Kontroversi Basuki: Jalan Pintas Menarik Perhatian Publik

Menengok Sosok di Masa Lalu: Barnum, Penipu Ulung Amerika

Seorang pakar pertunjukan abad sembilan belas di Amerika bernama Barnum memulai karirnya sebagai asisten pemilik sirkus. Dalam perjalanan pertunjukan sirkus mereka singgah dari satu kota ke kota lain. Di suatu kota, pada pagi hari pertunjukan perdana, Barnum berjalan-jalan di kota dengan lagak misterius. Orang-orang mulai memperhatikan dan mengikutinya karena gaya berpakaiannya mengingatkan mereka akan seseorang. Lalu di tengah gerombolan orang yang sedang penasaran itu, seseorang berteriak bahwa si misterius adalah si Ephraim K. Avery, seorang pendeta yang dibebaskan dari tuduhan pembunuhan tetapi masih dianggap bersalah oleh sebagian besar penduduk Amerika kala itu. Gerombolan massa yang marah seketika mengejar, menangkap, dan menyeret Barnum, mereka siap menghajarnya. Setelah memohon dengan akting yang sangat meyakinkan, Barnum bisa mempengaruhi gerombolan massa untuk tidak memukulinya dan mengikutinya ke sirkus tempatnya bekerja, dimana ia bisa menegaskan siapa jati dirinya.

Setiba di lokasi sirkus, pimpinan sirkus menegaskan kepada khalayak ramai bahwa semua itu hanyalah sandiwara iseng belaka, ia yang mengatur sandiwaranya dan sosok yang tadi berteriak bahwa Barnum adalah Avery yang dibenci penduduk sesungguhnya rekan Barnum sendiri, sesama asisten pimpinan sirkus. Akhirnya, gerombolan massa bubar. Barnum yang hampir tewas penasaran dengan trik yang baru saja dijalankan oleh bosnya. “Hai Barnum,” sahut bosnya, “semua ini adalah demi kebaikan kita, demi kesuksesan agenda sirkus kita. Ingatlah bahwa yang kita butuhkan untuk mendukung kejayaan adalah nama besar, entah itu nama baik atau nama buruk.” Hasilnya memang mencengangkan, semua penduduk di kota itu seketika membicarakan kehebohan dari lelucon sandiwara mereka dan sirkus mereka kemudian penuh sesak di setiap malam-malam pertunjukan.

Barnum mendapat pelajaran berharga yang tak pernah ia lupakan. Strategi itu dia jalankan dengan jitu di berbagai tujuan-tujuan besarnya di kemudian hari. Pernah ia menjalankan bisnis Museum Amerika, ia mempekerjakan seorang karyawan. Tugas karyawan itu hanya berjalan keluar museum, berkeliling di beberapa jalan yang ramai, lalu masuk lagi ke dalam museum. Begitu seterusnya berulang-ulang. Selain berjalan, karyawan itu ditugaskan melakukan gerakan-gerakan misterius untuk menarik perhatian orang-orang di jalanan. Setelah berkeliling sekian kali, orang-orang mulai penasaran, lalu mengikutinya dan memperdebatkan gerakan yang dilakukannya. Tingkah karyawan itu berhasil menarik perhatian orang-orang. Mereka tertarik untuk terus mengikutinya meski harus membeli tiket masuk ke dalam museum. Sebagian mereka kemudian terpecah perhatiannya pada koleksi museum itu dan tetap berada di dalam museum. Sementara si karyawan terus lanjut berkeliling dengan gerakan misteriusnya yang lagi-lagi berhasil menyedot perhatian orang untuk mengikutinya hingga ke dalam museum. Beberapa waktu kemudian, aparat setempat turun tangan menghentikan si karyawan beraksi, karena gerombolan orang yang mengikutinya menimbulkan kemacetan dan kegaduhan di jalanan. Si karyawan memang berhenti, namun ribuan penduduk New York telah memasuki museum itu dan banyak dari mereka menjadi penggemar pemilik museum itu, si Barnum yang haus ketenaran.

