Hakim Cium Tangan Terdakwa (Sebuah Pelajaran Berharga dari Jordania)

12994395_10204894143387880_1825720124467543775_n
Hakim itu mengejutkan semua orang di ruang sidang. Ia meninggalkan tempat duduknya lalu turun untuk mencium tangan terdakwa.
Terdakwa yang seorang guru SD itu juga terkejut dengan tindakan hakim. Namun sebelum berlarut-larut keterkejutan itu, sang hakim mengatakan, “Inilah hukuman yang kuberikan kepadamu, Guru.”
Rupanya, terdakwa itu adalah gurunya sewaktu SD dan hingga kini ia masih mengajar SD. Ia menjadi terdakwa setelah dilaporkan oleh salah seorang wali murid, gara-gara ia memukul ringan salah seorang siswanya. Ia tak lagi mengenali muridnya itu, namun sang hakim tahu persis bahwa pria tua yang duduk di kursi pesakitan itu adalah gurunya dulu.
Hakim yang dulu menjadi murid dari guru tersebut mengerti benar, pukulan dari guru itu bukanlah kekerasan. Pukulan itu tidak melukai dan tidak menyebabkan sakit. Hanya sebuah pukulan ringan untuk membuat murid-murid mengerti akhlak dan menjadi lebih disiplin. Pukulan seperti itulah yang mengantarnya menjadi hakim seperti sekarang.
Peristiwa yang terjadi di Jordania awal tahun 2016 ini, sesungguhnya merupakan pelajaran berharga bagi kita semua sebagai orangtua. Meskipun kita tidak tahu persis kejadiannya secara mendetil, tetapi ada hikmah yang bisa kita petik bersama.

Dulu, di satu generasi, saat murid “nakal” atau tidak disiplin, guru biasa menghukumnya. Bahkan mungkin pernah memukulnya. Saat murid itu mengadu kepada orangtua, mereka lalu menasehati agar anaknya itu berubah. Hampir tidak ada orangtua yang menyalahkan guru karena mereka percaya, itu adalah bagian dari proses pendidikan yang harus dijalani anaknya.
Buahnya, tak sedikit dari generasi itu tumbuh menjadi manusia-manusia yang mengerti sopan santun, memahami adab, menjadi lebih disiplin. Banyak dari mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang hormat kepada guru dan orangtua. Namun tak jarang masih bisa juga kita temui di antara mereka ternyata yang lupa diri. Mungkin ada yang menyimpan dendam.
Seperti yang patut kita telaah lagi hari ini adalah tak sedikitnya berita orangtua melaporkan guru karena telah mencubit atau menghukum anaknya di sekolah. Sebuah fenomena yang perlu mendapat treatment khusus. Sebab fenomena ini telah melahirkan fenomena lain, seperti dirilis di Kabar Sumatera, guru-guru terkesan membiarkan siswanya. Fungsi mereka tinggal mengajar saja; menyampaikan pelajaran, selesai.
Bukannya tidak mau mendidik muridnya lebih baik, mereka takut dilaporkan oleh walimurid seperti yang dialami teman-temannya. Sudah sekian guru di negeri ini dilaporkan walimurid hingga harus berurusan dengan polisi.
Beberapa waktu lalu saya menyempatkan diri mudik ke kampung halaman, di Desa Lapapa, Masamba, Sulawesi Selatan. Saya cukup tercengang mendengar pernyataan (semacam curhat) dari seorang kawan lama yang sudah berprofesi sebagai tenaga pendidik sekolah dasar di sana, bahwa mereka cukup was-was dengan maraknya berita tentang guru yang dilaporkan ke polisi oleh orang tua gara-gara menghukum murid. Rasa was-was itu kemudian berdampak cukup signifikan terhadap daya inovasi dan kreasi rekan sejawatnya dalam mendidik. Mereka jadi ragu (takut) untuk berkreasi mengembangkan pendekatan “reward and punishment” dalam proses belajar mengajar di sekolah. Salah memberi punishment sedikit saja, polisi urusannya. Giliran kurang banyak memberi reward, suara keluhan walimurid kencang didapatkan melalui gosip-gosip teras tetangga. Duh…Guru, sabarlah.
Para pembaca budiman, semoga bagi kita para orangtua atau walimurid, bisa membangun hubungan yang lebih baik dengan guru. Kita bersinergi untuk menyiapkan generasi masa depan.
Ketika kita menitipkan anak kita ke sekolah untuk dididik, artinya kita siap menerima konsekuensi dari sistem pendidikan yang dijalankan di lembaga itu. Jika kita tidak ingin anak kita menerima konsekuensi apapun, ya tidak usah dititipkan ke sekolah manapun, silahkan didik sendiri di rumah masing-masing. Didiklah dengan gaya masing-masing. Berikan reward dan punishment ala Anda masing-masing. Jadi tidak perlu ada cerita salah-menyalahkan antara walimurid dan guru, tak perlu ada berita lapor-melaporkan.
Pengawasan dan pemantauan terhadap sistem dan kultur belajar mengajar di sekolah anak kita tentu tetap perlu dilakukan. Namun demikian, mari kita lakukan dengan cara-cara konstruktif dan tentunya lebih bersahabat. Para tenaga pendidik memerlukan rasa aman dan nyaman guna memaksimalkan potensi mereka dalam mendidik anak-anak kita.
Salam hormat untuk para guru. Salam akrab untuk para walimurid.
(*)
Pos ini dipublikasikan di Opini, Re-Post. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s