Saat Dirimu di Persimpangan Jalan

“Entahlah…kemana semua itu akan bermuara,” katamu suatu ketika padaku.  Engkau mengaku tak tahu pasti. Engkau katakan menjalaninya mengalir saja. Seperti aliran air sungai. Namun mengalir dengan penuh wajah. Kadang mengalir kencang dengan penuh gelombang dan riak. Menghempas segala apa yang dihadapi. Menimbulkan bunyi berisik yang harmoni. Kadang mengalir pelan, tanpa gelombang, tanpa riak, tanpa suara. Begitu tenang hingga seakan tak mengalir namun tetap bergerak.

Di antara dua cara mengalir itu keduanya engkau nikmati. Baik kala meluap-meluap begitu deras. Ataupun kala begitu tenang. Namun, engkau mengakui, tak jarang keduanya pun engkau khawatirkan. Engkau khawatir terhanyut terbawa arus deras kala meluap-luap. Pun juga bisa celaka kala mengalir tenang tanpa gelombang. Keduanya katamu bisa membahayakan. Air deras mampu menghanyutkan. Air tenang mampu menenggelamkan.

“Entahlah…Kadang satu pikiranku bersuara ingin berhenti saja. Di lain waktu satu pikiranku yang lain protes terhadap suara itu. Mereka bertarung. Berebut keputusanku,” ceritamu padaku kala itu. Mereka ribut. Seperti para mahasiswa yang ribut beradu argumentasi dalam Sidang Umum organisasinya. Mereka penuh hiruk pikuk. Layaknya para anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang ramai berdebat dalam Rapat Paripurna.

“Apakah kau masih bisa mengendalikan mereka? Pikiranmu itu?,” tanyaku padamu. “Ya. Mereka masih ada di bawah komando kendaliku. Aku masih bisa mengendalikan mereka,” jawabmu. “Syukurlah, memang harus seperti itu. Kamu harus bisa mengendalikan pikiranmu,’ ucapku.

Setidaknya kita harus bisa mempengaruhi pikiran kita sendiri. Pikiran akan menghasilkan sikap dan tindakan. Tindakan akan berpengaruh pada diri kita sendiri, orang lain, dan lingkungan yang lebih luas.

Gawat jika engkau tidak bisa mempengaruhi pikiranmu sendiri. Coba engkau ikuti berita perseteruan Polri dan KPK. Sudah sampai episode ke – 3. Itu salah satunya karena pemimpin negara ini tidak punya pengaruh pada kedua lembaga itu. Dia memang tidak akan bisa mengendalikan lembaga itu. Tidak. Karena aturan tidak mengiyakan begitu. Tapi setidaknya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan dia bisa punya pengaruh.

Jika terus menerus seperti itu, jangan kaget jika perseteruan kedua lembaga itu akan menghasilkan jilid-jilid cerita selanjutnya. Bisa jadi bersaing ketat dengan jumlah episode sinetron yang berlapis-lapis. CHSI? GGS? Mahabarata? … Bahkan hal itu bisa jadi bola liar menimbulkan perseteruan antar lembaga-lembaga negara yang lain. “Bisa kacau negara ini,” kata Pak JK dulu. Ya dulu.

Sampai dimana kita tadi? Oia, sampai tentang pikiranmu bertarung di dalam kepalamu. Itu sudah bagian apa yang ingin engkau ceritakan padaku? Sudah BAB III atau masih bagian pendahuluan? Ooh…jangan kau bawa arus pembicaraan kita ini ke bab-bab. Engkau bisa memutar ulang memori perjuangan kita selama ini. Eh.. apa kabar ibu Dekanmu itu? Beliau sudah move on kan? Hehe..

Ok, engkau bingung akan terus melangkah atau berhenti. Aku tak tahu pasti apa yang paling tepat untukmu. Hanya pendapatku saja begini, ku rasa engkau perlu memperhatikan dua hal. Masa lalu yang telah engkau lalui dan masa depan yang sedang menanti.

Coba engkau putar ulang memori masa lalumu. Begitu banyak yang telah engkau jalani. Tak sedikit di antaranya engkau jalani dengan perjuangan dan pengorbanan. Engkau sudah sampai di titik ini. Tidak semua bisa menjalaninya. Tapi engkau bisa. Bagiku, itu hebat. Sungguh sayang jika engkau berhenti.

Coba engkau pikirkan harapanmu di masa depan. Apakah sudah kosong? Daftar harapanmu di masa depan yang dulu pernah engkau ceritakan masih tersimpan rapi kan? Harapanmu untuk keluarga, isteri, anak-anakmu yang lucu itu, orangtuamu, apa sudah engkau Delete semua? Belum lagi target-targetmu yang lebih luas. Apa sudah terkubur topik pembicaraanmu tentang bangsa dan negara? Ayolah, aku tahu sebagian isi pikiran di kepalamu. Engkau tidak pernah bisa hanya memikirkan diri sendiri. Engkau selalu tidak tenang melihat kondisi sekitarmu yang perlu perbaikan. Apa jadinya jika engkau berhenti?

Hampir semua orang pernah mengalami apa yang engkau rasakan saat ini. Berada di persimpangan jalan. Itu normal. Lika-liku perjalanan kehidupan. Ada yang memutuskan untuk berhenti dengan segala konsekuensinya. Ada yang memutuskan untuk melanjutkan langkah dengan segala tantangan yang menanti. Aku berharap engkau melanjutkan langkah yang sudah engkau mulai. Bukankah 1.000 langkah pencapaian dimulai dari langkah-langkah kecil 1, 2, 3, dan seterusnya? Aku bersedih jika engkau berhenti. Jika engkau berhenti, ku rasa engkau akan menderita batin.

Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Punya kekuatan dan kelemahan. Engkau tidak sedang lemah. Engkau sedang dilanda ketakutan saja. Jangan terjebak lama dalam jebakan ketakutan. Kata Ali bin Abi Thalib, bukanlah kelemahan yang menakutkan, tetapi ketakutanlah yang melemahkan.

Yang perlu engkau lakukan adalah mengumpulkan lagi keberanianmu yang sedang berserak. Keberanian akan menjadi bahan bakarmu. Milikilah keberanian untuk terus berjuang, karena kita masih punya hari esok. Jika pun hari esok tak jadi datang, setidaknya engkau telah memelihara harapan. Hanya mereka yang mampu memelihara harapan yang dinantikan oleh masa depan yang cerah.

#Sujie

Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s