Di lain waktu, Barnum meluncurkan keanehan lain guna menarik kunjungan orang ke museumnya. Ia membawa sosok wanita tua bisu yang dia umumkan berusia 161 tahun dan diiklankan di berbagai surat kabar sebagai seorang mantan perawat George Washington. Orang-orang pun tertarik untuk masuk museumnya. Namun ketertarikan orang-orang hanya bertahan beberapa waktu saja. Barnum kemudian meluncurkan strategi berikutnya, yakni menyebarkan surat-surat kaleng (anonim) ke berbagai surat kabar bahwa wanita tua koleksinya adalah rekayasa hebat. “Wanita ini,” tulisnya, “bukanlah manusia, melainkan robot yang dibuat dari tulang paus, karet India, dan banyak per besi.” Orang-orang yang tadinya cuek dibuat penasaran untuk melihatnya langsung dan orang-orang yang sudah pernah melihatnya ingin kembali mencari tahu apakah isu tentang wanita robot itu benar atau tidak, meski harus kembali membayar tiket masuk yang mahal. Lagi-lagi Barnum berhasil menciptakan kehebohan yang mendatangkan ketenaran baginya.

Beberapa tahun kemudian, Barnum memperluas wilayah pertunjukannya keluar Amerika. Ia berkeliling Eropa dengan membawa seorang kurcaci berusia lima tahun. Barnum iklankan teman kecilnya itu ke berbagai surat kabar sebagai anak lelaki dataran Inggris berusia sebelas tahun dan telah ia latih melakukan beragam tindakan menakjubkan. Barnum berhasil menarik banyak perhatian. Ketenarannya bahkan memikat Ratu Victoria, sang ibu suri kerajaan meminta bertemu empat mata dengan Barnum dan kurcacinya yang berbakat secara khusus di istananya, Buckingham Palace. Pers Inggris mungkin telah mengendus motif tipuan Barnum dan mulai memberitakan negatif tentangnya. Namun  sayang, Ratu Victoria terlanjur berhasil dihiburnya dan terpikat menyanjung Barnum untuk waktu yang begitu lama.

Interpretasi

Robert Greene, penulis buku best seller “The 48 Laws of Power”, mencontohkan Barnum sebagai sosok yang memahami kebenaran mendasar tentang kunci menarik perhatian orang lain. Bahwa setelah orang lain memperhatikan Anda, Anda memiliki kekuatan khusus. Bagi Barnum, menciptakan minat berarti menciptakan gerombolan massa, bahwa “Setiap gerombolan orang memiliki prospek yang menguntungkan,” entah itu gerombolan penyokong, para pendukung atau para relawan atau bisa berupa gerombolan massa yang belum pasti. Perlu diketahui, gerombolan (perkumpulan) massa memiliki kecenderungan berpikir dan bertindak serupa. Sehingga gerombolan massa yang bersifat semacam ini sangat mudah dipancing dan digerakkan bereaksi, meski hanya dengan sebuah isu yang belum benar adanya.

Banyak orang yang menempuh jalan pintas menjadi tokoh terkenal dengan menggunakan salah satu kunci menarik perhatian banyak orang: Kelilingi nama Anda dengan sensasi dan kontroversi. Seorang pelaku bisa mewujudkannya dengan melakukan sesuatu yang berbeda, unik, aneh bahkan tidak lazim atau tidak layak sekalipun. Bagi mereka, tindakan aneh apapun pasti berhasil menarik perhatian. Sebab itu target mereka, menciptakan imej tak terlupakan meski kontroversial.

Setelah memperoleh perhatian, hal yang mereka lakukan adalah tidak membiarkan perhatian itu hilang. Perhatian massa itu akan dirawat sedemikian rupa dan dijaga dengan berbagai perlakuan (treatment). Bila mulai berkurang akan ditingkatkan lagi dengan tindakan lain. Bila terlalu berlebihan dan berpotensi menimbulkan bahaya akan dikurangi dengan tindakan tertentu. Intinya adalah merawat ritme perhatian dan menjaganya tetap berada dalam gelombang yang dikehendaki. Selain mempertahankan perhatian, hal lain yang akan dilakukan pelaku adalah tidak membiarkan perhatian itu beralih ke pihak lain, jika tidak ia akan merugi. Jika pihak lain mendapat perhatian besar mereka akan melancarkan tindakan untuk mengalihkan perhatian massa dari pihak lain tersebut. Lihatlah Barnum, ia menarik perhatian dari para saingannya dengan serakah, karena ia percaya bahwa perhatian adalah komoditas yang berharga di semua lini urusan.

