktivitas yang kemudian populer dengan istilah blusukan). Beliau disebut-sebut salah satu tokoh publik atau pejabat daerah yang rajin membantu kebutuhan warga sekitar yang memang sangat membutuhkan uluran tangan. Semisal santunan keluarga tak mampu, santunan korban bencana, bantuan biaya pengecoran jalan, sumbangan dana dan material ke rumah ibadah, dan lain-lain. Semua bantuan itu sering dikeluarkan dari kantong pribadi dan tak jarang merogoh isi tabungan keluarga. Besaran bantuannya tidak seberapa tapi beliau sering dan konsisten melakukannya.

Jika ada kerja bakti di lingkungannya, beliau tidak segan untuk ikut serta bahu-membahu bersama warga lain. Beliau senang membaur dengan warga. Beliau konsisten dengan keterlibatannya itu dalam aktivitas sosial. Dan konon warga pun bahagia bisa berinteraksi dengan beliau. (Semua info ini saya dapat dari seorang informan yang tak bisa saya sebut namanya. Jika informan ini cerita tentang Pak XXX, dia selalu menunjukkan bukti dokumentasi kegiatan formal dan informal Pak XXX. Informan ini sering membersamai pak XXX dan mendokumentasikan kegiatan pak XXX diam-diam).

Mendengar kisah beliau dari informan yang kebetulan senior saya itulah menumbuhkan rasa penasaran saya dengan sosok yang jadi buah bibir warga itu. Tak disangka Allah memudahkan saya berjumpa dan berinteraksi dengan beliau sejak awal hingga saat ini. Orangnya sangat ramah dan penyapa. Setiap berjumpa, beliau yang paling sering menyapa duluan orang yang menjumpai atau dijumpainya. Beliau menyapa dengan senyum sumringah, tak canggung menjabat tangan kita erat tapi lembut, lalu menanyakan kabar, dan tak jarang melemparkan canda yang membuat suasana jadi cair dan akrab.salaman karikatur“Wah, kok tambah gagah Man?” sapanya menggoda saya suatu ketika. “Ehm, sorry pak lah, tidak ada uang besar ini, receh saja yang ada. Mau lah sebagai hadiah memuji saya?” balas saya kepada beliau. “Wahaha, tapi kurusnya nah tidak berubah ikam ini.” sambungnya. “Nah kan, habis diangkat, dibantingnya kita.” ucap saya diikuti tawa kami bersama. Setiap awalan berjumpa selalu saja kita mulai dengan tawa.

Suatu ketika, saya berikrar harus mendahuluinya menyapa jika berjumpa. Tapi itu hal yang tidak mudah. Beliau selalu saja lebih dahulu menyapa. Hingga suatu hari saya berhasil menyapa lebih duluan. “Assalamu’alaikum…Apa kabar pak?” sapa saya ketika itu mengagetkan beliau. “Wa’alaikumsalaaam..” jawabnya sambil mengelus dada karena kaget. “Wah, kalah cepat saya menyapa. Ya..ya..ya..ya..” lanjutnya dengan tambahan “yayayaya”nya yang khas. “Bajunya bapak, pilihan isteri kayaknya ini, bagusnya pak eh. Minta nah.” lanjut saya. “Waduh, terimakasih Man. Tapi ukurannya kebesaran buat ikam. Pertanda ikam harus segera punya isteri. Biar ada yang bisa pilihkan baju yang pas.” balasnya makjleb.

Pak XXX sungguh mudah akrab dengan banyak orang. Caranya berkomunikasi dengan menempatkan lawan bicaranya sebagai pusat perhatian membuat beliau disenangi orang. Ditambah alaminya beliau menghadirkan canda tawa bersama. Jadi kita jika ngobrol dengan beliau itu merasa sangat dianggap. Beda dengan beberapa pejabat lain yang jika kita ngobrol bersama tetap sibuk dengan dunianya. Seolah kita terasing di tengah keramaian. Kalau kata Arham Kendari, ibarat nun mati di antara idgam bilagunnah, terlihat tapi dianggap gak ada. Sakit!

Paling males itu salah satunya kalau ngobrol dengan pejabat yang hobby mainkan HP mahalnya sepanjang pembicaraan. “Ini orang ngobrol dengan orang atau HPnya sih?” Sibuk sih dimengerti. Ngecek isi HP sesekali sih bisa dimengerti. Tapi kalau sepanjang waktu. Duh! Ceburkan saja ke Sungai Mahakam pejabat macam itu. *Mungkin ada di antara Anda yang pernah mengalami?

