Memberi itu Berat

Sering berjumpa atau dijumpai pengemis di jalanan? Mungkin di warung makan langganan, kala berdua dengan sang kekasih? Mungkin di halte langganan, saat sedang berburu dengan waktu? Mungkin saat di mobil atau motor kala lampu merah perempatan jalan menyala, lalu ada tangan yang menjulur meminta-minta? Atau mungkin saat  kita sedang di bis antar kota yang pengap lalu muncul pengamen mengusik telinga, menyedorkan kantong plastiknya? (Bukan untuk menolong Anda yang mabok perjalanan dan siap memuntahkan isi perut loh, tapi berharap Anda memuntahkan isi dompet. Hehe..)

Apa yang Anda rasakan? Kesal, terganggu, bercampur perasaan sinis. Sebaiknya lekas singkirkan perasaan semacam itu.  Jika saat itu Anda punya uang berlebih berikanlah. Entah itu yang berupa uang logam receh atau uang lembaran, berikanlah. Entah apa pendapat Anda tentang kemiskinan, kemalasan, keterbatasan, dan semarganya. Jika ada yang bisa Anda berikan, berikanlah. Sebab, hampir-hampir tak ada orang yang ingin hidup dalam kondisi serba kekurangan.  Jika ada yang bisa Anda berikan, berikanlah.

memberi

Suatu kekuatan besar terasa kala kita berhasil menyingkirkan rasa enggan memberi, kala tangan kita berhasil merogoh isi kantong atau dompet, kala mengeluarkan isinya meski hanya sedikit, lalu mengulurkannya kepada mereka, dengan disertai senyum yang ramah nan tulus. Saya pribadi bingung menggambarkan kekuatan itu apa. Yang jelas, saat Anda melakukan itu, rasakan saja, telah mengalir sesuatu dari dalam diri Anda melalui jari-jemari Anda. Sesuatu itu bisa kita sebut kasih sayang. Memberi = merawat kasih sayang.

Memberi walau sedikit memang kadang terasa berat. Sangat beraaatt. Review lagi saat Anda mulai membuka dompet. Bagaimana jari-jemari Anda menari di atas barisan uang dalam dompet itu? Melompat dari uang merah ke uang biru. Melangkah ke uang abu-abu. Bergeser ke uang kuning. Salto ke uang hijau. Berhenti di mana jari Anda? Hehehe…

Memberi memang berat. Olehnya itu ganjaran bagi mereka yang bisa mengalahkan rasa berat itu juga sangat berat. Ya ganjaran memberi sangat berat dan mulia. Bagi Muslim, silahkan cek Kitab Al Qur’an dalam Surah Al Baqarah ayat 261. Mungkin itulah yang membuat seorang Ali bin Abi Thalib ra, salah satu sahabat Nabi Muhammad Saw yang dikenal miskin, selalu berusaha menyiapkan 2 keping koin uang di pagi hari. 1 keping untuk dia sedekahkan di siang hari. 1 keping dia sedekahkan di malam hari. Miskin harta, tapi kaya hati.

Orang bijak mengatakan, memberi tanpa pertimbangan bagai menyingkirkan batu penghambat besar di tengah arus sungai. Batu adalah kepentingan yang berpusat pada diri kita sendiri. Sedangkan arus sungai adalah rasa kasih sayang dari dalam diri manusia. Sesungguhnya bukan logam receh atau logam mulia yang Anda berikan, melainkan kemurahan. Dan kemurahan itu letaknya bukan di tangan, melainkan di hati.

Namun apabila kita tidak atau belum mampu memberi saat itu, pastikan diri kita tidak memaki mereka, tidak mengutuk mereka. Jangan sampai kutukan yang terlontar, di kemudian hari malah berbalik ke diri kita sendiri.

@SurahmanJie

Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s