Karena itu, pada permulaan perjalanan ke puncak kekuasaan, seorang pelaku kunci ini akan mengerahkan energi untuk menarik perhatian sebanyak mungkin orang padanya. Kualitas (positif atau negatif) perhatian tidaklah penting, yang terpenting bagi mereka adalah kuantitas perhatian. Lihatlah Barnum, pertunjukannya diulas oleh media dengan buruk, pribadinya diserang sebagai perekayasa sandiwara yang ulung, tapi ia tidak pernah mengeluh. Jika seorang kritikus media mencaci-makinya dengan kejam, ia memastikan akan mengundang pengkritiknya itu dan melayaninya dengan suguhan terbaik. Ia bahkan akan menulis serangan-serangan anonim terhadap dirinya sendiri, hanya agar namanya tetap tercantum di media massa. Barnum di Amerika dan Barnum-Barnum di tempat lain yang menggunakan jurus ini meyakini bahwa: perhatian, entah baik atau buruk, adalah bumbu utama capaian kesuksesan mereka.

Tontonan Masa Kini: Basuki, Pengkhotbah Jakarta

Membaca kisah tentang Barnum di Amerika, mengingatkan penulis dengan sosok Basuki di Jakarta, yang beberapa waktu terakhir menyedot porsi pemberitaan besar di berbagai media massa dan nampak masih akan begitu hingga beberapa waktu ke depan. Ia menjadi pembicaraan aktual di berbagai kanal obrolan warga. Topik tentangnya viral di berbagai sosial media, menyulut tensi diskusi para aktivis, mewarnai senda gurau di warung kopi, menyelinap dalam riuh rendah suara arisan ibu-ibu, bahkan mungkin ikut mengantar para suami isteri dalam obrolan ringan mereka menuju lelapnya peraduan.

Basuki (dan tim) nampak menerapkan jurus kunci para Barnum di atas. Dalam perhelatan pilkada Jakarta, Basuki gencar melakukan berbagai tindakan sensasional untuk menarik perhatian publik guna mensukseskan agenda kampanye. Tindakan yang dilakukan dipilih yang tidak biasa, out of the box, berbeda dari kebiasaan, tidak lazim atau tidak layak bahkan ditempuh yang berbahaya sekalipun.

Saat pemimpin daerah lain memilih bergandengan mesra dengan para legislatornya, Basuki menjalankan jurus konfrontasi terbuka dengan mereka. Saat yang lain menghindari kebijakan yang tidak populis, Basuki nampak gagah berani menjalankan penggusuran, kebijakan yang menjadi momok bagi pemimpin lain karena tidak bersahabat bagi sebagian rakyatnya. Saat pemimpin daerah lain menjalin persahabatan dengan sesama pemimpin yang sedang jadi idola publik, Basuki berani menyerang Walikota kesayangan penduduk kota Surabaya, Tri Rismaharini. Saat pemimpin lain berbaik wajah ke partai politik untuk mendapat dukungan, Basuki bak pemilik tiket utama kemenangan membuang wajah dari mereka dan enggan mengemis dukungan parpol. Saat pemimpin lain berusaha keras untuk bertutur kata santun penuh pemanis, Basuki dengan penuh percaya diri berkata lantang dengan kasar penuh serapah. Basuki bebas berteriak dan bertitah, bak pengkhotbah tiada salah dan dosa.

Setiap tindakan Basuki konsisten menghadirkan kontroversi yang berhasil menyulut perhatian dan pandangan publik. Tidak penting tentang positif atau negatif pandangan publik itu bagi Basuki, yang terpenting adalah publik membicarakan dan menyorotinya. Sorotan itu kemudian dikelola agar terus meningkat dan dijaga berada dalam ritme perbincangan yang menguntungkan. Tatkala sorotan kepada dirinya mulai di luar kontrol dan menunjukkan ritme yang membahayakan, ketika tiba waktunya maka dilancarkanlah treatment pendinginan suasana: pernyataan kekhilafan dan permohonan maaf. Pendinginan itu akan dan lazim dilakukan, tidak peduli jika harus menarik ucapan atau menjilat ludah sendiri.  Basuki dengan apik menjalankan strategi penarik perhatian ala Barnum dalam penerapan terstruktur, terukur, sistematis dan massif dengan sentuhan kekinian. Tidak seperti gaya serangan hatersnya, massif namun sporadis tanpa ukuran.

Berhasilkah Basuki? Nampaknya demikian. Apalagi di tengah masyarakat yang menjunjung tinggi adab keindonesiaan: murah hati memaafkan, mudah melupakan kesalahan dan tidak ragu memberikan kesempatan kedua (ketiga, keempat, dan kesekian kalinya) untuk memperbaiki kekhilafan sang pelaku. Sehingga sang pelaku tak ragu untuk kembali merancang sandiwara lain guna merawat perhatian publik yang sudah didapatkannya.