Kembali ke Pak XXX…

Suatu ketika saya makan (lewat) tengah malam di warung pinggir jalan. Tak disangka beliau muncul juga di warung itu. Jadilah kita sama-sama makan (lewat) tengah malam. “Bapak dari mana jam segini?” tanya saya ke beliau. “Itu nah Man, dari temani warga ratakan jalan, materialnya baru masuk tadi.” jawabnya. “Wow…” gumam saya dalam hati sambil melirik jam di HP yang sudah menunjuk pukul 2 dinihari. Setelah itu saya sengaja melambatkan diri meninggalkan warung. Saya tertarik cari tahu info tentang beliau kepada pemilik warung itu.

“Mas, sampean kenal dengan bapak tadi?” tanya saya kepada pemilik warungnya. “Wah, sewarga sini kenal mas. Anggota dewan kan bapaknya. Baik, rajin bantu warga. Anggota dewan sini yang paling sering melihat-lihat kita. Tidak seperti yang lain sudah lupa sama kita. Bapaknya itu sudah seperti Jokowinya Samarinda lah, rajin blusukan.” ucap pemilik warungnya panjang lebar. (Jokowi kala itu mulai jadi selebriti media dengan aksi-aksi blusukan beliau yang fenomenal dan menyentuh hati rakyat). Berdasar pengakuan langsung dari warga itulah saya juga mulai memberikan cap ikon rajin blusukan kepada Pak XXX.

Hal lain yang saya kagum dengan Pak XXX, sama dengan Pak ZZZ, kalau membahas suatu masalah selalu based on data dan full informasi, tidak asal cuap-cuap. Membahasnya juga terstruktur dan sistematis bahkan massif. Beliau senantiasa berusaha penuh memahamkan kepada lawan bicara apa yang dibedahnya. “Bisa dipahami kira-kira?” pertanyaan khas beliau yang selalu hadir di sela-sela penjelasannya akan suatu isu atau masalah.

Kalau pengen menguliti seluk beluk pengelolaan APBD kota Samarinda, beliau salah satu anggota dewan yang cocok dijadikan narasumber diskusi. Bisa membuat kita terperangah, manggut-manggut, sesekali mata melotot atau mungkin memicing. Yang pria jenggotan dibikin ngelus-ngelus jenggotnya sepanjang obrolan. Yang perempuan jilbaber dibuat gulung-gulung ujung jilbabnya berulang-ulang sepanjang diskusi. Beliau pokoknya based on data. Seorang teman bahkan menyematkan sebutan “BDB” kepada Pak XXX. “Apaan tuh BDB?” tanya saya. “Bank Data Berjalan,” jawabnya. Hehehe…

Satu hal lagi yang saya lihat dari sosok beliau sangat menarik. Beliau senantiasa melibatkan isteri dan anak-anaknya dalam berbagai aktivitas sosial politik yang dijalaninya. Anaknya berjumlah (jika tidak salah) lima orang rata-rata masih belia. Anaknya yang paling tua, laki-laki (jika tidak salah) saat ini duduk di bangku SMP kelas 3. Anaknya yang paling kecil, perempuan, masih bangku TK atau PAUD (saya lupa).

Semua anak-anaknya sudah dilibatkan aktivitas sosial politik bapaknya sedari dini. Mereka semua nampak enjoy mengikuti aktivitas bapaknya yang tak jarang hingga dini hari itu. (Saya jadi teringat bapak sendiri di kampung yang selalu mengajak saya ikut kegiatan sosial warga sedari kecil. Hingga kini memasuki usia 20-an, pengalaman masa kecil sering terlibat dalam aktivitas warga itu sangat bermanfaat saat ini).

Tak heran jika warga tidak hanya mengenal Pak XXX, tapi juga mengenal seluruh anggota keluarga Pak XXX. Hingga hampir semua kami yang mengenal Pak XXX senada jika komentar tentang profesi anak-anak beliau di masa mendatang, “Tidak akan jauh-jauh dari bapaknya, dari kecil sudah terkondisikan dengan aktivitas pengabdian masyarakat.” ucap seorang teman.

