(Sekali Lagi…) Belajar Itu Proses Yang Perlu Dinikmati

Banyak yang berhasrat tinggi ingin pintar, tapi tidak banyak yang berhasrat tinggi & bertekad kuat dalam #belajar.
Keberhasilan dalam #belajar tidak bisa instan. Mie instan saja perlu perlakuan proses-proses sebelum dinikmati.
#Belajar adalah jalan dimana orang tidak tahu jadi tahu. Dari tidak paham jadi paham. Dari tidak bisa jadi bisa.
#Belajar adalah proses. Sehingga belajar butuh kesabaran. Menikmati setiap proses.
Dengan menikmati setiap prosesnya, #belajar jadi aktifitas yang menyenangkan.
Jika ingin memahami suatu hal, maka kuncinya adalah #belajar.

Pintu dari belajar adalah membaca. Itulah makna pentingnya Iqro’.
Bacalah…segala apa yang ada di sekeliling kita. Baik yang bergerak maupun tak bergerak.
#Belajar adalah nutrisi berharga untuk masa depan. Ibarat menanam bibit buah duren untuk dipanen hasilnya di masa mendatang.
Orang bilang #belajar adalah investasi jangka panjang yang tiada habisnya. Beda dengan harta benda suatu saat ada masa habisnya.
Mata kuliah ini mata kuliah itu mustahil dipahami? Tidak! Selama kita bisa mengalahkan rasa malas kita untuk #belajar
“Kamu & dia sama-sama makan kapurung, tapi dia bisa kamu tidak. Kenapa? Karena kemalasan #belajarmu lebih tinggi dari dia,” kata abang saya suatu ketika.
Bisa tahu atau tidak, bisa paham atau tidak, kuncinya adalah semangat #belajar kita.
Aturan mendasar dalam #belajar: milikilah motivasi belajar lebih dahulu sebelum belajar tentang teknik-tekniknya. (dinukil dari buku Prophetic Learning)
Kesuksesan mulia dalam #belajar bisa dicapai jika berangkat dari motivasi yang benar.
“Setelah beberapa masa, aku menuntut ilmu dengan motivasi yang salah. Ternyata, ilmu tidak pernah mau dituntut kecuali karena Allah,” Al-Gazhali
Selain kelurusan motivasi belajar yang harus dijaga, cara #belajar pun patut untuk dijaga dengan baik & benar.
Suatu hari Harun Al-Rasyid memberikan titah kepada Imam Malik, “Datanglah ke tempat kami, agar anak-anak kami dapat mempelajari kitab Al-Muwatha.”
Imam Malik menjawab: “Ilmu itu datang dari lingkungan kalian. Jika kalian memuliakannya, ia jadi mulia. Jika kalian merendahkannya, ia jadi hina”
“Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.” begitu jawaban tegas Imam Malik kepada sang Khalifah.
Lalu Khalifah pun menyuruh kedua puteranya datang ke mesjid untuk belajar bersama rakyat biasa, tempat Imam Malik mengajarkan ilmu.
Imam Malik berkata: “Tak apa, tapi syaratnya mereka tidak boleh melangkahi bahu jama’ah yang ada & bersedia duduk di tempat mana saja yang lapang bagi mereka,” #belajar
Tentu kita tidak asing dengan nama Harun Ar-Rasyid. Kekhalifahan Daulah Abbasiyah mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan beliau.
Harun Ar-Rasyid dan Imam Malik telah mengajarkan kita sebuah kultur budaya #belajar yang begitu indah.
Perlu disadari bahwa kesuksesan dalam #belajar sangat dipengaruhi oleh motif motivasi & sikap yang ditunjukkan para pembelajar.
Belajar harus dilandasi sikap positif. Salah satunya, hilangkan sikap sombong. Baik dalam prosesnya, maupun saat dapat hasilnya.
Bayangkan, anak seorang Khalifah diwajibkan duduk di antara rakyat jelata lainnya. Tidak ada kelas sosial. Tidak ada sekat-sekat. Bagaimana dengan wajah pendidikan kita hari ini? *Jurang menganga*
Para penghuni istana Khalifah pun tetap harus mendatangi tempat-tempat ilmu jika ingin pintar. Lah kita? *Menunduk malu*
Lihatlah ekspresi kawan-kawan kita (ah, mungkin juga kita sendiri!) yang begitu bahagia jika mata kuliah atau mata pelajaran diakhiri lebih awal. Duh…
Catat: Proses #belajar yang kita lakukan tidak boleh berhenti sebatas pada mempelajari saja, tapi sekaligus belajar untuk mengamalkan.
Lakukan ini: “Learning how to think and learning how to do”. Belajar untuk memahami dan belajar untuk mengamalkan.
Pelajari dengan baik & benar. Amalkan dengan baik & benar.
“Apa guna punya ilmu tinggi, kalau tidak diamalkan. Apa guna punya ilmu tinggi, kalau hanya untuk membodohi”
Jadi… Mari luruskan niat, kuatkan motivasi, benarkan sikap & cara agar belajar jadi menyenangkan untuk bisa tahu, bisa paham, dan bisa melakukan (mengamalkan).
Mengaku pelajar tapi hanya mau instan, harus malu menyandang gelar pelajar.
Mengaku pelajar tapi tidak mau belajar, itu bukan pelajar sejati. Selamat #belajar
Pelajar sejati adalah dia yang mau belajar & menikmati tiap proses dalam belajar. (Sekali lagi) selamat #belajar !

(Sujie)

Pos ini dipublikasikan di Opini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s