“Kata Tak Elok Itu Dia Ucapkan Juga”

Kampreeet !!!

Kata itu mengalir deras dengan nada tinggi dari bibir Bumi. Sebuah kata tak elok yang jarang-jarang bahkan seingatnya tidak pernah ia ucapkan selama beberapa tahun terakhir. Pagi itu tiba-tiba meledak di bibirnya. Hanya terucap sekali memang. Namun ia risau bukan kepalang setelahnya.

Kata tak elok itu ia ucapkan tidak kepada seseorang. Tapi pada situasi. Sebuah situasi yang dikarenakan seseorang. Nah..akhirnya harus diakui, kata sampah itu terucap karena seseorang. “Tapi bukan ditujukan untuk seseorang,” ia mencoba menenangkan diri. “Ah…apa bedanya. Sama-sama bertumpu pada objek seseorang,” sisi lain pikirannya beropini. Sampai di sini, itu sudah jadi satu persoalan yang melintas di kepalanya. Biar bagaimana pun juga, kata seperti itu tak layak dan tak seharusnya diucapkan.

Lebih dari itu, ucapan sampah itu terdengar oleh beberapa tetangga di sekitarnya. Ekspresi mereka bermacam rupa. Mengernyitkan dahi, melotot mata, menoleh dengan senyum tanda tanya. Bukan hal biasa memang. Si Bumi, orang yang berkata “Kampreeet” barusan, jarang-jarang bahkan belum pernah terdengar berucap kasar. Ekspresi tetangganya itu menambah risau dia bukan kepalang.

Sebuah Penyesalan

Bumi malu. Malu bukan main. Dia merasa peristiwa pagi itu akan dicatat sejarah. Bukan dengan tinta emas. Tapi dengan tinta merah. Bukan dalam catatan “Guinness Book of Records” yang kesohor itu. Bukan pula di catatan “MURI” yang kadang bikin geli. Bukan. Namun paling tidak jadi catatan sejarah di tingkat RT lingkungan tempat tinggalnya.

“Apa yang terjadi? Kamu tidak sedang belajar meneladani pak Ahok ‘kan?” tanya Langit padanya kala Bumi curhat tentang peristiwa itu. “Tidaklah… itu murni karena diri saya sendiri, saya sungguh menyesal,” keluh Bumi penuh rasa bersalah.

Entah apa yang membuat bibir Langit mengikutkan Ahok dalam percakapan mereka. Seorang Gubernur DKI Jakarta, seorang public figure yang terkenal sering mengumpat dengan gagah di depan publik itu.

Mungkin Bumi merasa bersalah dan malu dengan kesan buruk yang akan tertinggal pasca dia berucap tak elok. Ya, bisa saja itu terjadi.

Coba lihatlah Ahok, dikenal alih-alih bukan karena ia seorang Gubernur DKI, tapi lebih dikenal karena gaya komunikasi politiknya yang dianggap buruk.

Tahu Farhat Abbas? Dia pernah dikenal sebagai pengacara kondang karena sering berdiri di samping artis yang berperkara hukum. Namun sekarang lebih diingat karena sering berkomentar nyinyir dan buruk di akun twitternya.

Atau ingat Fahri Hamzah? Politisi muda itu sukses mempopulerkan kata “Sinting” di jagad socmed. Sampai ada senior Langit yang berkomentar di masa pemilu legislatif kemarin, “Di tanah kelahirannya, Fahri Hamzah raih jumlah suara dengan angka yang sinting.” Bagi beberapa orang, hasil buah jari tangan Fahri itu menjadi tinta merah dalam catatan karir cemerlangnya di panggung Senayan.

Kembali ke curhatan Bumi. Dia memang bukan public figure yang selevel dengan Ahok, Farhat, atau Fahri. Tapi untuk beberapa komunitas, dia mendapat tempat khusus. Setidaknya di level RT nya tadi. Dan tidak menutup kemungkinan, awalnya hanya beberapa tetangga saja yang tahu, lama-lama beredar dari satu mulut ke telinga yang lain. Akhirnya yang mengetahui bertambah dan bertambah. Persis dengan kerangka pertambahan anggota sistem MLM (Multi Level Marketing). Sebuah penumpukan dosa ghibah pun terjadi.

Langit pada beberapa kesempatan sering menceritakan ulang kisah ini, tanpa menyebut tokoh asli. Langit berharap itu tidak jadi ghibah. Karena Langit tidak meniatkannya demikian. Dan lagi, Langit sudah mengantongi izin dari si empunya cerita. Diniatkan bersama menjadi pelajaran berharga untuk dirinya dan orang lain.

Nasi telah menjadi bubur. Kata“Kampret” telah terucap olehnya. Bumi merasa bersalah. Kepada dirinya. Kepada tetangganya. Bumi pun merasa berdosa. Kepada kedua orang tuanya. KepadaTuhannya.