Ya, pendidikan politik sejak dini penting bagi keluarga politisi yang ingin anak-anaknya ikut jejak politik orang tuanya. Bukan sekedar pencitraan di berbagai baliho dalam jalan kota hingga jalan poros daerah, terpampang wajah dan nama sang anak beserta “nama besar” sang bapak atau ibu sebagai tokoh publik yang terkenal. Publikasi macam itu memang penting sih sebagai strategi pengenalan tokoh baru, tapi jika diorbitkannya mendadak sekali ya kasihan juga si anak ke depan (apalagi jika passionnya tidak di dunia politik). Kasihan si anak, lebih-lebih kasihan lagi buat warga jika si anak itu memimpin daerahnya.

Pak XXX ini beda, beliau mendidik anak-anaknya sejak dini. Hingga si bungsu yang masih TK atau PAUD itu pun melek istilah dan aktivitas politik bapaknya. “Tadi malam sampai subuh temani abi dengal aspilasi lakyat di dapil abi,” curhatnya polos dengan cadelnya suatu ketika. Etdahnih bocah omongannya jauh sekali melampaui umur. Saya seusia itu mana ngerti apa itu “aspirasi” apa itu “dapil” ..hehe. Tapi baguslah, obrolannya yang melampaui umur itu masih positif. Dua jempol penuh untukmu Puteri Kecil.

Tapi..ada tapinya, bisa jadi nih ya, isteri dan anak-anaknya juga sering ikut blusukan hingga dini hari karena terjebak oleh “kelebihan” beliau. Apakah itu? Yaitu Pak XXX ternyata tidak bisa menyetir mobil! (Kita perhalus saja, belum bisa menyetir mobil hingga tulisan ini dibuat). Hehe… Sorry to say it, Sir. Tapi ini fakta unik yang saya tidak tahan untuk tidak menceritakannya kepada orang lain. Fakta ini nampaknya turut jadi magnet tambahan ketertarikan warga kepada Pak XXX. (Mungkin) Beliau satu-satunya anggota DPRD kota Samarinda yang belum bisa menyetir mobil. Dan beliau cuek saja dengan hal itu. Awesome.

Jadi sehari-hari beliau berwara- wiri lebih sering menggunakan motor. Pernah suatu subuh Ramadhan sepulang dari mesjid Al Ma’ruf simpang Vorvo Samarinda saya mendorong motor sendiri. Tak disangka beliau muncul dari belakang lalu berhenti dan menyapa. Mungkin saja beliau kala itu juga selesai mengikuti ceramah Subuh seorang Menteri yang sedang Safari Ramadhan di mesjid Vorvo itu. “Loh kenapa motor Man?” tanya beliau. “Habis bensin pak, hehe..” jawab saya terkekeh. Beliau pun mengiringi hingga kami berjumpa penjual bensin eceran yang sudah buka warung sehabis subuh. “Mobil kemana pak? Tidak dipakai?” tanya saya penasaran. “Oh, mobil dipakai isteri. Naik motor lebih nyaman. Hehehe…” jawab beliau tertawa. Jawaban yang saya telan mentah-mentah kala itu.

Kata “nyaman” dalam obrolan kami kala itu barulah saya paham maknanya setelah sekian lama berselang. Ternyata lebih nyaman naik motor karena bisa mengendarai sendiri dibanding mengendarai mobil. Karena beliau belum bisa menyetir mobil sendiri. (Para pembaca dipersilahkan moderator untuk tepuk tangan atau tertawa. Hehe.. *Jadi ingat debat pertama capres-cawapres Pilpres Indonesia 2014).

Jadilah isteri atau asisten beliau yang jadi driver setia kemana-mana jika mengharuskan memakai mobil. Terutama jika sekeluarga harus ikut serta. Karena sangat menyulitkan jika tujuh orang sekaligus harus di atas satu motor kan. Hehe..untung ada isteri yang bisa menyetir dan setia mendampingi kemana-mana ya pak. Semoga bapak ke depan bisa menyetir mobil sendiri tapi tidak berkurang kegesitan mobilitasnya untuk blusukan. Aamiin.

Pada acara Halal bi Halal yang diadakan di kediaman pribadi beliau baru-baru ini, saya berjumpa dengan seorang warga. Beliau seorang pengusaha. Beliau cerita panjang lebar tentang Pak XXX dan harapan beliau untuk Pak XXX ke depan. Beliau nampaknya seorang teman dekat Pak XXX.

