INGIN PULANG

chiko jkt 1

Untuk Mamak dan Bapak…

Ini anakmu, yang menangis perdana di gendongan kalian 25 tahun silam.
Anakmu ini ingin pulang.

Tak banyak yang berubah dari anakmu yang ini. Anggota badannya masih lengkap. Organ tubuhnya masih utuh. Mata tetap sipit. Hidung setia dengan peseknya. Kurusnya istiqomah. Dan masih bertahan dengan satu nomor HP yang sama sejak 13 tahun lalu itu, Mak.

Yang berubah, tinggi badannya agak bertambah. Sudah jenggotan, sesekali berkumis (hormon jenggot dan kumis Bapaknya terwarisi). Kulitnya agak lebih cerah kini *muntah*. Temannya yang baik-baik bertambah dan bertambah, Pak. Bertahun-tahun belajar, kini lebih mudah tersenyum dibanding masa yang lalu-lalu. Meskipun itu sesuatu yang masih rada-rada mahal..:D

Ada kerinduan yang membuncah di dadanya. Anak ini ingin pulang. Dan akan pulang secepatnya. Ingin menghambur ke pelukan Mamak dan Bapak. Walau sejenak sebelum merantau lagi. Meski nanti akan ada pelukan wanita yang lain, pelukan Mamak tak kan bisa tergantikan. Berkat doa Mamak dan Bapak-lah, anakmu ini masih Muslim, bisa ngaji, dan bukan teroris.

IMG_2234
Alhamdulillah…

Dini hari – 03.30 Wita

Dipublikasi di Opini | 1 Komentar

Binasa, Sebuah Pesan…

JANGAN KAU BINASAKAN DUNIA DAN AKHIRATMU
KARENA MERANA MENGENANG SEORANG ANAK MANUSIA
[ Hoca Fahri ]
Dipublikasi di Opini | Meninggalkan komentar

Jarak – Hati

 

[JARAK]

AKU TIDAK MENJAUH
TIDAK PULA MENGHINDAR
HANYA BERADA DI LUAR RADAR

BERADA DALAM JANGKAU RADAR
MEMBUATKU SULIT TERJAGA

[ HATI ]

sujie – awal 2016

Dipublikasi di Quotes | Meninggalkan komentar

Meski Kecil, Jangan Remehkan Sebuah Kebaikan

“Boleh jadi, saat engkau tidur terlelap, pintu-pintu langit sedang diketuk oleh puluhan doa kebaikan untukmu, dari seorang fakir yang telah engkau tolong, atau dari orang-orang kelaparan yang telah engkau beri makan, atau dari seorang yang sedih yang telah engkau bahagiakan, atau dari seseorang yang berpapasan denganmu yang telah engkau berikan senyuman, atau dari seorang yang dihimpit kesulitan dan telah engkau lapangkan. Maka… janganlah sekali-sekali engkau meremehkan sebuah kebaikan.” (Ibnul Qayyim Al Jauziyyah)

Dipublikasi di Quotes | Meninggalkan komentar

Tempat yang Nyaman

Assalamu’alaikuum…Setiap orang memiliki tempat-tempat tertentu untuk mencari ketenangan, melepas penat atau untuk menemukan inspirasi. Tempatnya macam-macam. Bisa ke tempat wisata alam yang terpencil, bisa ke mall yang ramai, bisa rumah ibadah yang khusyuk, ada pula diskotik yang ajib-ajib. Macam-macam dan kadang aneh-aneh.

Bagi Muslim, sebaik-baik tempat adalah mesjid. Penuh ketenangan, penuh kedamaian. Di tempat ini semua manusia setara. Tempat ini sumber ilmu, inspirasi dan cahaya peradaban kehidupan yang indah. Karena Islam mengajarkan begitu. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Opini | Meninggalkan komentar

Tentang Amanah

Merasa terbebani dengan pikulan amanah?
Selesai yang satu, muncul yang lain.
Lagi..lagi…dan lagi?

Sesungguhnya amanah itu tidak pernah hilang. Ia hanya berubah dari wujud yang satu ke wujud yang lain. Ia hanya melangkah dari tempat yang satu ke tempat yang lain.

Dirimu lagi-lagi ada dalam daftar pemikul amanah yang beragam tersebut?

Bersyukurlah…
Dirimu mendapat ruang, tempat, dan waktu untuk berbuat kebaikan dengan amanah tersebut.