Bagaimana dengan pesaing? Sandi, Anies dan khususnya kemunculan sosok Agus berhasil memberikan efek kejut yang tak diduga. Perhatian publik kepada mereka mampu menurunkan angka perhatian kepada Basuki. Tidak adakah yang menduga bahwa kemunculan video tak senonoh di tv billboard Jakarta Selatan adalah strategi untuk menurunkan perhatian kepada para pesaing dan menarik kembali perhatian publik kepada Basuki? Meski perhatian itu dalam bentuk pandangan negatif. Ingatlah, kualitas perhatian (positif atau negatif) tidaklah penting, yang terpenting bagi mereka adalah mendapatkan perhatian yang besar. Strategi video itu adalah serangan tak langsung dan kecil kemungkinan Basuki akan melancarkan serangan langsung pada pesaingnya. Karena serangan langsung pada pesaing hanya akan meningkatkan tone perhatian publik yang berarti kampanye gratis bagi para pesaingnya.

Sesungguhnya Basuki sudah banyak terbantu oleh serangan hatersnya. Fenomena serangan haters yang sporadis ini mudah dimanfaatkan oleh Basuki dan tim untuk menghembuskan isu negatif palsu tentang dirinya sendiri. Lalu isu itu digelindingkan ke publik, maka dengan sendirinya para haters yang reaktif akan turut andil besar menyebarkannya, tanpa menyaring lagi kebenaran isu tersebut. Serangan para haters adalah kampanye gratis bagi Basuki, entahlah para real haters sadar atau tidak (karena ada juga haters palsu yang memang bertugas untuk memancing kontroversi).

Cukup sampai disitu? Tidak. Basuki dan tim jeli mengamati bahwa para hatersnya mayoritas berasal dari kalangan Muslim fanatik. Dan tidak sulit untuk menebak tindakan apa yang akan menyulut reaksi perlawanan (perhatian) Muslim fanatik ini terhadapnya. Apa itu? Coba saja sindir aspek mendasar dalam keyakinan agama umat Muslim. Plintir atau hina ayat suci kitab umat Muslim misalnya. Kaum Muslim fanatik sulit untuk mendiamkan hal semacam itu. Karena bagi Muslim fanatik, adalah pelanggaran (kesalahan) bagi mereka jika berdiam diri dan tidak menggugat penghinaan tersebut. Maka saksikanlah, betapa keras reaksi perlawanan yang diterima oleh Basuki.

Menurut analisa saya, Basuki sosok yang lumayan licin -untuk tidak disebut licik- ibarat menembak lantai pantul ke dinding, sekali menembak, dua-tiga target terpancing. Bukan hanya kalangan Muslim fanatik yang menggugat, kalangan umum yang melihat tindakan Basuki itu sebagai hal yang berbahaya pun bereaksi. Maka tercapailah tujuan penghinaan ayat suci tersebut: menyulut reaksi perhatian publik kepada dirinya. Bila reaksi publik mulai di ambang batas bahaya, akan segera didinginkan dengan sandiwara permohonan maaf.

Di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara yang majemuk, berbagai tindakan kontroversi yang dijalankan Basuki itu bisa berakibat fatal. Tindakannya yang (nampak disengaja) menyulut aspek sensitif bagi sebagian besar penduduk adalah tidak tepat dan berbahaya. Hal itu bisa mengancam keberlangsungan hidup bersama penduduk kota yang heterogen. Jadi tidak salah jika banyak pihak yang menganalisa bahwa Basuki sosok yang berpotensi menyulut “perang saudara”.

Saran saya, para pihak khususnya umat Muslim dan pihak-pihak lain yang tidak setuju dengan tindakan-tindakan Basuki, agar tetap mengutamakan persatuan dan kesatuan. Bila harus tetap melaksanakan perlawanan sebagai wujud dari pelaksanaan pembelaan pada agama Anda, maka tempuhlah perlawanan (meski ini berat tapi bisa diupayakan) dengan jalan mengabaikannya. Tahan jari-jemari Anda agar tidak mudah menyebarkan isu tentangnya. Bukan karena tidak memiliki semangat pembelaan terhadap agama atau apalah itu, tapi mengabaikannya adalah salah satu jalan mencegah sosok sepertinya berkuasa kembali. Nasib terburuk di dunia bagi seorang manusia yang mendambakan ketenaran, kejayaan dan tentu kekuasaan adalah diabaikan.

*Surahman Malik (Forum Mata Publik)

Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kontroversi Basuki: Jalan Pintas Menarik Perhatian Publik

  1. Ping balik: KEMENANGAN TRUMP, KEGADUHAN IBUKOTA DAN REAKSI PRIMITIF KITA | JEJAK-JEJAK LANGKAH & PIKIRAN . . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s