Kalau diingat-ingat sepak terjangnya, pengabdiannya ke warga selama ini, Pak XXX sudah cocok pang jadi Walikota. Sumpah.” ucap warga itu dengan mimik serius. Pak XXX menurutnya sudah layak untuk memimpin kota Samarinda. Seketika saya teringat tahun depan (2015) adalah momentum pemilihan Walikota dan Wakil walikota periode baru kota Samarinda. “Pak XXX ini tinggal dipoles saja lagi. Memangnya cuma Jokowi saja yang bisa dipoles?” ucapnya ketus. “Pak XXX ini satu dari sekian anggota dewan di sana itu yang bisa menyelamatkan APBD dari penyalahgunaan. Jalan-jalan di daerah xxx itu Pak XXX ini yang bantu dari APBD. Kadang kurang, ditambalnya kurangnya itu dengan tabungannya sendiri. Tapi warganya juga kadang tidak tahu terimakasih. Di daerah itu suara Pak XXX kemarin malah kurang. Usut punya usut ternyata karena Pak XXX ini tidak ada “Serangan Fajarnya”. Parah ini warga! Sudah rusak pikirannya dengan serangan begituan. Padahal kurang apa lagi coba bantuan sosialnya Pak XXX selama ini.” lanjutnya menerangkan panjang lebar.

Tapi Pak XXX ini tidak mau dia diangkat-angkat apa yang sudah banyak dikorbankannya di depan banyak orang. Kita kalau promosikan dia ke warga ya diam-diam” ungkap orang itu memelankan suaranya setengah berbisik. “Sampean pernah tanya ke Pak XXX kenapa begitu?” tanya saya beliau. “Pernah dek,” jawabnya. “Apa bilang bapaknya?” tanya saya lagi. “Pak XXX bilang: Cukup Allah yang menilai apa yang sudah kita lakukan untuk warga. Kalaupun warga nanti harus tahu, biar Allah yang kabarkan ke warga dengan cara Allah sendiri.” jawabnya. Lagi-lagi makjleb dah itu jawaban.

Sekian tahun mengenal Pak XXX, cukup bagi saya untuk percaya dengan kesederhanaan, kejujuran, integritas, dan kebaikan lain pada diri beliau. Segala yang ada pada diri beliau itu memang telah membuat beliau muncul jadi salah satu tokoh dan pemimpin masyarakat yang disegani.

Saya pribadi bersyukur bahwa beliau terpilih kembali duduk sebagai anggota legislatif kota Samarinda. Seperti yang saya sebutkan di catatan sebelumnya, track record sebagian caleg (calon legislatif) kemarin sungguh gila! Dan parahnya sebagian di antara mereka itu ada yang lolos terpilih jadi anggota dewan.

Mahfum, seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa sebagian mereka yang lolos terpilih jadi anggota legislatif itu adalah orang jahat. Sebagiannya lagi adalah orang baik. Seperti Pak XXX itu, insya Allah, beliau tergolong orang baik. Nah, dengan adanya orang macam Pak XXX, Pak ZZZ, Pak YYY, dan bapak atau ibu lainnya yang masih punya kejujuran dan integritas di gedung legislatif sana itu, setidaknya harapan kebaikan dan perbaikan itu masih ada. Karena masih ada pendekar yang baik yang akan bertarung di sana untuk kebaikan. Insya Allah. (Doakan mereka semua).

Jangan bersedih lama-lama pak. Mungkin Anda sudah kehilangan rekan yang baik selama ini. Insya Allah ada teman baru yang baik pula. Selamat bekerja keras, bekerja cerdas, dan bekerja ikhlas menjalankan amanah di sana pak. Rapikan kembali barisan Anda. Selamat melanjutkan pertempuran. Persempit ruang bagi para penjahat di sana melakukan aksi-aksi jahatnya. Semoga Tuhan membersamai. Aamiin.

Selesai.

*Nama asli sosok yang bersangkutan sengaja disamarkan. Menghindari peluang besar tumbuhnya perasaan riya’ dalam diri beliau atau orang yang dekat dengan beliau. (Meskipun tulisan ini sebenarnya sudah menjadi peluang muncul riya’, baik bagi sosok yang dituliskan begitu juga bagi penulis). Saya percaya, tidak sulit bagi sebagian pembaca untuk menebak-nebak sosok yang bersangkutan.

@SurahmanJie

Senin, 18 Agustus 2014.

Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s