YANG HILANG DARI NEGERIKU

Bagi generasi ‘sebelumnya’, lazim ditemui pemandangan para murid begitu memuliakan para gurunya. Semisal, kala anak-anak murid mau memasuki sekolah tempat menimba ilmu, tak jarang mereka menunduk hormat atau memberi salam kepada sang guru yang menunggu di pintu sekolah.
Mereka melewati pintu depan yang sudah ditunggu oleh tuan guru dengan penuh takzim. Mereka berjalan menunduk sebagai bentuk hormat kepada yang lebih tua.
Berjalan membungkuk bukan hanya sekedar tata cara penghormatan. Tapi juga sebuah simbol mau merendahkan diri kepada manusia lain yang dinilai lebih berat “isinya”. Bisa ilmunya, bisa usianya, atau bisa karena maqom (kedudukan) nya.
Namun sekarang itu nampaknya sudah mulai hilang dan mungkin hanya tinggal cerita yang bisa dikenang.
Sekarang, pendekatan guru mulai bergeser atau digeser menjadi status partner/rekan/teman belajar para murid. Tidak ada yang sepenuhnya salah dengan hal itu. Namun, kekiniannya, pola pengajaran dengan pendekatan sebagai teman makin ke kini nampaknya makin kebablasan. Makin terkikis sikap sungkan murid. Makin sulit ditemukan sikap takzim kepada sang guru. Karena mereka dianggap teman dan sekedar fasilitator pendidikan.

Rekan-rekan mungkin masih ingat, bagaimana dulu, kita dan kawan-kawan sebaya berlomba menjemput guru kita saat memasuki pagar sekolah? Ada yang berebut membawakan sepedanya dan membawakan tasnya. Yang tak kebagian. Tetap bisa berebut untuk urusan salim mencium tangan.
Atau cara lain, misalnya di SD saya dulu, saat masih SDN 451 Kuau namanya (terletak di sebuah dusun di Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan), kami punya pola penghormatan khusus. Di pagi hari biasanya ‘kan kita ada tugas piket bersih-bersih sesuai penempatannya, yang tidak kebagian tugas piket biasanya mengisi waktu dengan bermain atau belajar. Kala semua itu berlangsung, lantas ada guru yang tiba ke gerbang sekolah, seketika seorang murid (biasanya ketua kelas paling senior, kelas 6, 5, 4, dst) akan berteriak lantang memberikan instruksi, “Kepada Bu Guru / Pak Guru / Para Guru beri salam..!!”, murid-murid yang lain lantas serentak menyambut, “Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaaatuuuhhh….” (Ohh…i miss that moment).
Sekarang?? Motor guru saja ditikung murid di pintu masuk, demi mendapat tempat parkir!!!
Dulu, diperintah guru mengambil kapur adalah sebuah kebanggaan prestisius. Mengunjunginya saat sakit adalah aturan tak tertulis yang membuat para murid bergegas dan berinisiatif patungan lalu membuat rencana untuk mewujudkan.
Dulu, dihukum pukul penggaris tangan kita bila ada kesalahan, lantas itu jadi pembelajaran berharga karena disertai nasihat berharga dari sang guru.
Sekarang? Ditempeleng, atau dicubit sedikit, lapor komnas HAM. Kalau murid gagal, guru disalahkan. Ditegur polisi melanggar lalu lintas, melunjak melawan bawa-bawa nama beken. “Kutandai Ibu ya… kutandai.” Yang disalahkan siapa? Lagi-lagi guru & asal seragam sekolahnya yang didakwa. “Anak sekolah mana itu? Gurunya ajarin apa sih ini anak?”. Usai itu baru menyusul pertanyaan lain, “Anak siapa itu?”.
Ya, bila siswa bikin onar di luar sekolah, yang dihujat pertama itu gurunya. Baru kemudian orang tuanya loh.󾌹 Duhai guru, maafkan kami.
Para pembaca budiman, pemuliaan kepada para guru lebih dari sekedar tata krama. Tapi juga sebuah kesiapan menerima. Dan ikrar tanpa kata. “Bahwa kita ingin diajari menjadi manusia”.
Semoga kita bisa terus belajar menjadi generasi bangsa yang tahu tata krama pada yang tua, dan mengerti bahwa menjaga adab dan sopan santun bukanlah bagian dari keprimitifan.
(Salam hormat)
* dari FB Andre Raditya, dengan tambahan revisi oleh @Surahman_Jie (penulis)
12985455_10204884406504464_5626406142023320349_n
Pos ini dipublikasikan di Opini. Tandai permalink.

Satu Balasan ke YANG HILANG DARI NEGERIKU

  1. Harry Azhari berkata:

    I miss that moment too, kang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s