Bersyukurlah…
Hanya orang-orang amanah yang selalu didatangi amanah,
Hanya orang-orang bertanggungjawab yang selalu didatangi tanggung jawab,
Hanya orang-orang terpercaya yang selalu didatangi kepercayaan.

Tersenyumlah,
Peliharalah dirimu,
Semangatilah dirimu.

#Sujie

Dipublikasi di Opini | Meninggalkan komentar

Tentang Bantuan Pertolongan

Hampir semua di antara kita pernah mengalami masa-masa sulit. Sepeeti saat butuh bayar SPP kuliah tapi uang hampir ada, alias sedang tidak ada. Atau saat kita tertimpa bencana yang menghilangkan harta benda kita, dari awalnya berpunya kini menjadi tak berpunya. Atau yang sederhana saja namun paling mendasar, saat lapar mendera, harus makan, tapi uang hampir ada, alias tidak ada.

Kita sungguh sangat butuh bantuan. Tapi bimbang hendak meminta bantuan kepada siapa. Ada rasa malu, rasa gengsi, rasa sungkan, dan lain-lain yang mengganjal untuk meminta. Lalu tak disangka ada orang yang membantu kita melewati masa-masa sulit tersebut. Ada yang tiba-tiba mengajak makan, mentraktir, di saat yang tepat sekali. Ada yang tiba-tiba memberikan uang untuk bayar SPP. Ada yang tiba-tiba mengirimkan bermacam bantuan kebutuhan di tengah bencana yang menimpa. Bagaimana rasanya? Sulit untuk digambarkan betapa senangnya kita bukan?

Nah kawan, jika saat ini engkau punya kawan atau saudara yang sedang tertimpa kesulitan, sudikah engkau jadi sosok-sosok penolong baginya? Dan saksikanlah ekspresi kebahagiaaan terlukis dengan indah pada wajahnya.

#Sujie

Dipublikasi di Opini | Meninggalkan komentar

Sampai di Sebuah Titik

Sungguh, waktu begitu cepat berjalan. Tak sedikit di antara kita, dalam perjalanan hidup ini, tak pernah menyangka bahwa kaki kita akan sampai pada titik sejauh ini. Termasuk saya pribadi.

Saat dipikir-pikir ulang, pada titik nafas ini masih berhembus, ternyata belum banyak yang telah kita berikan. Saat kita mulai menyusun kembali apa-apa yang kita rasa perlu dilakukan setelah titik ini, kadang kita dihadapkan pada sebuah kenyataan pilihan, kita akan pergi lagi. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Opini | Meninggalkan komentar

“Tentang Mereka dan Tugas Akhir”

Sekeras apapun mahasiswa idealis memegang keyakinannya,

Sekuat apapun mahasiswa kritis mengutarakan argumennya,

Sesibuk apapun mahasiswa aktivis menjalankan kegiatannya,

Sengotot apapun mahasiswa wirausaha memutar bisnisnya,

Sebadung apapun mereka mahasiswa tingkat veteran itu,

Pada akhirnya, karena dan untuk kedua orangtuanya jugalah,
mereka menyelesaikan skripsi.

( …and the next story begin )

*smile*

Dipublikasi di My Story, Quotes | Tag , | Meninggalkan komentar

“Kata Tak Elok Itu Dia Ucapkan Juga”

Kampreeet !!!

Kata itu mengalir deras dengan nada tinggi dari bibir Bumi. Sebuah kata tak elok yang jarang-jarang bahkan seingatnya tidak pernah ia ucapkan selama beberapa tahun terakhir. Pagi itu tiba-tiba meledak di bibirnya. Hanya terucap sekali memang. Namun ia risau bukan kepalang setelahnya.

Kata tak elok itu ia ucapkan tidak kepada seseorang. Tapi pada situasi. Sebuah situasi yang dikarenakan seseorang. Nah..akhirnya harus diakui, kata sampah itu terucap karena seseorang. “Tapi bukan ditujukan untuk seseorang,” ia mencoba menenangkan diri. “Ah…apa bedanya. Sama-sama bertumpu pada objek seseorang,” sisi lain pikirannya beropini. Sampai di sini, itu sudah jadi satu persoalan yang melintas di kepalanya. Biar bagaimana pun juga, kata seperti itu tak layak dan tak seharusnya diucapkan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di My Story | Meninggalkan komentar