Gerhanaku Gerhanamu – Fitrah Total

Sisa-sisa hari ini masih bikin merinding *brrrr* … #Gerhana Matahari, 09 Maret 2016 | Hingga Ilmuwan Atheis kesulitan menemukan kata-kata yang pas untuk menggambarkan ketakjuban perasaan yang mereka alami.

gerhana masamba 9 maret 2016

Sebandel-bandel hingga sekamfret-kamfretnya beberapa wajah yang saya kenal berdiri di samping saya hari ini, fenomena Gerhana Matahari 98% di langit Masamba, cukup membuat lidah mereka secara otomatis mengucap secara acak kalimat Tasbih, Tahmid, dan Takbir serta Tahlil hingga ada pula yang bershalawat. Ya, kalimat-kalimat semacam itulah yang secara naluriah alamiah sering terucap oleh lidah seorang muslim kala mereka menjumpai situasi / peristiwa di luar kadar normal.

Bagi mereka yang meyakini keberadaan dan kebesaran Tuhan, tak sulit untuk menemukan ungkapan yang menggambarkan ketakjuban. Dan Islam merangkum semua itu dengan begitu indah.

Islam memfasilitasi penganutnya dengan kalimat-kalimat ucapan yang mewakili naluri dan fitrah ketakjuban sebagai seorang manusia. Lebih dari itu, makna kalimat-kalimat ini melayang jauh di atas batas ketakjuban. Ia melesat dalam makna pengakuan, penghambaan dan penyerahan.

Pengakuan, bersaksi akan adanya kebesaran dan kekuatan di luar diri manusia dan alam semesta, Dia lah Allah Swt, Sang Pencipta, Sang Maha Kreasi ketakjuban tanpa tanding, Tuhan seru sekalian alam.

Penghambaan, berikrar diri menghamba kepada Sang Pencipta, tidak kepada yang lain. Berpatuh kepada keteraturan-Nya.

Dan makna penyerahan, berserah diri kepada-Nya. Berserah diri atas segenap ketetapan-Nya.

Ketiga makna ini, pengakuan, penghambaan, dan penyerahan diri, bisa dialami apabila naluri fitrah manusia berjumpa dengan akal sehat dan sentuhan pengalaman spiritual. Fitrah dan akal sehat telah ada pada diri setiap manusia, sedangkan yang terakhir, pengalaman spiritual, ia perlu “colekan” khusus dari Allah. Sebab yang terakhir ini, pengalaman spiritual, berkaitan erat dengan akan ada tidaknya iman dalam diri seseorang. Sedangkan ada tidaknya iman dalam diri seseorang adalah hak prerogratif Allah.

Seorang bandel yang hari ini tiba-tiba mengucapkan kalimat Tasbih, Tahmid, Takbir hingga Tahlil di tengah fenomena Gerhana, sesungguhnya sedang menunjukkan naluri fitrahnya sebagai seorang manusia.

“Eh… gumam apa ki tadi? Allahu Akbar? Waahh..” tanya seorang temannya dengan ekspresi kaget.

“Tidak-tidak. Salah dengar ko. Itu anu, takjub saja, pemandangan langit tidak biasa. Suasananya agak seram.” ucap si tersangka salah tingkah.

“Saya tidak salah dengar sodara. Itu tadi kau bertakbir. Jadi bisami ini ikut sholat nanti tawwa.” temannya masih mengejar.

“Bah… jangan dulu. Kau tahu mi saya ini masih bejat. Heboh nanti orang kalau lihat ka sembahyang. Hahaha..” ucap si tersangka menyelamatkan diri.

“Sudah-sudah. Fotoki dulu nah. Momen langka ini bah…ayo foto.” tutup si tersangka mengalihkan pembicaraan.

– – – – – – – – –

Naluri fitrah seorang manusia bisa muncul baik atas kesadaran atau pun tanpa kesadaran (pada umumnya naluri lebih banyak terjadi tanpa komando, ia muncul secara otomatis). Sungguh, saudara kita di atas ini, telah menunjukkan naluri fitrahnya sebagai manusia. Ia telah menunjukkan sebuah pengakuan secara naluriah. Ia mengakui adanya kekuatan besar yang mengatur alam, berkuasa atas semesta, termasuk bisa berkuasa atas dirinya. Ia, secara naluriah, telah bertasbih, bertahmid, bertakbir. Kalimat-kalimat ini adalah pengakuan.

Namun, naluriahnya belum berjumpa dengan akal sehat dan sentuhan iman. Sehingga, pemaknaannya belum berlanjut ke penghambaan dan penyerahan diri. Berhenti di garis pengakuan (yang diingkari kemudian).

Apa tugas kita?

Tidak lain dan tidak bukan adalah membantu dan mendoakan mereka. Membantu mereka kiranya dengan akal sehat, mereka bisa berpikir jernih untuk menemukan kebenaran yang hakiki. Mendoakan mereka, kiranya Allah berkenan memberikan “colekan” khusus kepadanya, hingga dirinya mendapati pengalaman spiritual yang berujung pada keimanan. Ya, doa adalah senjata ampuh bagi setiap mukmin.

Apa lagi “pekerjaan rumah” kita ?

Bagi yang telah merasakan nikmatnya karunia pengakuan, penghambaan dan penyerahan diri pada Allah, berusaha dan berdoalah selalu, agar kiranya Allah tidak mencabut nikmat keimanan yang ada dalam relung hati, jiwa, dan pikiran kita. Jika iman telah tercabut, maka tak ada lagi mahkota kebanggaan seorang mukmin.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Jika para Ilmuwan Atheis mau meluangkan energi mereka untuk meneliti Islam lebih dekat, terbuka kemungkinan mereka akan menemukan kalimat yang pas untuk mewakili perasaan mereka di tengah fenomena Gerhana. Dan tak tertutup potensi, mereka menjadikan Islam sebagai “The Way of Life” bagi mereka.

Sungguh saudaraku, Islam itu indah. Islam itu menenangkan. Mengapa? Karena Islam agama fitrah. Ia memfasilitasi setiap naluri alamiah dalam diri manusia. Sekali lagi, Islam itu fitrah.

Note:
*Kalimat Tasbih: Subhanallah (Maha Suci Allah)
*Kalimat Tahmid: Alhamdulillah (Segala Puji Bagi Allah)
*Kalimat Takbir: Allahu Akbar (Allah Maha Besar)
*Kalimat Tahlil: LAA ILAAHA ILLALLAH (Tidak Ada Tuhan Selain Allah)

Best regard,
#Sujie

(Gerhanaku Gerhanamu – Fitrah Total)

Pos ini dipublikasikan di Opini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s