“Saya pernah membaca sebuah hadits, “Rasulullah Saw bersabda, Di antara dosa-dosabesar adalah memaki ayah-ibunya.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, adakah seseorang yang tega memaki ayah-ibunya?” Rasulullah menjawab, “Ada, ia memakiayah-ibu orang lain, dan dimakilah ibunya.” Bumi membacakan hadits yangdiriwayatkan Muslim itu dengan mata berkaca-kaca.

“Saya memang tidak memaki ayah-ibu orang lain. Tapi saya takut, dengan kata-kata buruk yang terucap itu, orang yang tidak suka akan menyumpahi saya sambil mengikutkan orang tua saya. Misal mereka berkata, “Kelakuan anak muda jaman sekarang. Siapa sih orang tua anak itu?”. Astaghfirullah…kasihan orang tua saya,ucapnya sambil mengusap buliran air yang siap jatuh di ujung matanya.

Begitu ia mengaitkan ucapab tak elok itu dengan takutnya ia jadi anak durhaka kepada orang tuanya. Bumi memang anak yang menyayangi kedua orang tuanya.

Sebuah Nasehat Cinta dari Sahabat

Maaf, saya harus mengatakannya dengan jujur, jangan sakit hati ya, terima ucapan saya ini dengan lapang dada,” ucap sahabat lain, Awan, dengan nada dan mimik wajah serius. Awan yang sedari awal hanya diam menjadi pendengar setia, tiba-tiba bergemuruh. Langit mengalihkan pandangan mata ke arah Awan dan memasang telinga dengan serius. Ekspresi datarnya mengingatkan Langit dengan seorang hakim yang sering ditemuinya memimpin sidang di Pengadilan Negeri sebuah kota Teduh, Indah, Aman, dan Nyaman (katanya): Samarenda. Sedang Bumi yang jadi “tersangka” dalam sesi curhatan bertiga itu hanya mengangguk tanda siap menerima penghakiman.

“Kamu salah !” ucap Awan tegas,dengan sorot mata tajam. Lalu tak lama kemudian diikuti senyum di wajahnya yang tersimpul miring dan alis mata yang dimainkan naik turun. Langit seketika membekap mulut sendiri menahan tawa yang siap meledak. Ekspresi wajah Awan baginya sangat lucu. Namun Langit tidak enak hati untuk tertawa di depan sahabatnya yang jadi “tersangka”.  “Maaf,” ucap Langit singkat sambil menggigit bibir masih berusaha menahan tawa.

“Tapi kamu tepat telah menyesal. Selanjutnya saya sarankan kamu untuk meminta maaf. Pertama, kepada orang yang telah menciptakan situasi hingga kamu mengucapkan kata tak elok itu. Kedua, kepada para tetangga yang dikagetkan dengan ucapan kamu itu. Dan ketiga, perbanyak mohon ampunan kepada Allah. Ok?” lanjut Awan menasehati dengan bijak.

“Iya, tentu. Yang ketiga dan kedua sudah saya lakukan. Yang pertama belum sempat, secepatnya, Insya Allah,” kata Bumi.

Sebuah Pelajaran

“Kamu memang sumber nasehat bijak, Awan. Beruntung kita punya sahabat sepertimu.” puji Langit kepada Awan. Yang dipuji seketika mendongakkan dagunya, merapikan posisi duduk, dan berkata,“Hoo…iya dong. Baru sadar toh.” ucapnya setengah bercanda sembari merapikan dasi. “Halah…pujian barusan dicabut,” timpal Langit diikuti pecah tawa kedua sahabatnya.

Langit pun ikut berpendapat. Bahwa manusia memang perlu menjaga sikap dan lisannya. Betapa tak sedikit manusia yang hancur karena sikap dan lisan yang tak terjaga. Dan betapa banyak manusia yang tersakiti karena ucapan yang tidak baik. “Bukankah pepatah mengatakan lidah itu lebih tajam dari pedang?” ungkap Langit. Sekali kata-kata tidak baik terlontar, ia akan meninggalkan bekas pada mereka yang tersakiti. “Seperti paku yang ditancapkan. Bisa dicabut memang. Tapi meninggalkan bekas lubang, iya kan?” tambahnya.

“Saya yakin kalian akan jadi orang besar di masa mendatang. Maka berhati-hatilah dengan sikap dan tutur kata kalian. Jika kalian tidak merasa rusak karena sikap dan tutur kata kalian yang sudah terbiasa buruk, setidaknya kredibiltas kalian rusak di mata orang lain,” sambung Langit. Orang mungkin akan lupa apa saja kata tak elok yang kerap dilontarkan pejabat di depan publik. Tapi orang tidak akan lupa bagaimana cara dia melakukan itu hingga menciderai perasaan publik.

I have learned that people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel it.” Langit berpesan dalam bahasa Inggris yang terancam fasih.

“Wow…wow..wow… sekarang siapa coba yang bijak. Keren sekali kata-katamu itu kawan. Itu quote kamu sendiri yang bikin?” sergah Awan penuh kagum.

“Anu… itu saya baca di kolom opini Kaltim Post pagi kemarin,” jawab Langit enteng sambil mengedipkan mata. .. . (belum End)

Pos ini dipublikasikan di My Story. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s